27 March 2023
HomeBeritaDokter Tony Bikin IDI "Kebakaran Jenggot"

Dokter Tony Bikin IDI “Kebakaran Jenggot”

Jakarta-Komentar Dokter Tony Setiobudi melalui media sosial ternyata membuat Ikatan Dokter Indonesia “kebakaran jenggot”. Dokter Tony menyoroti berbagai kebijakan di bidang kedokteran, terutama dominasi organisasi profesi yangย  cenderung menghambat perkembangan dunia kesehatan nasional. Selain itu, Dokter Tony juga menyoroti organisasi profesi kedoktreran di Indonesia.

Kritikan ini rupanya membuat IDI “kebakaran jenggot” sehingga menyurati Presiden Singapore Medical Council (SMA).

Hal itu berdasarkan surat IDI kepada Singapore Medical Council (SMA) yang diperoleh redaksi karena beredar di grup media sosial pada Senin (27/2/2023).

Sesuai surat IDI yang beredar di beberapa grup media sosial, Surat IDI itu diteken Ketua Umum IDI Mohammad Adib Khumaidi , MD tertanggal 4 Januari 2023., dengan Nomor: 2341.PB/0000.SMA/01/2023, yang ditujukan kepada Presiden SMA Dr. Tan Yia Swam.

Surat itu, antara lain, menganggap Dokter Tony melakukan fitnah kepada organisasi medis Indonesia dan mencampuri kebijakan kesehatan Indonesia.

Untuk itu, IDI meminta agar Dokter Tony diberikan ganjaran. Namun, IDI juga terbuka untuk berdialog dengan SMA dan Dokter Tony.

Dokter Tony pernah menyoroti adanya organisasi profesi kedokteran Indonesia yang menghalangi upaya pemerintah Indonesia memperbaiki sistem kesehatan di Indonesia.

Selain itu, Dokter Tony juga sangat kritis terhadap sistem kesehatan di Indonesia. Apalagi, sorotan ini mendapat publikasi dari media ternama Singapore The Strait Times.

Di kesempatan lain, Dokter Tony juga menyoroti diskriminasi yang terjadi karena ada organisasi yang sangat berkuasa untuk menentukan siapa yang boleh praktik dan siapa tidak boleh.

Dia juga menyoroti organisasi profesi yang menolak omnibuslaw dengan berbagai alasan, meski sebenarnya sekadar melanggengkan kekuasaan.

Tony Setiobudi adalah seorang ahli bedah ortopedi di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura.

Dia menyelesaikan gelar sarjananya di Universitas Flinders di Adelaide, Australia Selatan. Kemudian melanjutkan pendidikan di Royal College of Surgeons of Edinburgh, Inggris dalam bedah ortopedi. Selain itu, dia juga melanjutkan pendidikan di Brisbane, Australia.
Saat ini, dr. Tony adalah dosen senior klinis di National University of Singapore. Pada 2015, ia menerima Long Service Award.(den)

ARTIKEL TERKAIT

22 COMMENTS

  1. IDI Ngga mau dikritik , yo wis podo wae karo rezim? โœŒโœŒ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ™๐Ÿ™โœŒโœŒ

  2. Benar pendapat dr Tony itu, dan IDI memang anti kritik dan tidak mau memperbaiki diri. Wajar banyak pasien berobat ke LN.

  3. idi..dibubarin aja…gak pernah mau di update…dokter2 tua, yg sok ngelmu…ilmu baru paling anti…bnyak dokter jenius pada lari dr indonesia….gimana pak presiden…yg satu ini profesi 2 ketinggalan milenium….klu lg praktek, cuma tanya2 dr jarak 2 m, trus tulis obat…pasienya dlm 6 jam 100 lebih….korupsi yg imajiner

  4. Bubarkan saja IDI tidak ada efek positif bagi WNI
    Bila ada masalah lempar sembunyi tangan.
    Bila masalah sudah selesai baru pada pasang badan

  5. IDI berada di zona nyaman ya. anti kritik. gmana mau maju kesehatan di Indonesia.

    mentang mentang diberi taring berupa kewenangan mengeluarkan rekom SIP, pengurusnya suka menghambat pengajuan SIP dokter. Sadarlah wahai pengurus IDI. taubatlah.

  6. Iya betul..
    Contoh saja temuan2 dr terawan di hambat dan tdk diakui.
    Jadi gimana dunia kedokteran Indonesia mau maju kalau ada yg lebih pintar langsung di hajar dan di pojokkan.
    Harusnya undang2 yg memberi kekuasaan ke IDI harus dirubah

  7. Khan mmg begitu..itu yg pak Menkes ungkapkan dalam berbagai kesempatan.IDI pun juga mulai mereformasi diri ..rasanya baru menkes yg sekarang sangat rasional dan terbebas dari belenggu dan konflik kepentingan baik pribadi ataupun organisasi ..terus berjuang utk dunia kesehatan yg lebih baik pak Menkes …

  8. IDI menghambat kemajuan bidang kesehatan di Indonesia. Biaya berobat mahal, terobosan kesehatan sulit dilakukan, karir dokter sulit naik,izin praktek dimonopoli, dst…

  9. Kok dr. Tony dianggap dokter asing, lah dia kan orang Indonesia cuma kebetulan studi di Aussie & Inggris, dan kerja di Singapore. IDI sebaiknya jangan anti kritik, itu ciri2 organisasi yang tidak mau direformasi atau mereformasi diri.

  10. Bongkar terus klo memang ada yg tdk beres dng penanganan birokrasi kedokteran di Indonesia,sebabakan sangat berpengaruh dng kesehatan rakyat .
    Mana organisasi profesi kedoktereran yg baru ,apa masih berjalan atau mlh melempem. Jangan biarkan IDI berjalan sendiri dan menguasai kedokteran kita dng seenaknya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU