22 October 2021
HomeBeritaKesraIbu Darminah dan Kisah Penderitaan Tapol Wanita

Ibu Darminah dan Kisah Penderitaan Tapol Wanita

SHNet,Jakarta-Peneliti dan penulis sejarah Amurwani Dwi Lestariningsih, PNS di Kemendikbudristek menceritakan bagaimana awal mula tertarik menulis terkait peristiwa 65, khsusunya dari sudut perempuan yakni para tahanan wanita yang tanpa diadili tapi harus mendekam di penjara dan menderita lama di jeruji besi masa Orde Baru.

“Hasil diskusi dengan rekan sejarawan Dr. Asvi Warman Adam mengantarkan saya  untuk riset  tesis tentang perempuan anggota Gerwani yang ditahan, antara 2004-2006. Akhirnya membuka jalan dan mulailah petualangan mencari tokoh-tokoh Gerwamani sebagai bahan tesis,” ungkap Amurwani  pada sarasehan  dalam jaringan atau Sadaring ke-5 bertema “Sejarah dalam Sastra” yang digelar organisasi penulis Satupena, Minggu (10/10).

Sadaring ini menampilkan tiga narasumber berbobot yakni penulis novel sejarah, Iksaka Banu, peneliti dan penulis sejarah, Amurwani Dwi Lestariningsih, dan penulis novel dan antropolog, Nusya Kuswantin. Acara  ini  dimoderatori oleh sejarawan UGM yang juga salah satu Ketua Presidium Satupena, Prof Sri Margana. Dua puisi dibacakan sebelum acara dimulai yakni puisi “Catatan Harian” karya Putu Fajar Arcana, dan puisi “Pelajaran” yang dibawakan Magdalena Sitorus.

Amurwani menceritakan dirinya  mencari Sekjen Gerwani bernama Bu Darminah untuk memulai penjelajahannya. Alamatnya sudah dia pegang yaitu di Gang Rela, Manggarai, Jakarta Selatan. “Tiga hari mondar mandir di titik alamat itu, saya baru ketemu orang tua berampt putih berusia 70-an tahun. Dia tak mengaku, hanya bertanya balik, untuk apa mencari Darminah?”

Akhirnya Amurwani kembali mencari informasi ke orgaisasi Pakorba di Pasar Minggu, lalu  diyakinkan bahwa wanita beramput putih yang oletetangga disebut Mbak Jamu itu adalah Darminah.Karena itu drinya disarankan untuk kembali lagi ke Manggarai menemui wanita tua itu, namun tetap gagal.

“Pertemuan dengan Darminah akhirnya dilakukan di Kantor Pakorba. Saah satu pengurus Pakorba adalah besan Darminah. Ketika bertemu, saya tertegun, lho, ini kan yang saya temui di Manggarai dan balik bertanya pada saya untuk apa melakukan riset tentang Gerwani” ungkap Amurwani dalam pertemuan itu.

Secuil ceria itu menggambarkan betapa para mantan anggota dan pengurus Gerwani menutup rapat identitas dengan mengganti nama. Bu Darminah hanya dikenal sebagai Mbah Jamu di Manggarai, yang lain berubah identitas. Semua itu demi menyelamatkan diri dan bisa beradaptasi dengan masyarakat. Kenapa? Orde Baru membuat mereka snagat takut, karena stigma buruk masih dilekatkan pada mereka.

Sebagaimana diketahui, tesis Amurwani kemudian diterbitkan sebagai buku dengan judul “GERWANI: Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan”, (Penerbit Buku Kompas, 2011). (sur)

 

 

 

ARTIKEL TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU