27 January 2022
HomeOpiniMeutia Hatta: Bangun Sistem Pendidikan Nasional! Bangun World View Indonesia yang Tangguh!

Meutia Hatta: Bangun Sistem Pendidikan Nasional! Bangun World View Indonesia yang Tangguh!

Pengantar

Pendidikan masih menjadi persoalan besar yang belum selesai bagi bangsa Indonesia sampai saat ini. Prof. Dr. Meutia Farida Hatta, putri Proklamator Mohammad Hatta, seorang antropolog menjelaskannya dalam sebuah dialog di bulan Oktober 2021 bersama Menkes RI 2004-2009, Dr. Dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP(K) dalam akun youtube Siti Fadilah Supari Channel.

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009) ini menekankan pentingnya bangsa ini memiliki sebuah world view yang kuat sebagai sebuah bangsa. Sinar Harapan.net mendapatkan ijin memuat percakapan dua tokoh perempuan Indonesia untuk pembaca. (Redaksi)

Siti Fadilah: Bagaimana pembangunan pendidikan untuk menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai orang Indonesia?

Meutia Hatta: Pembangunan pendidikan untuk kehidupan berbangsa dan bernegara perlu disempurnakan, karena tujuan pendidikan harus jelas dan membawa Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang mampu merespon tantangan zaman dengan kekuatannya sendiri, tidak tergantung pada disain dan pinjaman pihak asing.

Untuk menyempurnakan sistem pendidikan nasional kita, untuk memperoleh kehidupan berbangsa dan bernegara yang tangguh bagi Bangsa Indonesia, kita harus melihat ke negara lain dahulu. Kita harus melihat, apa world view mereka? Di mana mereka melihat posisi mereka sebagai negara di tengah pergaulan dunia?

Ada data yang menunjukkan bahwa antara tahun 400-337 sebelum Masehi (yang sekarang juga masih ditelusuri terus waktunya), yang menunjukkan bahwa bagi para pemimpin di kekaisaran dinasti-dinasti di Tiongkok, ada ajaran yang mengedepankan kekuatan (power) dan kesejahteraan (wealth)pada negara melalui suatu sistem administrasi/birokrasi negara. Para pemikir itu disebut para legalis (dalam faham legalisme).

Kita lihat bahwa dalam perjalanan waktu ribuan tahun, dari kekaisaran sampai kepada negara RRT (Republik Rakyat China) sekarang, ada prinsip yang polanya sama: kekayaan dan kejayaan harus dipenuhi karena merupakan keinginan rakyat. Ini juga berkaitan dengan human nature. Namun negara juga melihat rakyat dalam paradoks, sebagai musuh yang harus diwaspadai dan sebagai aset yang diperlukan untuk membangun negara. Birokrasi menurut faham kaum legalist adalah kunci utama karena mereka tidak percaya akan institusi lain di luar birokrasi.

Konsep pemimpin: mewarisi prinsip kekaisaran, pemimpin pucuk adalah yang paling berkuasa, dan semua berada di bawahnya, dari menteri ke bawah. Superioritas penguasa tetap dipegang sampai sekarang.

World view Inggris tentang dunia yang ditanamkan kepada rakyat Inggris adalah bahwa mereka bisa menguasai dunia melalui pelayaran laut mencari daerah-daerah untuk dikuasai. Semboyannya: British Rules The Waves. Dari matahari terbit ke matahari terbit esoknya, mereka berjaya di lautan. Ini menjadi kebanggaan bahwa Inggris menguasai dunia melalui kapal laut yang mereka hasilkan untuk perjalanan di laut dan sungai-sungai besar.

Orang Jerman dengan semboyannya, “Deutshland Uber Alles” menanamkan keyakinan bagi bangsanya bahwa Jerman unggul dari siapa pun dan sanggup menguasai dunia.

Kembali ke Asia, bagimana prinsip Jepang untuk memajukan negaranya? Prinsip Confusian yang mengambil nilai-nilai budaya Tiongkok dan Bushido (semangat bangsa Jepang untuk mengabdi pada negara/kaisar).

Yang membedakan Jepang dengan China adalah proses dan bentuk ketika Jepang melakukan restorasi Meiji, yaitu mengarahkan nilai-nilai itu dalam pranata-pranata modern yang berasal dari barat. Bentuknya yang nyata bisa kita lihat adalah perusahaan-perusahaan internasional Jepang atau bentuk birokrasinya. Kelemahannya ada juga, yaitu nepotisme dan kolusi. Namun kalau melawan bangsa asing, orang Jepang, bersatu padu dan sulit dipecah. Pada tingkatan elit nasional, dari segi ekonomi dan politik, ada nilai nasionalnya yang kuat sekali sehingga sulit bagi bangsa asing untuk mengaturnya.

Ada semboyan dari dua bangsa unggul di Eropa yang saya akan kemukakan di sini: Orang Jerman sering menyatakan “Deutschland uber alles”. Artinya kekuatan negara Jerman berada di mana-mana.

Yang satu lagi, “British rules the waves”. Ini dikaitkan dengan penanaman pemahaman bahwa wilayah jajahan Inggris adalah sejauh yang dijelajahi kapal Inggris, yang pagi ini melihat matahari terbit dan besok paginya juga masih melihat matahari terbit, sementara itu kapal tetap berlayar. Ini adalah semboyan pemberian semangat bagi Bangsa Inggris bahwa merdeka menguasai dunia. Yang jelas, bahasa mereka menjadi bahasa internasional sejak lama dan unggul sebagai bahasa internasional.

Kebesaran Inggris Raya dilandasi oleh perjalanan mereka menguasai daerah-daerah di luar Eropa melalui perdaganngan atau cara-cara lain sehingga menjadi daerah jajahan. Bangsa Inggris berkelana mencapai tujuannya lewat kapal. Ketika pada tahun 2012 diadakan perayaan 60 tahun Ratu Elizabeth II bertahta, Bangsa Inggris merayakannya dengan menunjukkan kekuatan Inggris melalui kapal-kapalnya yang beraneka ragam bentuk dan fungsi, besar dan kecil. Dari yang antik namun masih bisa berlayar hingga yang terbaru saat itu, berbaris berjam-jam melewati Sungai Thames, memberi hormat kepada Ratu Inggris yang juga berada di sebuah kapal kehormatan. Salah satu yang mengesankan, dari salah satu kapal yang berfungsi khusus dalam proses penguasaan wilayah di dunia, komandan kapal mengatakan, “I am proud to be British”, saya bangga menjadi orang Inggris. Sebenarnya, seluruh awak kapal di atas seratusan kapal beraneka ragam dan fungsi itu juga semua proud to be British.

Dari kedua bangsa di Eropa ini saya mau kembali ke Asia. Sebagai dosen, saya mengajar tidak saja mahasiswa Indonesia melainkan juga mahasiswa asing yang kuliah di Universitas Indonesia. Salah satunya adalah mahasiswa Korea. Saya bertanya kepadanya,”Apa landasan dari Sistem Pendidikan Nasional di negara Anda?” Dia mengatakan, “Negara saya tidak memiliki kekayaan alam yang sebanyak Indonesia. Karena itu pemerintah kami menekankan pada penguasaan IPA dan Matematika, karena kami harus menguasai teknologi dan ilmu di bidang cellular”. Saat itu kira-kira pada awal tahun 1990an. Kita lihat sekarang bagaimana Korea berjaya di bidang teknologi digital, sesuai kemajuan zaman. Mereka selalu ikut dalam perkembangan teknologi digital di dunia. Produk-produk mereka tersebar di seluruh dunia, tidak kalah dengan Jepang (waktu itu) dan sekarang juga China.

Dari situ kita harus bertanya kepada kita sendiri, terutama kepada tokoh-tokoh bangsa dan sesama pakar pendidikan Indonesia: apa world view kita sebagai bangsa? Kita memiliki negara yang menjadi wilayah kedaulatan kita, yang telah kita perjuangkan untuk merdeka dan sudah berhasil kita proklamasikan kemerdekaannya. Lalu apa yang harus kita lakukan bagi negara kita dan rakyat kita yang multikultural ini?

Siti Fadilah: Pertanyaan berikutnya, kita ingin bangsa kita menjadi bangsa seperti apa?

Meutia Hatta: Jawabannya tentu adalah bahwa kita ingin Bangsa Indonesia mampu mengatur arah pembangunannya untuk membuat Indonesia menjadi negara besar dan bangsanya tangguh, mampu mandiri, mampu melihat ke masa depan, mampu bekerja keras dan mampu bekerjasama dengan setara dengan bangsa lain untuk kemajuan kedua pihak.

Karena itu kita harus mendisain Sistem Pendidikan Nasional kita untuk menuju apa yang kita harapkan dari bangsa dan negara kita di dalam pergaulan dunia internasional.

Saya mau mengatakan bahwa kita harus membangun Indonesia, rakyat dan negara kita. Selain itu Bangsa Indonesia harus melindungi tanah air beserta aset-aset SDA dan SDMnya. Kita harus menyadari betapa pentingnya persatuan bangsa, apalagi kita hidup di Negara Kepulauan. Kita tidak bisa hidup dalam perpecahan, kita harus tetap bersatu menjaga aset-aset alam kita. Juga memelihara dan merawat aset-aset alam kita dengan mendayagunakan aset-aset SDM kita dengan kearifan budaya masing-masing, untuk memelihara dan merawat tiap ekologi yang terdapat di Indonesia, untuk didayagunakan bagi kepentingan Indonesia.

Dengan demikian, Sistem Pendidikan Nasional kita harus disempurnakan. Kurikulum harus dilengkapi dengan sedikitnya: (1) materi sejarah mengenai terbentuknya Indonesia melalui migrasi di era prehistori dan histori di dalam dan dari luar Kepulauan Nusantara dan Sejarah Mencapai Indonesia Merdeka setelah 3,5 abad mengalami periode kolonialisme, (2) Bahasa Indonesia dalam konteks persatuan Indonesia, (3) Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan nilai dan norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai Bangsa Indonesia, (4) Geografi Indonesia dan SDA Indonesia, (4) SDM dan Pembangunan Karakter Bangsa Indonesia, (5) Perjalanan Pembangunan Nasional Indonesia: Tantangan, Hambatan dan Keberhasilan Pembangunan Nasional.

Selain ini, baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah, harus ada pendidikan sekolah dan pendidikan masyarakat mengenai karakter bangsa Indonesia yang meliputi tatakrama, kebersamaan, saling tolong/gotong-royong, perlindungan antarwarga masyarakat, pembangunan persatuan dalam ruang-ruang lingkup yang berbeda.

Mencerdaskan kehidupan bangsa itu berarti Bangsa Indonesia harus memiliki kehidupan yang cerdas, artinya tanggap lingkungan, mampu mandiri, tangguh, punya prinsip dan tidak minder terhadap bangsa-bangsa lain melainkan mampu merasa setara dengan mereka.

Untuk mencapainya tidak mudah, karena cerdas hidupnya bukan hanya cerdas otaknya (semata-mata faktor biologis) tetapi cerdas lahir batin (sosial, budaya, psikologi). Bangsa kita harus tanggap, tidak rendah diri, dan dididik untuk selalu berpikir ke depan, dan tidak boleh kehilangan jatidiri keindonesiaannya. Sekarang ini kita justru menghilangkan kemampuan Bangsa Indonesia untuk menjadi cerdas hidupnya.

Siti Fadilah: Apa yang harus dilakukan untuk menuju ke situ?

Meutia Hatta: Yang harus dilakukan, kita harus menjadi bangsa yang paling kenal tentang tanah air kita sendiri, sejarah pembentukan negara kita dan menelusuri ke belakang: bagaimana Indonesia bisa mempunyai penduduk yang kini tersebar di seluruh nusantara dan menjadi bangsa yang multikultural?

Selanjutnya, bagaimana kita berjuang mencapai kemerdekaan setelah mengalami 3,5 abad periode kolonialisme? Semua akan terjadi kecuali ada keunggulan dan ketangguhan pada bangsa kita yang sudah dimiliki sejak era prehistori.

Kita harus mulai dari bawah secara sistematis: apa yang harus dilakukan bagi anak-anak, TK dan SD. Apa yang harus dimiliki kelompok remaja. Apa yang harus dimiliki lulusan SMA dan perguruan tinggi. Semuanya berkaitan dengan pendidikan karakter bangsa yang diberikan sesuai tingkat-tingkat usia, untuk menanamkan world view kita yang didasari oleh kebersamaan, kerjasama, tangguh, dan teguh pendirian. Sama seperti halnya bangsa-bangsa maju lainnya di dunia yang memiliki world view masing-masing untuk menjadi bangsa yang maju.

Anak bangsa Indonesia di sekolah juga harus mendapat pelajaran mengenai bagaimana bangsa kita memiliki SDA yang kaya. Juga bagaimana kita setelah merdeka mengisi kemerdekaan itu dengan melaksanakan pembangunan nasional.

Kita juga harus tahu jatidiri Bangsa Indonesia, nilai-nilai budaya unggul yang diterima dari leluhur, Kalau kita tidak tahu asal mula bangsa kita, tidak tahu sejarah pembentukan negara kita, tidak paham tentang perjuangan mencapai kemerdekaan dan membangun demi kemajuan bangsa dan negara, mustahil kita menjadi bangga kepada Indonesia, dan mustahil kita cinta kepada bangsa dan tanah air kita. Bahkan kita tidak cukup paham mengenai cara menjaga, merawat dan membangun demi kemajuan negara kita, NKRI.

Kita harus berani merubah tujuan Sistem Pendidikan Nasional kita apabila tidak sesuai dengan prinsip yang telah ditanamkan pada UUD 1945 mengenai cita-cita nasional, bahwa Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, agar dapat membangun masyarakat yang adil dan makmur.

Ini berarti setiap warganegara memiliki hak yang sama untuk mengenyam pendidikan, untuk menjalankan tugasnya mengisi kemerdekaan Indonesia.
Karena nya pendidikan di sekolah sejak TK atas, harus membuat anak Indonesia siap menjadi pelaku pembangunan yang aktif, inovatif dan kreatif. Mereka tidak hanya harus cerdas otaknya, sehat fisiknya, namun juga memiliki sikap mental yang tangguh, tanggap dan kreatif dalam berperilaku.

Prinsip dari neoliberalisme adalah sama dengan yang terdahulu, yaitu mengutamakan kepentinngannya sendiri secara sepihak, dan menyingkirkan yang lemah. Seperti itulah yang terjadi di negara kita. Pejabat yang mengelola bidang pendidikan yang menghadapi situasi pendidikan dalam sistem neoliberalisme ini mau tidak mau harus berani memilih, tegas menolak atau terpaksa menerima dengan konsekuensi tidak ada kemajuan yang berarti untuk pembangunan pendidikan di negara kita, terutama dalam pendidikan karakter bangsa.

Kita kehilangan jatidiri kita sebagai bangsa Indonesia. Jangankan sejarah nasional, kita tidak pernah diajar, kenapa Patih Gajah Mada melakukan politik persahabatan antara Kerajaan Majapahit dengan kerajaan berakhir menyedihkan. Namun dari berbagai kerajaan di pulau Jawa dan Sumatra, dan lainnya, antara lain melalui perkawinan keluarga keraton Majapahit dengan keluarga kerajaan di Jawa maupun luar Jawa? Memang rencana menikah dengan Dyah Pitaloka putri Raja Pasundan gagal karena ketidakwaspadaan terhadap perbedaan tatakrama di kedua kerajaan. Namun pernikahan antarkeluarga kerajaan adalah persatuan, kebersamaan, kerjasama politik, ekonomi dan sosial-budaya, antara penerus dinasti dan budayanya.

Jadi prinsip kebersaman dan membangun persatuan sebenarnya merupakan world viewdari kerajaan-kerajaan masa lalu di Nusantara. Ini harus didayagunakan sebagai pelajaran mengenai karakter persatuan bangsa yang diemban oleh Sila Ketiga Pancasila.

Kita harus kembali ke jatidiri kita sebagai bangsa yang setara dengan bangsa lain dan itu tidak dapat terjadi kalau kita tidak siap dengan pendidikan karakter bangsa Indonesia.

Belajar dari rumah merupakan solusi di seluruh dunia, tetapi bagi Indonesia, kita harus tetap waspada bahwa itu menimbulkan kemunduran dan masalah. Kita juga bisa melihat bahwa sebagian orangtua tidak siap amenggantikan guru dan kita sering tak menyadarinya, bahwa kurikulum orangtua dan kurikulum anak sekarang sudah berubah. (Web Warouw)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU