26 February 2024
HomeBeritaGuru Besar Teknik Kimia Undip Sarankan BPOM Meneliti Kemasan AMDK Berbahan Etien...

Guru Besar Teknik Kimia Undip Sarankan BPOM Meneliti Kemasan AMDK Berbahan Etien Glikol

SHNet, Jakarta-Guru Besar Bidang Pemrosesan Pangan Departemen Teknik Kimia Universitas Diponegoro (Undip), Andri Cahyo Kumoro menyarankan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk meneliti lagi kemasan air minum yang berbahan etilen glikol seperti galon sekali pakai untuk mengantisipasi terjadinya keracunan pada anak-anak seperti yang terjadi di Gambia, Afrika Barat baru-baru ini. Menurutnya, ada kemungkinan terjadi lucutan etilien glikol keluar dari bahan kemasan ini dan bercampur dengan produknya.

“Jadi, perlu dilihat lagi apakah etilen glikol itu bereaksi dengan bahan pengemas atau tidak pada saat dibuat. Kalau bereaksi, ya aman karena itu akan membentuk bahan kimia baru yang mungkin tidak berbahaya. Tapi, kalau etilen glikol itu tidak bereaksi dan hanya bercampur atau blending saja, ada kemungkinan terjadi lucutan etilen glikol keluar dan bercampur dengan produk atau tersisa menjadi residu. Itu harus menjadi perhatian atas keselamatannya,” ujarnya.

Jadi, lanjunya, BPOM perlu melakukan riset lebih lanjut terhadap kemasan-kemasan yang mengandung etilen glikol seperti galon sekali pakai untuk mengantisipasi kejadian seperti di Gambia.

Dia memperkirakan kasus yang terjadi di Gambia itu disebabkan adanya cemaran etilen glikol pada bahan baku obatnya atau pada saat memprosesnya.  “Itulah perlunya GMP atau Good Manufacturing Practice,” katanya.

Andri mengungkapkan etilen glikol cukup beracun dengan LDLO 786 mg/kg untuk manusia. Menuturtnya, monoetilen glikol yang sering disebut etilen glikol adalah cairan jenuh, tidak berwarna, tidak berbau, berasa manis dan larut sempurna dalam air. Keracunan etilen glikol adalah keracunan yang terjadi akibat meminum atau menelan etilen glikol. Gejala-gejala awalnya meliputi muntah dan sakit perut. Gejala-gejala yang dapat timbul kemudian adalah berkurangnya tingkat kesadaran, sakit kepala, dan kejang. Dampak jangka panjangnya bisa berupa gagal ginjal atau kerusakan otak. “Pada umumnya, etilen glikol digunakan untuk menurunkan titik beku air radiator pada mesin agar tidak mudah membeku,” tukasnya.

Ditegaskan, jika bercampur dengan obat atau makanan,  otomatis etilen glikol akan mencemari produk dan menjadi racun, dan menjadi kronis terutama dalam jangka panjang . Dia sendiri heran kenapa bahan beracun seperti etilen glikol ini bisa digunakan sebagai pemanis pada obat untuk anak-anak hanya karena rasanya yang memang manis. “Padahal, dalam wujud  polimernya, polietilen glikol  atau PEG banyak digunakan dalam produk kosmetik sebagai surfaktan, bahan pembersih, shampo, pengemulsi, kondisioner kulit, dan humektan, tapi bukan untuk diminum atau oral medicine,” ungkapnya.

Pakar polimer Institut Teknologi Bandung (ITB) Ahmad Zainal Abidin mengutarakan kemasan air minum sekali pakai seperti air kemasan galon sekali pakai yang berbahan PET (Polietilena Tereftalat), dalam pembuatannya menggunakan etilena glikol yang kalau dikonsumsi melebihi dosis maksimal yang diizinkan bisa menyerang sistem saraf pusat, jantung dan ginjal serta dapat bersifat fatal jika tidak segera ditangani.

Sebelumnya, Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Nabil Haroen juga meminta BPOM harus bekerja cepat untuk meneliti ulang kandungan etilen glikol pada bahan kemasan pangan, seperti plastik kemasan air galon yang berbahan PET serta produk lainnya. Hal itu untuk mengantisipasi terjadinya keracunan etilen glikol pada anak-anak seperti yang terjadi di Gambia, Afrika  Barat.

“Ini (bahan kimia etilen glikol) sangat berbahaya. Jadi, perlu ada tindakan serius dan cepat dari BPOM terkait zat kimia berbahaya ini.  Jangan sampai kasus yang terjadi di Gambia-Afrika terjadi di Indonesia, di mana anak-anak meninggal dan keracunan akibat konsumsi bahan makanan yang mengandung etilen glikol di atas ambang batas,” katanya. (cls)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU