20 May 2024
HomeBeritaDilema Shin Tae-yong di Delapan Besar

Dilema Shin Tae-yong di Delapan Besar

SHNet, Jakarta – Nanti malam atau Jumat dini hari (26/4) Garuda Muda Indonesia menghadapi tim unggulan Korea Selatan (Korsel) dalam babak gugur atau delapan besar Piala Asia U – 23 di Qatar.

Tentu partai ini sangat ditunggu-tunggu hasilnya oleh pecinta sepakbola di seantero Indonesia. Apakah tim yang ditukangi Pelatih asal Korsel, Shin Tae-yong yang akrab disapa STY akan membuat kejutan menjungkalkan atau memulangkan Tim Negara asal STY, timnas Korsel atau Rizky Ridho dkk, terhenti di babak ini yang sudah memenuhi target PSSI?

Yang pasti kejutan demi kejutan sudah ditunaikan Garuda Muda Indonesia, sebagai debutan dan tidak diunggulkan di ajang sepakbola yang bermuara ke Olimpiade 2024 di Paris.

Buktinya, tim tangguh Australia harus menerima malu dikalahkan 1-0, kemudian tim ranking 70-an FIFA, Yordania dihadapan penontonnya dibantai 4-1 pada babak penyisihan grup. Lalu akankah Korsel menyusul kedua tim tersebut?

Tentu peluang itu selalu ada sekecil apapun. Apalagi melihat penampilan, Marselino, Witan, Ernando Ari, Justin Hubner, Ivar Jenner dkk, semakin membaik dan meningkat dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya.

Grafik penampilan sudah lumayan bagus, kepercayaan diri para pemain makin tinggi, motivasi juga membuncah pasca hasil babak penyisihan dan memenuhi target serta mencetak sejarah.

Tak lupa pula dukungan penonton Indonesia yang memenuhi sebagian stadion tempat pertandingan. Sehingga seolah olah Rizky Ridho dkk bermain di kandang negara sendiri.

Kondisi-kondisi non tehnis ini menjadi modal penyemangat para pemain untuk tampil maksimal. Selain tentunya soal ramuan strategi dan taktik yang jitu dari Sang Arsitek STY.

Soal tehnik individu pemain, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Para pemain saling melengkapi sehingga menjadi kekuatan, kesolidan dan kekompakan sebagai sebuah tim.

Namun tim yang dihadapi bukan tim kaleng-kaleng. Dalam babak penyisihan Grup B, Korsel menyabet nilai 9, artinya tiga pertandingan yang dilakoninya seluruhnya dimenangkan oleh tim yang dilatih Hwang Sun -hon.

Pelatih yang berkawan baik dengan STY ini karena sama-sama pemain di klub-klub Korsel ini memiliki segudang prestasi dalam karir kepelatihan, diantaranya menghantar FC Seoul juara liga Korea tahun 2016 dan di timnas Korsel menghantar negara itu ketangga juara Asian Games 2022.

Sun-hon menyertai 23 pemain berlaga di Qatar. Dua pemain yang merumput di klub luar negeri, Jeong Sang-bin (Minnesota United ) dan Kim min-woo( Fortuna Dusseldorf).

Selain itu timnas yang dijuluki Taegeuk Warrios memiliki sejumlah pemain yang berbahaya, diantaranya penyerang Lee Young-jun yang berusia 20 tahun.

Pemain klub Gimcheon Sangmu, bakal mengobrak abrik tembok pertahanan yang digalang Rizky Ridho, Ivar Jenner, Justin Hubner di jantung pertahanan.

Lee dibantu gelandang yang tak kalah berbahaya, Jeong Sang-bin, Kim Min -woo, Kang Sang-yoon. Menghadapi gempuran pemain2 Korsel yang cepat kadang memanfaatkan lebar lapangan, Marcelino, Witan, Natan dan pemain jangkar, Justin Hubner sebagai pelapis pertahanan harus bekerja keras dibantu dua wing bek Fajar, dan Pratama Arhan, sehingga Ernando lebih mantap berada dibawah mista.

Ketika gempuran pemain pemain Korsel dipatahkan, serangan balik cepat bola langsung dilambungkan ke depan dimana Struick atau Sananta sudah menunggu untuk melakukan manuver cepat dan ekplosif ke jantung pertahanan Korsel.

Kali ini Natan, Marcelino, Witan dan Hubner sebagai penghubung antara lini pertahanan dan lini depan harus bekerja ekstra keras.

Peran mereka cukup vital dalam membendung gempuran lawan dan membangun serangan ke daerah lawan.

Namun terlepas dari itu Sang Pelatih Shin Tae-yong lebih memahami kondisi timnas Korsel, baik kelemahan dan kelebihannya karena STY juga pernah membesut timnas negara asalnya, menghantar timnas kebabak delapan besar Olimpiade 2016 dan tim senior Piala Dunia 2018, mengalahkan Jerman 2-0.

Pola permainan Korsel itu patronnya hampir sama dari masa ke masa, karena basic pembinaanya dari yunior sampe senior, patronya sama. Jadi STY sudah hatam betul kelebihan dan keleman timnas Korsel secara tim.

Kemudian dia meramu taktik dan strategi yang jitu dan diterapkan pemain dengan penuh disiplin di lapangan.

Oleh karena itu, secara psikologis, di partai babak 8 besar ini, STY mengalami dilema. Satu sisi harus menghadapi negara asal dan kelahirannya di sisi lain, STY sebagai profesional harus menghantar Timnas Indonesia memenangkan pertandingan ini sehingga dapat memenuhi tekadnya untuk menggegam salah satu tiket ke Olimpiade 2024 di Paris.

Pelatih Timnas Korsel, Hwang Sun-hon mengakui bahwa saat ini Timnas Indonesia U-23 bukan tim yang mudah dikalahkan.

” Mereka tim yang amat bagus. Kami harus waspada. Pertandingan sesungguhnya dimulai saat ini. Indonesia bukanlah tim yang mudah, ” ujar Pelatih berusia 55 tahun itu. (Eddy Lahengko)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU