SHNet, Jakarta- Antusiasme serta semangat tinggi terpancar di wajah para mahasiswa Institut Media Digital Emtek (IMDE) saat berlangsungnya acara “Sosialisasi Literasi Digital-Jakarta SOLID- Goes to Campus IMDE” yang merupakan kolaborasi Suku Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Kominfotik) Jakarta Barat dengan IMDE di auditorium Kampus IMDE, Jakarta Barat, Kamis (27/11/2025)
Menampilkan tiga narasumber yakni Chief Content Officer KapanLagi Youniverse, Wenseslaus Manggut, dosen IMDE, penulis dan wartawan senior, Suradi, serta Pranata Humas Kasubkel Sumber Daya Komunikasi Publik Diskominfotik DKI Jakarta, Ied Sabila.
Acara bertema “Cerdas Digital Hari Ini, untuk Kreator yang Inspiratif dan Viral” diikuti sebanyak 70 peserta yang terdiri dari mahasiswa IMDE dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube Pemerintah Kota Jakarta Barat serta IMDE Official.
Mewakili Rektor yang sedang mengikuti Rakorda LLDikti III, Wakil Rektor IMDE, Ratih Damayanti, yang membuka acara ini menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan program literasi digital di kampus IMDE. “ Kami sangat senang, karena IMDE menjadi salah satu kampus yang dipilih dianatar banyak kampius di Jakart Barat oleh Suku Dinas Kominfotik Jakarta Barat untuk menjadi rekanan dalam mensosialisasikan program KIM atau Komunitas Informasi Masyarakat,” katanya
Menurut Ratih yang juga Kaprodi Bisnis Digital IMDE, kegiatan ini memberikan nilai tambah bagi mahasiswa, terutama dalam mempersiapkan mereka menghadapi peran sosial di masyarakat.”Pastinya kegiatan ini memperkaya mahasiswa bagaimana nantinya kalian berperan di lingkungan sosial karena kalian adalah Gen Z yang harus memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada masyarakat luas melalui hal-hal yang bermanfaat,” ujarnya.
Dalam kesempatan pertama dan pembuka, Kepala Seksi Komunikasi Informasi Publik (KIP) Sudis Kominfotik Jakarta Barat, Menta Basita Bangun, mengatakan bahwa literasi digital merupakan kebutuhan penting di tengah pesatnya perkembangan teknologi komunikasi. Program ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan dalam meningkatkan kemampuan literasi digital generasi muda, terutama di lingkungan civitas akademika perguruan tinggi.

Ajak Warnai Jakarta Barat
Menta Basita Bangun mengatakan, kegiatan Jakarta SOLID ini menjadi tajuk dari literasi digital yang rutin kami laksanakan. Seminar kali ini penting dan relevan karena hari ini setiap individu termasuk insan pendidikan, dapat menjadi penyebar informasi, pembuat konten, sekaligus penggerak opini publik..
“Saya mengajak civitas akademika IMDE memanfaatkan layanan ini dan turut mewarnai pemberitaan tentang Jakarta Barat dengan informasi yang benar, akurat, dan bermanfaat,” tegas Menta.

Pranata Humas Kasubkel Sumber Daya Komunikasi Publik Diskominfotik DKI Jakarta, Ied Sabila dalam paparannya menjelaskan tentang KIM atau Komunitas Informasi Masyarakat . KIM adalah komunitas yang dibentuk oleh masyarakat, dari masyarakat dan untuk masyarakat serta secara mandiri dan kreatif melakukan aktivitas pengelolaan informasi dan pemberdayaan guna memberikan nilai tambah bagi masyarakat itu sendiri.
Dikatakan Ied, KIM dibentuk oleh, dari, dan untuk masyarakat; lalu, berkedudukan di kelurahan dan ditetapkan minimal oleh Lurah dan bisa meningkat hingga ke jenjang lebih tinggi setingkat Walikota/ Bupati. Selain itu harus terdaftar di Suku Dinas Kominfotik.
Adapun kualifikasi komunitas yang menjadi mitra papar Ied, komunitas yang eksistensi jelas yang ditunjukkan dengan dengan keberadaan alamat, kontak, dan pengakuan dari masyarakat. Komunitas itu juga mesti memiliki aktivitas, dalam hal ini secara berkala melakukan aktivitas komunitas, utamanya kegiatan diseminasi informasi ke masyarakat, atau kegiatan lainnya yang sesuai dengan kekhususan komunitas. Juga memiliki rekam jejak dan reputasi yang baik di masyarakat.
Banyak Informasi yang Berguna
Menyambut pernyataan Menta, dosen, penulis dan jurnalis, Suradi memaparkan berlimpahnya informasi yang patut diketahui masyarakat baik di wilayah Jakarta Barat maupun berbagai wilayah. Sumber berita yang ada disekitar dan sering dilewati banyak mahasiswa ini menjadi obyek yang bisa diangkat menjadi berita, foto, maupun feature.” kamia akan membantu melatih keterampilan menulis berita yang menarik, benar, dan bermanfaat bagi publik,” katanya.
Dalam seminar ini, Suradi juga memberika banyak informasi, tips dan trik yang mudah dilakukan oleh mahasiswa maupun dosen untuk menulis berita. Disamping itu, dijelaskan bagaimana tehnik dan rmus penulisannya yang memang sudah baku dan teruji, meski saat ini jaman digital.”Intinya bagaimana berita itu punya kepentingan publik, disampaikan dengan benar, mudah dipahami karena mengikuti kaidah penulisan yang baik sesuai rumus 5 W+1,” ujarnya.
Mahasiswa peserta juga dibekali bagaimana tehnik wawancara, apa yang perlu disiapkan dlaam wawancara, dan siapa yang pantas diwawancara mengingat kriteria tokoh pun ikut membuat sebuah berita atau konten berkualitas atau tidak.
“Jadi dalam kontek KIM, mahasiswa dan juga mungkin dosen bisa menjadi kontributor atau penyumbang berita. Ini memberikan kesempatan luas bagi sicitas akademika kreatif menulis atau membuat konten. Istilah saya menjadi jurnalis warga,” kata Suradi yang telah berkarir sebagai jurnalis lebih dari 30 tahun.

Sedangkan Chief Content Officer KapanLagi Youniverse, Wenseslaus Manggut, menjelaskan bagaimana fenomena kehidupan pers atau media saat ini di tengah makin masifnya informasi dari media sosial, dan di satu sisi berkembanya Artificial intelligence (AI).
“Suka atau tidak suka, media dalam pengertian lama sudah menurun atau berubah dan media sosial menjadi alternatif yang makin banyak digunakan sebagai sumber informasi dan referensi meski banyak ‘sampah’ alias berita yang tak benar. Nah, munculnya AI, membuat pendulum berubah, ada tendensi masyarakat kembali ke definis media yang lama, sebagai sumber informasi utama.”
Wenseslaus Manggut mengaku agak kikuk bicara dihadapan mahasiswa atau Gen Z, karena merasa sebagai ‘wartawan jadul’ . Namun pengalaman yang panjang di media sebagai jurnalis dan aktif di asosiasi media siber membuatnya paham, bahwa Gen Z lebih banyak membaca berita bukan dari sumbernya yakni media tapi dari platform.
Pada akhirnya, Manggut sepakat bahwa literasi digital, termasuk penjelasan mengenai apa dan bagaimana konvergensi media memang sangat penting bagi mahasiswa dan Gen Z. “Upaya seperti ini memag harus terus dan berkelanjutan agar mahasiswa makin tercerahkan menghadapi situasi media yang terus mengalami perubahan,” katanya.(sur)

