19 May 2022
HomeBeritaPariwisataHomestay Jadi Penggerak Perekonomian di Desa Wisata

Homestay Jadi Penggerak Perekonomian di Desa Wisata

SHNet, Jakarta– Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sekarang ini menjadikan pergerakan wisatawan Nusantara (wisnus) sebagai lokomotif kebangkitan pariwisata Indonesia.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah tersedianya akomodasi, bukan hanya hotel, tetapi juga homestay yang ada di desa wisata

Dalam diskusi virtual Urban Forum – Forum Wartawan Daerah (FORWADA), Tourism & Hospitality Outlook 2022 “New Normal Saatnya Bangkit dari Tidur Pulas”, Kamis,(20/1/2022), Trisnadi Yulrisman, Direktur Keuangan dan Operasional PT Sarana Multigriya Finansial (SMF), menyoroti industri homestay yang bisa menjadi penggerak perekonomian di desa wisata baik desa wisata prioritas maupun non prioritas.

Salah satu homestay di kawasan destinasi wisata super prioritas Borobudur (Dok. Biro Komunikasi Kemenparekraf)

Menurutnya, SMF telah melakukan inisiatif strategis produk KPR Rumah Usaha dalam bentuk program pembiayaan homestay sejak tahun 2018 dan dalam masa inkubasi hingga sekarang, program ini masih menggunakan dana PKBL/TJSL. SMF pertama kali menerapkannya di Desa Wisata Nglanggeran, Gunung Kidul, Yogyakarta.

“Total anggaran pembiayaan homestay mencapai Rp 20 milyar dengan realisasi hingga 2021 mencapai 7.747 milyar dengan total debitur 96 di 12 desa wisata,” jelasnya.

(Dok Forwada)

Kehadiran SMF dalam pembiayaan homestay , lanjutnya,  merupakan upaya pemerintah mendorong  pertumbuhan usaha sesuai dengan rencana pengembangan bisnis, membantu kelancaran arus kas usaha sesuai dengan perkembangan arus kas bisnis, membantu terhindar dari jeratan pinjaman dengan bunga tidak wajar dan mewujudkan kemandirian usaha.

“Saat kami tengah mengembangkan penyaluran pembiayaan homestay melalui mitra, seperti pihak Pemda setempat dan juga BPR,” tambahnya.

Sementara, Yuwono Imanto, Direktur PT Propan Raya ICC mengungkapkan, selaku produsen cat, selama ini pihaknya telah bekerja sama dengan Kemenparekraf dalam upaya turut membantu membangun industri pariwisata.

“Kita sering melakukan kegiatan CSR seperti ajang undian desain terbaik, membangun kawasan kumuh, dan kawasan heritage bekerjasama dengan Kemenparekraf,” ungkapnya.

Menurut Yuwono, produk cat Propan tidak hanya menyasar hotel berbintang, namun juga industri homestay dengan memproduksi cat yang dengan harga terjangkau namun berkwalitas eksport.

“Produk kita memang banyak dipakai di hotel berbintang baik di dalam maupun luar negeri, namun kami juga memproduksi cat untuk rumah subsidi, dan juga untuk homestay sebagai wujud dukungan kepada industri pariwisata,” jelasnya.

Sempat mati suri

Sementara, Yuhan Subrata, pengelola Hutan Organik Megamendung, Bogor mengatakan, wisata hutan organik sempat mati suri diawal pandemi, namun sejak tahun lalu, mulai bergeliat lagi.

Wisata hutan organik yang dikelolanya saat ini memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan nusantara.

“Setiap harinya ada 10 sd 15 orang pengunjung yang datang, ini bagi kami ini cukup besar saat ini meski tidak sebanding saat sebelum pandemik,” jelasnya.

Yuhan berharap, wisatawan nusantara makin banyak yang mencintai dan mengunjungi lokasi wisata lokal, yang pada akhirnya akan menghidupkan perekonomian rakyat di desa wisata.

“Ayo dukung wisata lokal, jadikan masyarakat lokal jadi tuan rumah di negeri sendiri,” pungkasnya. (Stevani Elisabeth)

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU