25 February 2024
HomeBeritaEkonomi Tropis dan Tantangan Berkelanjutan di ASEAN

Ekonomi Tropis dan Tantangan Berkelanjutan di ASEAN

Jakarta-Praktik berkelanjutan menjadi semakin penting dalam praktik sosial seiring dengan isu perubahan iklim tetapi lebih dari itu, ia menjadi semakin penting karena praktik ekonomi dan sosial selama ini telah mengabaikan keseimbangan sosial, ekonomi dan lingkungan. Padahal konon ekonomi mengatakan bahwa sosial adalah equilibrium (keseimbangan). Praktik yang ada telah menyebabkan kerusakan alam dan kenaikan temperatur global yang pada akhirnya memerlihatkan ketidakseimbangan dan kemerosotan pendapatan.

Hal itu terungkap dalam workshop internasional dalam rangka publikasi buku bekerjasama dengan Institute Asia-Eropa, Universiti Malaya yang digelar Pusat Kajian (PUSKA) Pembangunan Berkelanjutan dan Strategis (Strategic and Sustainable Development Research Center), Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) di Jakarta, pada tanggal 15-17 November 2023.

Kegiatan ini diselenggarakan juga dengan bekerjasama dengan Gabungan Pengusaha Kepala Sawit Indonesia (GAPKI), Bank KB BUKOPIN dan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Dalam workshop dengan tema “Problematizing Sustainable Agriculture and Food Security in Southeast Asia“ tersebut dihadiri para peneliti berbagai bidang ekonom, insinyur, hukum dan sosial, dosen dan profesor dari 11 negara anggota ASEAN yaitu Prof Anter Venus (Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta), Prof Rajah Rasiah (Universiti Malaya, Malaysia), Prof Rene Ofreno (University of Philippines, Filipina), Prof Jerry Cournivanos (Federation University Australia, Timor Leste/Australia), Prof Ahmed Osumanu H (Universiti Islam Sultan Sharif Ali, Brunei Darusalam), Dr Charoenrat Teerawat (Khon Kaen University, Thailand), Dr Fadhil Hasan (UPNVJ), Dr Dianwicaksih Arieftiara (UPNVJ), Dr Fachru Nofrian (UPNVJ), Dr Annizah (Universiti Malaya), Dr Latdavanh (Laos Government), Elyssa Kaur Laudher (ISEAS Yusof Ishak, Singapura), Dr Bach Tan Sinh (Vietnam National University), Naw Shareen (Myanmar), Kum Kim (Svay Rieng University, Kamboja). Selain itu, workshop dihadiri oleh tim dari Pusat Kajian SSD dan Institut Asia-Eropah, Malaysia.

Sebagaimana diterapkan oleh berbagai negara termasuk negara ASEAN, bukan secara kebetulan negara-negara tersebut memiliki kesamaan yaitu paling tidak sama-sama memiliki iklim yang sama yaitu iklim tropis. Sekian lama diabaikan, mungkin sekarang waktunya kita kembali kepada ekonomi tropis yaitu ekonomi dimana “udang dan ikan menghampirimu” dan “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”.

Ekonomi tropis membahas semua mulai dari padi hingga sagu, mulai dari ikan kembung hingga ikan tuna, dan mulai dari air hingga matahari, dan mulai dari kambing hingga barang tambang. Bukan kebetulan jika kemudian sektor ini memberikan kontribusi kepada ketahanan dan kedaulatan pangan yang sekarang ini juga menjadi semakin penting. Untuk itu, tidak salah jika ada keterkaitan antara sektor pertanian dan ketahanan pangan. Logikanya, jika sektor pertanian memiliki kinerja yang baik, maka ketahanan pangan akan tercapai. Namun demikian, ada banyak faktor tentunya yang turut memengaruhi ketahanan pangan. Iklim, pertanian dan makanan adalah wujud nyata dari perekonomian termasuk sosial di dalamnya. Pada kenyataannya, segudang kekayaan alam itu masyarakat ASEAN sebagian besar masih memiliki banyak keterbatasan terhadap akses produk-produk tersebut.

Para peneliti memaparkan kondisi perkembangan pembangunan sektor pertanian, ketahanan pangan dan tantangan keberlanjutan di masing-masing negara. Meskipun ada kesamaan, namun setiap negara memiliki tantangan yang berbeda dalam rangka ekonomi berkelanjutan dan ketahanan pangan.

Misalnya saja di Myanmar, negara ini memiliki kerentanan seperti bencana alam yang sering terjadi termasuk banjir. Meskipun Myanmar memiliki lahan yang subur, namun sayangnya kinerja ekonomi pertaniannya masih rendah sehingga kesempatan kerja di sektor ini juga mengalami pelambatan. Di Malaysia, sektor pertanian mengalami pelambatan, sedangkan konsumsi lebih besar dibandingkan produksinya. Secara jangka panjang, kesempatan kerja cenderung mengalami pelambatan, sebagaimana yang dihadapi juga oleh Indonesia dan Filipina. Lebih lanjut, Filipina mengalami tendensi 6impor pangan dan deregulasi sektor pangan yang menandakan tren liberalisasi di negara tersebut.

Apa yang terjadi di Thailand mungkin sedikit berbeda, karena meskipun mengalami industrialisasi tetapi sektor pertanian tetap memiliki peran yang penting terhadap perekonomian dan menyerap hingga sepertiga kesempatan kerja. Selain itu, Vietnam juga mengalami tren yang sama yaitu pelambatan share sektor pertanian dan kesempatan kerja. Pelambatan tersebut menandakan adanya shift namun sayangnya tidak semua negara mengalami pergeseran kepada sektor manufaktur yang menjelaskan bahwa sebagian besar tidak mengalami industrialisasi. Tentu hal tersebut agak berat untuk mencapai ketahanan pangan dan keberlanjutan. Di sisi lain, Singapura sudah mengembangkan teknologi untuk penerapan makanan biologis.

Agenda tersebut dilanjutkan dengan visiting profesor di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) dengan menghadirkan Prof Rajah Rasiah dan Prof Rene Ofreno dengan tema “Kolaborasi ASEAN Memperkuat Ekonomi Biru untuk Menghadapi Tantangan Global, Kesejahteraan Sosial-Ekonomi dan Kepastian Hukum.

Dalam agenda tersebut yang dibuka oleh Staf Khusus Rektor Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Dr Dianwicaksih Arieftiara. Dalam pemaparannya, Rene menjelaskan proses ekonomi biru yang terjadi di Filipina. Menurutnya, ekonomi hijau saja tidak cukup tetapi lebih dari itu harus ekonomi yang lebih hijau (greener). Dia juga menjelaskan bahwa framework ASEAN Blue Economy bisa saja efektif ke depannya. Selanjutnya, Rajah memaparkan bahwa Indonesia sekarang merupakan eksportir ikan tuna terbesar di dunia.(sp)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU