20 May 2024
HomeBeritaDirjen Binmas Budha Kemenag RI Mengaku Tak Mengetahui Kasus yang Menjerat Biksuni...

Dirjen Binmas Budha Kemenag RI Mengaku Tak Mengetahui Kasus yang Menjerat Biksuni Eva

SHNet, Jakarta – Dirjen Bimas Budha Kementerian Agama RI, Supriadi menyatakan tidak mengetahui persis dan jelas kasus yang menimpa Biksuni Eva dalam kasus memberikan keterangan Palsu yang kini tengah di persidangkan di PN Jakarta Utara itu.

” Silahkan saja untuk segera dipatuhi proses hukum yang tengah berjalan itu. Tapi yang jelas, saya baru dengar adanya seorang Biksuni terlibat kasus ini ya, ” kata Supriadi kepada wartawan di TMP Kalibata, Minggu (5/5/2024).

Pun diketahui, kasus Tindakan Pidana Menyuruh Menempatkan keterangan Palsu ke dalam Akta Otentik yang melibatkan seorang Biksuni /Biksu Wanita Eva Jauwan dari Vihara Dharma Suci Pantai Indah Kapuk (PIK) Jakarta Utara ditetapkan sebagai tersangka November 2023 dan kini sudah tengah dipersidangkan di PN Jakarta Utara.

Kembali dikatakan Dirjen Bimas Kementrian Agama RI, Supriadi, sebaiknya Biksuni ini mengikuti aturan hukum yang tengah berjalan.
” Ikuti saja aturan hukum yang tengah berjalan, ” kata Supriadi lagi.

Sementara itu dalam kesempatan terpisah, Bhante Bodhi Wijaya Ng Jagarapanno yang sudah 22 tahun menjadi Banthe, membantah keras bahwa sangat tidak mungkin seorang Dirjen Bimas Kemenag RI tidak mengetahui dengan jelas kasus yang tengah membelit Biksuni Eva persoalan hukum.

“Bohong itu, bagaimana mungkin tidak mengetahuinya adanya kasus yang menimpa Biksuni Eva Ini, ” tegas Bhante Bodhi dalam kesempatan yang sama.

Kembali dikatakan Bhante Bodhi Wijaya Ng Jagarapanno, dengan adanya kasus yang menjerat Biksuni Eva ini telah mencoreng para Biksu yang ada melalui Uniform atau Jubah agama Budha.

“Bagaimana itu, seorang rohaniawati Budha terlibat dalam kasus hukum adalah yang tidak diperbolehkan. Di Indonesia, aturan itu sudah sangat jelas seorang rohaniawati tidak boleh terlibat dalam kasus hukum, ” kata Bhante Bodhy lagi.

Kembali dijelaskan Bhante Bodhi menegaskan bahwa hal yang utama adalah bikuni tersebut harus melepas uniformnya dan menghentikan status biksuninya sehingga dapat mengikuti proses hukum dengan baik.

“Ini sudah tidak benar jika seorang rohaniawan yang sudah dinyatakan sebagai Tersangka masih menggunakan uniform atau jubah agamanya di kantor polisi, apalagi saat menghadiri persidangan di pengadilan, hal ini harus dicegah dengan segala cara dan pemerintah harus turun tangan untuk mengawal kasus ini.” tegasnya.

Bhante Bodhi juga menekankan pentingnya intervensi dari Kementerian Agama Buddha untuk menjaga integritas agama Buddha dari cemaran nama baik dalam kasus ini.

Menurut informasi yang diberikan oleh Bhante Bodhi bikuni tersebut berasal dari aliran Mahayana yang langsung dari Taiwan dan terdaftar di Kementerian Agama.

“Dalam kasus ini pemerintah harus mengintervensi masalah ini dan memastikan bahwa aturan berpakaian rohaniawan diikuti dengan benar, terlepas dari aliran atau sekte agama, karena saya mengingatkan bahwa ajaran agama Buddha menekankan pentingnya cinta kasih dan menjaga hati orang lain, sehingga tindakan seperti menggunakan uniform agama dalam konteks hukum adalah suatu pelanggaran yang serius.” jelasnya.

Bhante Bodhi menegaskan bahwa ia akan terus melakukan intervensi dalam kasus ini selama bikuni tersebut masih menggunakan uniform atau jubah agama Buddha.

“Saya berharap agar masyarakat memberikan pandangan yang baik terhadap penyelesaian masalah ini, sementara pihak Kementerian Agama Buddha diharapkan turun tangan untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik.” harapnya.

Bhante Bodhi menyimpulkan bahwa tindakan seperti menggunakan atribut agama untuk kepentingan pribadi akan merusak nama baik agama Buddha secara keseluruhan, dan hal ini harus dicegah dengan tegas. (mayhan)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU