İstanbul escort bayan sivas escort samsun escort bayan sakarya escort Muğla escort Mersin escort Escort malatya Escort konya Kocaeli Escort Kayseri Escort izmir escort bayan hatay bayan escort antep Escort bayan eskişehir escort bayan erzurum escort bayan elazığ escort diyarbakır escort escort bayan Çanakkale Bursa Escort bayan Balıkesir escort aydın Escort Antalya Escort ankara bayan escort Adana Escort bayan

22 February 2024
HomeBeritaBadan Bahasa Akan Rutin Gelar Bedah Buku

Badan Bahasa Akan Rutin Gelar Bedah Buku

SHNet, Jakarta- Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin menyatakan, lembaganya akan terus melakukan acara yang menggairahkan dunia perbukuan dan literasi yakni bedah buku. Kegiatan ini dilakukan secara rutin, baik buku yang ditulis oleh staf Bada Bahasa maupun penulis luar dan berkolaborasi dengan penerbit atau pihak lain yang selama ini punya kepedulian dalam pengembangan buku dan literasi di Tanah Air.

Hafidz Muksin mengungkapkan hal itu ketika memberikan sambutan pada acara bedah buku. Dua buku novel yang  dibedah berjudul  “Second Hope” karya Flara Deviana dan “Lara Rasa” karya Nureesh Vhalega yang diadakan  di Aula Sasadu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, akhir pekan ini. Bedah buku novel ini terselengara atas kerja sama Perpustakaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, bersama Gramedia Pustaka Utama dan Elex Media Komputindo .

Acara tersebut menampilkan narasumber Nureesh Vhalega (penulis), Flara Deviana (penulis), Willy Tasdin (psikolog) dan moderatori oleh Nathalie Indry. Acara bedah buku novel  ini juga diseling hiburan banda nyanyi dari staf Badan Bahasa, lagu yang dinyanyikan pun, masih berkaitan denga nisi dua novel tersebut.

Dalam sesi tanya jawab, hadirin aktif menanyakan sejumlah dari mulai isi vovel, proses kraetif penulis, bahkan bagaimana kesehatan mental yang disinggung itu ikut memengaruhi penulis dan pembaca juga.

Hafidz  Muksin lebih lanjut mengatakan,  kisah dua novel yang dibedah ini  terkait  kesehatan mental  dan ini merupakan salah satu isu yang cukup ramai dibahas beberapa tahun belakangan ini, terutama oleh di kalangan remaja.

“Terbukanya era informasi dan meningkatnya taraf hidup menjadi salah satu alasan kesehatan mental menjadi salah satu perhatian masyarakat masa kini. Hadirnya karya novel yang mengangkat isu ini membantu pembaca untuk dapat menangkap isu ini lebih mudah melalui potret kehidupan sehari-hari yang dialami oleh karakter novel,” paparnya.

Hafidz, lebih lanjut mengatakan, kegiatan bedah buku ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk memperoleh masukan untuk kedua buku yang dibedah. Tidak hanya itu, melalui bedah buku ini, pembicaraan lebih mendalam antara karya sastra dan kesehatan mental dapat membantu pembaca memahami isu kesehatan mental.

Lebih lanjut dikemukakan Hafidz,  bedah buku merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh perpustakaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Tahun 2023 tidak kurang dari 10 kegiatan Bedah Buku sudah diselenggarakan oleh Perpustakaan Badan Bahasa. Menurut rencana tiga bulan ke depan akan digelar acara serupa akan dijadikan rutin triwulanan.

Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin ketika menjawab pertanyaan wartawan di sela-sela bedah buku

Pembicara Hebat

Nureesh Vhalega atau akrab disapa Nui, menulis di lini citylite dengan karakter-karakter perempuan kuat yang didera drama keluarga. Empat dari beberapa novelnya diterbitkan oleh Elex Media Komputindo: Eternal Flame (2015), Take Me for Granted (2018), As Always, I Love… (2020), dan Lara Rasa (2023).

Sementara itu, Flara Deviana telah berkarya selama lima tahun. Telah membuahkan enam novel self-published¸ dan dua novel mayor yang berjudul Second Chance (Gramedia Pustaka Utama, 2020) dan Second Hope (Gramedia Pustaka Utama, 2023). Selain menulis, Flara aktif mengulas buku dan film. Dalam bedah buku itu, Willy Tasdin yang hadir sebagai narasumber dari bidang ilmu psikologi merupakan psikolog klinis dewasa yang berfokus dalam penanganan trauma lewat Art Therapy, dan juga merupakan Vice President di Indonesian Art Therapy Community. Di samping itu, beliau juga aktif mengajar di Universitas Tarumanagara sejak 2016 hingga saat ini. (sur)

 

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU