5 March 2024
HomeBeritaKonferensi Internasional UPN Veteran Jakarta, Negara Butuh Pemimpin Canggih Atasi Dampak Ekonomi...

Konferensi Internasional UPN Veteran Jakarta, Negara Butuh Pemimpin Canggih Atasi Dampak Ekonomi Covid-19

Jakarta-Dampak ekonomi yang dipicu krisis kesehatan di dunia masih belum dipastikan kapan persoalan ekonomi kembali membaik. Namun, setiap negara membutuhakn pemimpin yang kuat untuk mengatasi dampak ekonomi di masa pandemi ini.

“Sulit dipastikan kapan akan teratasi, yang diperlukan terutama adalah bagaimana memperkuat cara untuk deteksi dini dan bejuang untuk implementasi pelaksanaan kebijakan dalam mengatasi persoalan pandemic oleh pemerintah,” jelas Prof. Robert Boyer dari Institut Des Ameriques France, dalam Jakarta Economic Sustainability International Conference Agenda (JESICA) yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Kamis (2/12/2021).

Konferensi yang digelar 2-4 Desember 2021 ini menghadirkan narasumber Prof Robert Boyer, Prof Jayati Ghosh, Prof. Jomo Kwame Sundaram, Prof Olivier Favereau, Prof Oscar UgartecheProf Tulus Tambunan, Dr Dianwicaksih Arieftiara, dan Dr Fadhil Hasan.

Menurut Boyer, situasi ekonomi sampai saat ini belum menentu. Untuk itu, katanya, jangan pernah mengharapkan jalan mudah untuk mengatasi dampak ekonomi yang muncul akibat pandemi Covid-19. “Jangan mengharapkan jalan mudah dalam menuju perbaikan ekonomi, dalam prosesnya negara memerlukan pemimpin yang canggih dalam memberikan solusi atas hal tersebut,” jelas Boyer dalam acara konpers yang dipandu Dr. Miguna Astuti.

Sementara itu, Prof. Tulus Tambunan mengatakan, dalam konteks Indonesia, sebenarnya masih kurang kerja sama dari semua pihak dalam mengatasi pandemi Covid-19. Dia membandingkan dengan tingkat kedisiplinan dari berbagai negara dalam mencegah penularan Covid-19, seperti di Vietnam, Taiwan dan Korea Selatan.

Menurutnya, ada kesadaran bersama untuk mencegah berbagi kerumunan yang terjadi, maka sebenarnya upaya untuk mengatasi pandemi ini bisa lebih cepat teratasi. “Hanya saja, kita masih sangat kurang kesadaran. Misalnya, pada saat lebaran, sudah ada imbauan agar tidak mudik untuk mencegah penularan, tapi tidak dipatuhi,” jelasnya.

Untuk itu, Tulus mengharapkan, kerja sama anatara pemerintah dan masyarakat dalam mencegah covid-19 ini harus bersama-sama. Sebab, tidak mungkin bisa teratasi kalau tidak ada kesadaran bersama.

Sementara itu, Prof. Jomo Kwame Sundaram mengatakan, dirinya melihat kurangnya rasa solidaritas dari sesame negara dalam mengatasi pandemi Covid-19 ini. Apalagi, katanya, adanya upaya untuk mengambil keuntungan dalam masa pandemi ini. Hal ini, katanya, menjadi penyebab terhambatnya penanganan Covid-19.

Menurut Prof. Jomo, negara maju hanya mengutamakan kepentingan sendiri, sehingga negara-negara berkembang sangat kesulitan untuk mengatasi pandemi, karena kesulitan vaksin misalnya.

Untuk itu, Prof Jomo mengharapkan, agar negara kaya lebih peduli dan lebih membangun kerja sama dengan negara-negara lain, sehingga semua negara bisa memperoleh akses terhadap vaksin dan sebagainya.

Dia mencontohkan, Kuba yang selama ini diisolasi Amerika, meski menemukan vaksin tetapi kesulitan untuk mengembangkan karena ketiadaan atau sangat minimnya dukungan dari fasilitas yang ada.

Ke depan, katanya, pola kerja sama antara berbagai negara harus lebih baik, sehingga bisa bersama-sama mengatasi pandemic serta dampak yang muncul. Kerja sama yang dibutuhkan, jelasnya, harus berlandaskan kepada ketulusan dan keiklasan karena persoalan ini melanda seluruh dunia.

Dalam konferensi ini, setidaknya, ada tiga isu utama yaitu Pandemi Covid-19 itu sendiri, isu tingkat pertumbuhan yang persisten lambat termasuk di dalamnya kemiskinan, pengangguran dan deindustrialisasi, dan terakhir, daya tarik ekonomi baru yang telah banyak dipraktikkan dalam kerja ekonomi termasuk big data, perdagangan manusia, migrasi, dan perang.

Apalagi, pandemi Covid-19 ini telah memberikan efek jangka panjang pada pembangunan manusia dan memungkinkan terjadinya transformasi besar.

Ada sekitar 149 makalah termasuk pembicara, presenter dan peneliti muda, yang juga berpartisipasi dalam konferensi ini. Ini akan menjadi pengalaman hebat bagi mereka untuk bergabung dan merasakan konferensi internasional. Juga co-host dengan Universitas Samratulangi, dan bermitra dengan dua jurnal akademik nasional yaitu Jurnal Perencanaan Pembangunan dan Jurnal Prisma, dan satu jurnal internasional yaitu Jurnal Internasional Usaha Kecil Menengah dan Keberlanjutan Usaha.(den)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU