20 April 2024
HomeBeritaPariwisataASIDEWI dan Pokdarwis Desa Bahway Mendaki Gunung Pesagi

ASIDEWI dan Pokdarwis Desa Bahway Mendaki Gunung Pesagi

SHNet, Jakarta- Tim Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI) Java-Sumatera Overland 2022 Tahap 2 bersama Pokdarwis Desa Bahway melakukan pendakian sekaligus praktek lapangan pelatihan navigasi digital di Gunung Pesagi, Lampung Barat.

“Sekolah penggerak wisata di Lampung Barat sudah melakukan kegiatan serupa yang kedua kalinya. Ini merupakan program dari ASIDEWI Social Responsibilities. Lokusnya di Desa Wisata Bahway, Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat,” ujar Ketua Umum ASIDEWI Andi Yuwono, di Jakarta, Kamis (1/9).

Gunung Pesagi merupakan salah satu dari 5 Gunung bersejarah yang ada di Provinsi Lampung, Indonesia.

Gunung Pesagi memiliki 2 puncak paling tertinggi di tanah Lampung. Puncak pertama disebut Pesagi Lunik (kecil) dan Pesagi Balak (besar).

Salah satu jalur pendakian ke Gunung Pesagi adalah melalui jalur Desa Bahway, Kecamatan Balik Bukit, berjarak 7 km dari pusat Kota Liwa yang merupakan ibukota dari Kabupaten Lampung Barat.

Desa Bahway berada di kaki gunung Pesagi, gunung tertinggi di provinsi lampung dengan ketinggian 2242 Mdpl.

(Dok. ASIDEWI)

Desa Bahway memiliki jalur pendakian ke Gunung Pesagi. Jalur pendakian tersebut, magnet utama bagi para wisatawan minat khusus dari berbagai daerah.

Desa Bahway mempunyai banyak destinasi wisata, ada camp ground, sunrise point, way rekok water tubing, air terjun batu sejajar, agrowisata, pulau dewa, goa, kuliner, adat budaya, serta kearifan lokal yang masih terjaga dengan baik.

Tim Asidewi Java-Sumatera 2022 Tahap 2 kolaborasi dengan Navigator Indonesia, I – Deru bersama Pokdarwis Desa Bahway berjumlah 18 orang melakukan pendakian pada 18 Agustus lalu.

Tim Asidewi dan Pokdarwis Desa Bahway mempersiapkan logistik dan alat-alat yang diperlukan. Tim lanjut melakukan breafing sebelum berangkat.

Kemudian, tim berangkat menggunakan motor dan tiba di Pintu Rimba jam 11:43 WIB. Sebelum melewati Pintu Rimba Tim melakukan pembagian kelompok agar menghindari kecelakaan, meminimalisir resiko dalam pendakian.

Setelah melewati Pintu Rimba tim sampai di pos 1 jam 14:10 WIB dan beristirahat sejenak setelah melewati jalur yang cukup ekstrim dengan pemandangan yang indah, mereka beristirahat, menikmati alam dengan menyeduh kopi dan teh.

Pukul 16.07 WIB, mereka tiba di pos 2.Di sini, mereka membagi tugas. Ada yang menyiapkan tenda, makan dan mengambil air di sumber mata air yang tempatnya tidak jauh dari pos 2.

Usai makan, tim melakukan evaluasi tentang perjalanan dari pintu rimba. Pemandangan sunset yang indah ditemani kopi dan teh, kemudian istirahat.

Jumat, 19 Agustus, hujan deras, sehingga tim harus menunda perjalanan menuju puncak Pesagi.

(Dok. ASIDEWI)

“Perjalanan ke puncak, jalur yang dilewati menanjak dan licin. Kondisi ini membuat kami agak kesusahan melaluinya. Dengan bantuan tali yang sudah terpasang sebelumnya dan bergelayutan di akar pohon, Kami pun sampai di Pos Penyambungan. Penyambungan adalah punggungan gunung seperti jalan setapak yang sempit di kanan kirinya tebing jurang yang menurun. Disini tidak ada pohon yang tinggi dan lebat sehingga bisa melihat indahnya pemandangan disekitar lereng gunung Pesagi dengan terpaan angin yang cukup kencang,” papar Andi.

Dahulu kala, masyarakat menjadikan tempat ini sebagai tempat sabung ayam yang bertujuan untuk menentukan wilayah kekuasaan.

Tim melanjutkan perjalanan dan tiba di Hutan Lumut. Di tempat ini terdapat terowongan kayu yang dulunya menjadi jalur pendakian.

Banyak sekali pepohonan rindang yang batangnya ditumbuhi lumut. Ada banyak tumbuhan yang bisa tumbuh di sini, yang bisa dijadikan bahan penelitian dan tempat mengabadikan gambar.

Pukul 11:42 WIB, tim sampai di Puncak Gunung Pesagi. Di puncak terdapat tugu dan beberapa bangunan terbuat dari seng yang mengelilingi Tugu tersebut.

Banyak sampah

Kondisi di puncak sangat kotor. Banyak sampah yang ditinggalkan para pendaki.

Melihat kondisi Puncak Pesagi yang tidak indah lagi dipandang dan banyaknya sampah serta coretan vandalisme, tim berinisiatif untuk membersihkan Puncak Pesagi dengan kemampuan dan peralatan yang terbatas.

Setelah melakukan evaluasi, akhirnya tim memutuskan meresmikan Puncak Pesagi Lestari di ketinggian 2234 Mdp sebagai puncak alternatif .

“Alasan kami meresmikan puncak pesagi lestari adalah kondisi puncak pesagi yang sangat kotor yang diakibatkan para pendaki yang bukan dari jalur via Desa Bahway. Serta kita menghormati kearifan lokal di sana yang masih mempercayai bahwa Puncak Pesaagi adalah gunung keramat yang diperuntukan untuk ritual dan tempat berdoa untuk kepentingan tertentu,” papar Andi.

Setiba di pos 2, tim menyiapkan makan siang sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Sesudah makan tim langsung membersihkan area pos 2 dan menyimpan tenda. Tim langsung melanjutkan perjalanan pulang dan sampai di pintu rimba jam 18:00 WIB disambut indahnya sunset. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU