İstanbul escort bayan sivas escort samsun escort bayan sakarya escort Muğla escort Mersin escort Escort malatya Escort konya Kocaeli Escort Kayseri Escort izmir escort bayan hatay bayan escort antep Escort bayan eskişehir escort bayan erzurum escort bayan elazığ escort diyarbakır escort escort bayan Çanakkale Bursa Escort bayan Balıkesir escort aydın Escort Antalya Escort ankara bayan escort Adana Escort bayan

22 February 2024
HomeBeritaGempita Cinta Indonesia Semarakkan Oostende

Gempita Cinta Indonesia Semarakkan Oostende

SHNet, Brussel-Bekerja sama dengan Perpustakaan Kris Lambert di Oostende, KBRI Brussel menyelenggarakan Indonesia Month. Gelaran Indonesia kali ini menyodorkan tema “De Schat van Indonesë” atau “Treasures of Indonesia” yang meliputi pameran, diskusi buku dan tentunya tak lupa pagelaran budaya. Acara berlangsung selama bulan September 2022

Pameran “De Schat van Indonesië” ini menampilkan benda budaya yang merupakan koleksi benda budaya milik warga Belgia. Setiap benda unik ini memiliki kisahnya masing-masing dan menggambarkan kecintaan para pemiliknya terhadap Indonesia. Seperti tenun ikat milik Inge de Lauthawer yang ia peroleh dari Sumba. Inge sendiri memiliki Yayasan Sumba Foundation yang bergerak di bidang penguatan kapasitas siswa bidang pariwisata. Ikat ini ia beli dari Kornelis Ndapakamang seorang artis asal Sumba. Ikat ini masih dibuat secara tradisional termasuk pewarna alami dari tumbuhan. Tenun ikat antik ini memperlihatkan motif khas dari kerajaan Pau dan Rende yang dahulu kala berada di Sumba Timur.

Penyelenggaraan pameran ini dimaksudkan untuk memperlihatkan people-to-people contact yang telah terjalin antara warga Belgia dengan Indonesia. Keakraban yang telah terjalin dan dipertontonkan kepada khalayak umum diharapkan dapat mengunggah kaingin tahuan warga dan memperkuat relasi Belgia-Indonesia.

Di sudut lain Perpustakaan, KBRI juga menampilkan beberapa komoditas unggulan Indonesia yang merupakan produk impor favorit di Belgia seperti alas kaki, pakaian, kopi, teh, rempah dan lain-lain. Bagian ini ingin memperlihatkan Indonesia sebagai mitra ekonomi penting bagi Belgia dan betapa produk-produk Indonesia begitu dekat dan telah akrab dimanfaatkan warga setempat.

Pembukaan resmi “De Schat van Indonesie” (06/09) diselenggarakan bersamaan dengan Diskusi Buku “Revolusi” karya David van Reybrouck, seorang sejarawan Belgia, yang diluncurkan tahun 2020. Buku ini memaparkan kisah bangsa Indonesia memperjuangkan kemerdekaannya dan bagaimana kemerdekaan Indonesia ini telah mempengaruhi tataran global. Tentunya tidak mudah bagi David, yang lahir dan besar di Belgia untuk meneliti tentang Indonesia dan era kolonialismenya. Ia pun menghabiskan lima tahun untuk menulis buku ini. Sejarah Indonesia sendiri tidak terlalu dikenal di Belgia.

Diskusi kali ini menghadirkan Joss Wibisono, sejarawan Indonesia yang lama menetap di Belanda dan Gie Goris, jurnalis Belgia yang juga pemerhati isu-isu terkait Asia Tenggara. Keduanya mengupas Revolusi dan lebih jauh lagi bagaimana Revolusi kemerdekaan Indonesia bergema hingga pelosok dunia. Diskusi kali ini pun diramaikan kehadiran dari klub buku di Oostende serta warga dari berbagai kota di sekitar Oostende.

Pada kesempatan ini, Dubes Andri Hadi menyampaikan bahwa dalam pertemuan dengan David van Reybrouck, David menceritakan mengenai perjuangannya dalam menulis buku ini. Dubes Andri mengakui salut atas kegigihan David dalam menemukan sumber sejarah karena sifat buku yang berupa oral history mewajibkan David untuk menemui para saksi mata langsung. Dubes Andri juga menegaskan bahwa salah satu keistimewaan buku ini adalah bagaimana David dapat mengartikulasikan makna kemerdekaan Indonesia khususnya mengenai ripple effect kemerdekaan Indonesia.

Penonton kagum dengan atraksi tarian daerah yang dinamis

Pagelaran Budaya

Guna semakin memperkaya promosi Indonesia, KBRI Brussel juga menyelenggarakan pagelaran budaya di Plasa Perpustakaan Oostende (10/09). Bekerja sama dengan Pemprov Ponorogo, KBRI Brussel menghadirkan Reog Ponorogo. Reog Ponorogo berhasil menarik minat warga Oostende. Warga yang memadati plasa terkesima dengan tampilan Reog yang baru pertama kali hadir di Belgia. Diawali dengan tarian oleh warok dan jathilan, ramainya musik khas Reog terus mengundang kehadiran warga yang semakin menyemarakkan suasana. Aksi Singo Barong terus mengundang decak kagum dan tepuk tangan penonton.

Selain Reog, KBRI juga menampilkan ragam budaya dari Diaspora Indonesia mulai dari tampilan angklung hingga tari-tarian nasional seperti Tari Merak, Tari Belibis dan Tari Sajojo. Penonton pun asyik ikut menyanyikan lagu yang dibawakan kelompok angklung Sanggar Sriwijaya dan turut menikmati keseruan angklung interaktif. Tarian nasional dari Sahabat Indonesia semakin menghangatkan suasana.

Kegembiraan penonton semakin terasa dengan alunan poco-poco sebagai penutup. Para penonton pun tak segan turun dan ikut berjoget bersama. Walaupun cuaca sempat mendung, para penonton tak beranjak menikmati serunya pagelaran budaya Indonesia. Pagelaran budaya ini memperlihatkan ragam budaya Indonesia dari Sabang hingga Merauke, walau hanya sejenak gelaran ini diharapkan dapat menarik minat wisatawan ke Indonesia. (sur)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU