26 February 2024
HomeBeritaMenuju Penurunan Stunting 14% Di 2024, BKKBN: Waspada Terhadap Cara Konsumsi Kental...

Menuju Penurunan Stunting 14% Di 2024, BKKBN: Waspada Terhadap Cara Konsumsi Kental Manis yang tidak Tepat

SHNet, Jakarta – Tak dapat dipungkiri, masih banyak masyarakat yang abai terhadap asupan gizi anak. Alasan ekonomi keluarga, serta pengetahuan keluarga yang minim tentang gizi dinilai menjadi penyebabnya. Maka tidak heran hingga saat ini masih banyak masyarakat yang salah dalam memberikan asupan gizi untuk anak. Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (KOPMAS) menemukan, diantara kesalahan konsumsi makanan dan minuman oleh anak terutama pada masa 1000 HPK adalah konsumsi susu kental manis sebagai minuman susu, kebiasaan konsumsi makanan instan, serta pemberian makanan padat untuk bayi sebelum usia 6 bulan.

Dalam diskusi KOPMAS yang dilaksanakan pada Selasa, 18 Oktober 2022, bertajuk Diskusi Media Nasional “Antara Data & Realita di Lapangan: “Apakah Angka Stunting akan Dapat diturunkan di angka 14% di tahun 2024”, dihadiri oleh Sekjen Kopmas, Yuli Supriaty, Ketua BKKBN, Dr. (HC). dr. Hasto Wardoyo,SP.OG (K)., Komisi IX DPR RI, dr. H. Edy Wuryanto, S.KP., M.Kep., Plt. Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kemenkes dr. Ni Made Diah PLD, MK., Kader Pandeglang, Neneng.

Dalam kesempatan itu, Yuli Supriati memaparkan hasil temuan KOPMAS di beberapa daerah di Indonesia sepanjang tahun 2022. “Hal menarik yang menjadi perhatian KOPMAS adalah klaim-klaim penurunan prevalensi stunting oleh sejumlah daerah, namun apabila kita melihat kondisi riil di lapangan, angka-angka tersebut menjadi tidak logis. Belum lagi bila di adu dengan data-data yang dipegang oleh kader di lapangan, dan bagaimana pola konsumsi keluarga, bagaimana penggunaan susu kental manis, apakah digunakan sebagai bahan tambahan makanan atau dijadikan pengganti susu untuk balita dan anak-anak,” ujar Yuli Supriati.

Ketua BKKBN Dr. (HC). dr. Hasto Wardoyo,SP.OG (K)., mengatakan Air Susu Ibu (ASI) adalah hal-hal yang mutlak diberikan kepada anak hingga usia 6 bulan.”Setelah 6 bulan, harus diberikan MPASI. Jadi yang harus dipersiapkan oleh ibu adalah belajar membuat Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI), namun untuk anak-anak dengan kondisi khusus, dibolehkan minum susu sesuai dengan rekomendasi dokter,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hasto juga mengingatkan untuk waspada terhadap cara konsumsi kental manis yang tidak tepat. “Konsumsi kental manis yang dijadikan minuman susu untuk anak harus selalu diperangi, BKKBN akan lebih banyak lagi memerangi hal hal yang tidak benar,” tegas Hasto.

Senada dengan Hasto, Plt. Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI, dr. Ni Made Diah PLD, MK., mengatakan selain melalui edukasi, Kemenkes juga melakukan pemantauan implementasi dari edukasi tersebut di lapangan.

“Program-program Kemenkes akan diukur oleh indicator keberhasilan. Misalnya terkait pengawasan makanan anak, kita lihat persentase bayi memmperoleh ASI ekslusif. Pada masa MPASI, dipastikan apakah mengandung karbohidtrat, protein, dan yang pasti tidak ada susu kental manisnya. Kader-kader kesehatan harus memonitor itu,” jelas Diah.

Diah juga menegaskan, Kemenkes bersama BPOM juga telah mengumumkan bahwa susu kental manis bukan merupakan golongan susu untuk mengantisipasi agar masyarakat tidak salah memilih susu dalam memberikan MPASI untuk anak. Dengan demikian, upaya-upaya pencegahan stunting dapat dioptimalkan untuk mengejar target penurunan stunting.

Sebagaimana diketahui, permasalahan Stunting dan gizi buruk di Indonesia menjadi Pekerjaan Rumah yang belum dapat diatasi, dimana angka stunting masih cukup tinggi yaitu sekitar 24 persen lebih. Pemerintah menunjuk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai pelaksana perecepatan penurunan angka stunting nasional dengan target penurunan menjadi 14 persen di tahun 2024. (sbr)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU