25 February 2024
HomeBeritaHilirisasi Industri dan SDGs: Pesan Indonesia Saat KTT Selatan

Hilirisasi Industri dan SDGs: Pesan Indonesia Saat KTT Selatan

SHNet, Kampala- Negara-negara Global South harus pastikan terbentuknya tata dunia yang lebih adil bagi negara berkembang, terutama untuk dukung hilirisasi industri dan tingkatkan upaya pencapaian SDGs melalui intensifikasi alih-teknologi dan kerja sama pembangunan, serta pengembangan mekanisme pendanaan yang inovatif’ demikian pesan Indonesia pada KTT Selatan ke-3 (Third South Summit) yang diselenggarakan di Kampala, Uganda, pada 21-22 Januari 2024.

Pesan tersebut disampaikan Dubes Mohamad Hery Saripudin pada sesi Debat Umum KTT Selatan ke-3, Senin (22/1). Dubes Hery adalah Dubes LBBP Indonesia untuk Kenya dan Uganda, dan jadi Ketua Delegasi Indonesia pada KTT Selatan ke-3. Mengangkat tema ‘Leaving No One Behind’, KTT dihadiri sekitar 80 negara, termasuk Indonesia.

Seiring dengan tema KTT, Indonesia garisbawahi hanya sekitar 15% Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang berjalan sesuai jadwal. Indonesia mendesak dunia internasional untuk hindari pendekatan business as usual dalam pencapaian SDGs.

‘Kelompok 77 dan RRT adalah Grup Negosiasi yang sangat kuat, mewakili lebih dari 80% penduduk dunia. Kita harus perkuat kerja sama dalam peningkatan kapasitas industri, terutama industri mineral kritis, serta penguasaan teknologi maju dan ramah lingkungan’, tegas Dubes Hery.

Konsisten dengan pesan keadilan yang disampaikan, Indonesia juga desak KTT untuk teguh mendukung rakyat Palestina. ‘Dukungan terhadap Palestina adalah realisasi komitmen terhadap kemanusiaan, perdamaian dan kesejahteraan. Global South harus berada di sisi yang benar, dengan menolak pendudukan Israel dan mendukung Palestina yang merdeka’, tutup Dubes Hery.

KTT Selatan adalah KTT yang diselenggarakan Kelompok 77 dan RRT (G77 and China), dibentuk pada 1964 untuk satukan suara negara berkembang dalam isu-isu ekonomi dan pembangunan global. Indonesia adalah salah satu pendiri G77 and China. Saat ini 134 negara menjadi anggota kelompok tersebut. (sur)

 

***

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU