23 June 2024
HomeBeritaInternasionalBDS Indonesia Prioritaskan Boikot Produk Perusahaan Terafiliasi Israel

BDS Indonesia Prioritaskan Boikot Produk Perusahaan Terafiliasi Israel

SHNet, Jakarta – Ketua BDS Indonesia, organisasi pionir gerakan global boikot, divestasi dan sanksi untuk Israel, Muhammad Syauqi Hafiz, menyatakan perbedaan daftar boikot produk pro Israel di antara organisasi/penggerak gerakan boikot di level global berlatar pilihan kriteria dan prioritas atau sasaran boikot.

“BDS untuk saat ini memprioritaskan boikot atas korporasi yang terlibat langsung dalam jalannya apartheisme dan pendudukan tanah Palestina di Israel, dengan tujuan agar bisa menghentikan gerak mesin perang Israel,” saat tampil sebagai salah satu pembicara dalam seminar online (webinar) yang digagas Aqsa Working Group, sebuah lembaga nirlaba yang peduli pada isu Palestina, di Jakarta, Senin (27/5).

“Bagi kami, ini waktu perang. Tidak ada kata bermanis-manis lagi. Karena itu yang jadi prioritas boikot BDS adalah brand global semisal penyedia teknologi HP dan perusahaan investasi AXA yang terlibat langsung dalam operasi apartheid dan genosida di Palestina.”

Di sisi lain, kata Syaugi, pada daftar boikot yang misalnya dirilis oleh BdNash dan sejumlah organisasi lainnya, kriteria boikot yang mereka gunakan lebih luas, mencakup perusahaan yang berinvestasi di Israel. Karena itulah, katanya, Danone masuk dalam daftar boikot tersebut.

“Danone dan juga brand lainnya semisal KFC memang tidak masuk dalam daftar boikot BDS sejak awal,” katanya. “Tapi tidak masuk daftar boikot BDS bukan berarti produk tersebut haram diboikot, tidak boleh diboikot atau justru dianggap halal. Sebab kalau kita lihat Danone itu kan investasinya jelas di Israel dan mendukung perekonomian Israel.”

Menurut Syauqi, semua penggagas gerakan boikot berjuang dengan visi yang sama, yakni mensosialisasikan gerakan boikot ke masyarakat luas, baik itu boikot dengan maksud untuk memberikan pesan isolasi pada Israel, pesan bahwa masyarakat Indonesia tak mendukung kebejatan Israel, ataupun boikot untuk menghentikan mesin perang Israel.

Dia juga bilang, gerakan boikot produk perusahaan multinasional yang terafliasi Israel sampai saat ini eksis dan hidup di tengah masyarakat dan jitu menghasilkan efek menyakitkan pada perekonomian Israel.

“Walaupun sekarang gaungnya relatif menurun, tapi faktanya percakapan tentang nama-nama produk pro Israel yang perlu diboikot, atau istilahnya terafiliasi Israel, masih eksis dan hidup di tengah masyarkat. Ini salah satu keberhasilan, penerimaan gerakan boikot pro Israel di tengah masyarakat merata dan meluas dan Israel jelas tersakiti karena itu,” katanya.

Ikut tampil sebagai pembicara dalam webinar yang sama, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, Dr. H. Ikhsan Abdullah, mensinyalir sejumlah perusahaan multinasional asing yang terafiliasi Israel melakukan perlawanan balik atas gerakan boikot di berbagai negara, termasuk di Indonesia, dengan memanfaatkan ketidakseragaman daftar boikot yang beredar luas di tengah masyarakat.

“Perlu ada kesamaan pandang soal ini, sehingga Muslimin tidak ragu mana yang harus diboikot dan mana yang tidak,” katanya.

Ikhsan menyebut gerakan boikot efektif untuk menekan korporasi asing yang pro Israel. Dia menyebut MUI menerima laporan dari berbagai pihak, termasuk sejumlah pimpinan perusahaan asing di Indonesia, yang menyatakan omzet sejumlah brand ternama turun drastis 30-45% kurun tiga pekan pertama sejak merebaknya gerakan boikot.

“Kekuatan gerakan boikot ini dahsyat, tidak bisa diabaikan. Boikot bisa melumpuhkan perekonomian Israel dan Amerika, yang merupakan penyokong utama persenjataan Israel,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa sebenarnya di Indonesia sudah ada lembaga yang secara spesifik mengeluarkan daftar boikot produk pro Israel dan ini bisa jadi rujukan kaum Muslimin. “Yayasan Konsumen Muslim Indonesia (YKMI) yang telah mengeluarkan daftar 10 produk terafiliasi Israel,” katanya. “Daftar boikot YMKI bisa rujukan bersama.”

Ikhsan juga menceritakan gerakan boikot berhasil memberi efek positif pada perekonomian Indonesia. Sejak boikot menggelora pada Oktober 2023, dia bilang banyak warga Muslim yang beralih mengkonsumsi produk lokal, yang berujung pada peningkatan tajam penjualan produk makanan, minuman dan obat-obatan nasional. “Boikot ini jihad bersama kita untuk meningkatkan produk nasional. Produk nasional yang selama ini selalu ‘diawani’ oleh produk nasional, seolah kualitasnya selalu kalah, akhirnya bisa unjuk gigi,” pungkasnya.(Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU