12 April 2024
HomeBeritaCatatan Sepakbola, Soal Naturalisasi, Untuk dan Demi Merah-Putih (Bagian II)

Catatan Sepakbola, Soal Naturalisasi, Untuk dan Demi Merah-Putih (Bagian II)

Oleh : M. Nigara

Saya hormat dan respek pada mereka. Apa pun juga mereka yang sudah dan berjuang di lapangan. Namun sekedar mengingatkan, dunia saat ini sudah tidak memiliki batas.

Begitu pula sahabat-sahabat seprofesi. Saya pun mengingatkan, saat ini tugas sebagai wartawan, tidak melulu ada di depan kita. Jika tahun 1970, Piala Dunia di Meksiko, kita hanya bisa melihat tiga pertandingan yang disajikan TVRI, pembukaan, satu partai semifinal, dan partai final, lalu media cetak baru melaporkan secara rinci jauh setelah piala dunianya selesai dan wartawannya kembali ke tanah air, sekarang semua on the some time.

Jerman
Artinya, perubahan dahsyat telah terjadi begitu rupa. Jika kita ingin tetap dengan pola yang sama, maka kita akan tertinggal jauh sekali.

Sekedar memberikan gambaran, Jerman juara dunia 4 kali, 1954, 2974, 1990, dan 2014, saat ini tidak bisa lagi menutup diri. Jika 2014, Mesut Ozil pemain asal Turki masih sering dilecehkan, kini, meski tetap belum 100 persen penggila bola dan rakyat Jerman setuju, tapi Deutscher Fussball Bund (DFB), PSSInya Jerman telah sungguh-sungguh membuka diri.

Sedikitnya 10 pemain, 6 kulit hitam, 4 putih, ada dalam barisan tim berbintang 4 (tanda juara dunia) di dada itu. Bahkan kapten timnasnya adalah Likay Gundang (campuran Jerman-Turki), lalu Emre Can, juga berdarah Jetman-Turki. Aleksandar Pavlovic, murni imigran Serbia.

Selebihnya berdarah Jerman-Afrika: Felix Nmecha dan Jamal Musiala (Nigeria), Malick Thiaw (Mali), Thilo Kehrer (Burundi), Jonathan Tah dan Serge Gnabry (Pantai Gading), serta Leroy Sane, ibunya peraih medali perunggu Olimpiade 1984 dan ayahnya mantan pemain sepakbola nasional Senegal.

Jika Jerman yang sudah empat kali menjadi juata dunia, lalu pernah memiliki bintang-bintang top dunia, tidak ragu menggunakan para pemain leturunan, kita ini siapa kok mau membatasi diri?

Sekali lagi, saya tetap menghormati mereka yang berbeda pendapat, karena perbedaan pendapat itu adalah hal yang biasa. Yang tidak kita inginkan, perbedaan itu membawa kita dalam permusuhan.

Al-imam Bukhari Rahimahullahu berkata: “Telah menceritakan kepada kami, Abdullah bin Maslamah, dari Malik, dari Humaid Ath-Yhowik, dati Anas bin Malik, ia berkata: “Kami pernah bepergian bersama Nabi shallahu ‘alaihi wasallam, yang berpuasa tidak mencela yang berbuka dan yang berbuk tidak pula mencela yang berpuasa,” (HR: Bukhari 1811).

Semoga bermanfaat…..

(Penulis adalah wartawan senior sepakbola)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU