22 October 2021
HomeBeritaPolitikBung Karno Sang Penggali Pancasila, Meninggal Dikucilkan Soeharto Di Blitar

Bung Karno Sang Penggali Pancasila, Meninggal Dikucilkan Soeharto Di Blitar

JAKARTA- Setelah dikudeta, kemudian berstatus tahanan rumah dan mengalami sakit, Proklamator dan Presiden RI Pertama, Ir. Soekarno akhirnya meninggal dunia pada 21 Juni 1970 di Jakarta. Karena ketakutan terhadap karisma dan simpati rakyat pada Soekarno, Soeharto memerintahkan agar Bung Karno dikubur di Blitar, Jawa Timur. Hal ini disampaikan Sukmawati Soekarnoputri, putri Proklamator Kemerdekaan RI dalam wawancara di akun youtube https://youtu.be/QJOPdP_NVFM yang diunggah RKN dan dikutip Bergelora.com di Jakarta, Senin (11/10).

“Sampai setelah meninggalnyapun Bung Karno dikucilkan dikubur di Blitar,” jelasnya.

Padahal menurut Sukmawati, wasiat Bung Karno menginginkan dirinya dimakamkan di halaman rumah sendiri di Bogor.

“Pemerintah kan seharusnya memakamkan Bung Karno di TMP Kalibata. Tapi Soeharto gak mau. Karena kalau ada tamu internasional datang kan bisa memberi karangan bunga ke makamnya Soekarno,” katanya.

Proklamator RI ini menurutnya dikucilkan dikubur di Blitar agar tidak ada orang yang berkeinginan menaburkan bunga di makam Bung Karno.

“Namum demikian tetap saja orang berbus-bus datang mengantar Bung Karno ke Blitar di Jawa Timur,” kenangnya.

Sempat Ke RSPAD Gatot Subroto

Sebelum meninggal tepatnya 21 Juni 1970, Soekarno sempat dilarikan ke RSPAD Gatot Soebaroto dari tempat tahanan rumahnya, di Wisma Yaso, pada 16 Juni 1970. Soekarno dibawa ke RSPAD karena kondisinya yang menurun.

Praklamator Kemeredekaan itu ditempatkan di sebuah kamar yang berpenjagaan berlapis di lorong rumah sakit. Pada 20 Juni 1970 sekitar pukul 20.30 WIB, kondisi Soekarno memburuk.

Soekarno pun mengalami koma. Mahar Mardjono, dokter yang menangani Soekarno tampaknya sudah mahfum apa yang sedang terjadi. Mahar kemudian menghubungi anak-anak Soekarno.

Mereka pun berkumpul di RSPAD Gatot Soebroto pada Minggu, 21 Juni 1970, pukul 06.30 WIB.

Mereka yang datang saat itu adalah Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Sukmawati, Guruh dan Rachmawati.

Pukul 07.00 WIB, dokter Mahar membuka pintu kamar. Anak-anak Soekarno masuk ke kamar perawatan, dan mengajukan sejumlah pertanyaan ke dokter Mahar. Meski demikian, dokter Mahar tak menjawabnya.

Ia hanya menggelengkan kepala. Beberapa saat kemudian, suster mencabut selang makanan, dan alat bantu pernapasan.

Anak-anak Soekarno kemudian mengucapkan takbir. Megawati membisikkan kalimat syahadat ke telinga Soekarno.

Soekarno yang masih bisa mendengar ucapan Megawati, berusaha mengikutinya. Namun, kalimat yang diucapkan Soekarno tak selesai.

“Allaaah…,” ucap Soekarno lirih seiring napasnya yang terakhir.

Tangis keluarga pun pecah. Soekarno meninggal pada pukul 07.07 WIB. Bapak pendiri bangsa Indonesia itupun pergi meninggalkan rakyatnya yang kemudian hidup dibawah kediktaroran Orde Baru Soeharto.

Kekuasaan diktaktor Soeharto dan Orde Barunya berakhir setelah gerakan rakyat yang dipelopori mahasisa berhasil mendesaknya mundur pada 21 Mei 1998. Sekuat Soeharto mempertahankan kekuasaannya, justru semakin memperluas dan memperkuat perlawanan terhadap kediktaktorannya.

Ir. Soekarno, proklamator dan Presiden RI pertama yang dicintai rakyat hanya bisa dijatuhkan lewat kudeta militer. Jenderal Soeharto, diktaktor kejam, dijatuhkan oleh gerakan rakyat. (Web Warouw)

ARTIKEL TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU