12 April 2024
HomeBeritaLuncurkan Biografi, Jacob Tobing: UUD 1945, Ibarat Bayi Revolusi yang Kita Cintai

Luncurkan Biografi, Jacob Tobing: UUD 1945, Ibarat Bayi Revolusi yang Kita Cintai

SHNet, Jakarta- Mantan Ketua Panitia Ad Hoc (PAH) 1 Badan Pekerja MPR RI, Jacob Tobing mengatakan, UUD 1945 disusun relative cepat dan dalam situasi pengaruh Jepang yang kuat, meski  Jepang sudah kalah perang deegan Sekutu. Konteks politik internasional dan singkatnya penyusunan konstitusi kita, membuat UUD’45 ada sejumlah kekurangan.

“Walau begitu, UUD’45 itu ibarat bayi revolusi yang kita cintai,” kata  Jacob Tobing menjawab hadirin dalam diskusi bedah buku biografinya yang ditulis oleh jurnalis Bernada Rurit, berjudul “Sebuah Biografi Jakob Tobing : Sosok di Balik Milestone Indonesia Baru” di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah, Jakarta, Jumat petang (8/3/2024).

Kelemahan yang dimaksud Jacob Tobing antara lain, tidak ada pembatasan masa jabatan presiden, tidak ada penegasan soal hak asasi manusia (HAM), dan juga tidak ada Pemilu. ”Soal Pemilu ini bukannya lupa mencantumkan, melainkan Pemilu itu dinilai pembodohan, karena setiap individu kan punya posisi yang sama dalam bilik suara. Dan di Indonesia, jumlah penduduk yang tidak berpendidikan jumlahnya lebih besar,”katanya.

Terkait dengan soal ini, dalam biografinya, Jacob Tobing juga sedikit mengulas latar belakang penyusunan UUD’45 dalam setting waktu sebelum dan sesudah kemerdekaan di halaman 251-252.

Dalam peluncuran itu, digelar pula diskusi yang menghadirkan Jacob Tobing  pembahas mantanAnggota PAH I BP MPR, Baharudin Aritonang, penelitiLitbang Kompas Totok Suryaningtyas, dan penulis buku Bernada Rurit dengan moderator peneliti Litbang Kompas, Susanti Simanjuntak.

Sejumlah  kolega Jacob Tobing  yang datang dan memberi kesaksian terutama mantan Anggota DPR/MPR dari Panitia Ad Hoc (PAH) 1 Badan Pekerja MPR  seperti Baharudin Aritonang, Zein Badjeber, Haryono, Valina Singka Subekti, juga mantan anggota DPR yang pernah membantu Jacob yakni Firman Jaya Daeli. Ada juga Theo Sambuaga dan kolega lainnya, dan terutama keluarga besar Jacob Tobing.

Baharudin Aritonang mengatakan, dirinya menyebut koleganya,  Bang Jacob. “Beliau orangnya baik. Batak yang halus. Selama pembahasan perubahan UUD’45, saya sering jadi narasumber teman-teman wartawan. Otomatis tiap hari ada di koran. Karena itu, seorang anggota mengadu beliau dengan saya. Katanya, di koran sepertinya yang jadi ketua itu Bung Aritonang. Lalu, jawab Bang Jacob kalem saja,  biarlah!,”.

Mengenai buku bografi Jacob Tobing, Baharudin Aritonang menilai, biografi  ini bagus. Karena Bang Jacob-nya hebat. “Bayangkan, pernah jadi anggota DPR termuda (24 tahun). Pernah kuliah di ITB. Tapi meneruskan ke Harvard. Lantas menyelesaikan S3 di Leiden pada usia 80 tahun,” ujarnya sambil menambahkan atas kepemimpinan beliau, kami yang berasal dari beragam partai, akhirnya merasa satu fraksi, yakni Fraksi PAH I. Sampai sekarang kami kompak di Forum Konstitusi.

Kebaikan Jacob Tobing juga banyak dicatat orang. “Ketika beliau jadi Dubes di Seoul, Korsel, anak saya berkunjung mau ngambil Dan Tae Kwon Do di Korea. Ketika pulang saya tanya. Gimana di sana? Iya enak. Datangnya dijemput mobil CD. Nginap di rumah Dubes. Pulangnya, dia ingin pula masuk Harvard. Lulus dari NTU Singaura.  Dia memang kuliah di Harvard. Usai dari Harvard, dia daftar pula di Leiden. Tapi dia selesaikan S3 di Universitas Trisakti. “Ngga apa-apa. Nanti kalau sudah pensiun ambil doktor lagi di Leiden,” papar Aritonang dan . hadirin pun tertawa ngakak, he…heee

Mantan Anggota PAH I lainnya yang berasal dari Utusan Jatim,Haryono mengatakan, pembahasan perubahan UUD’45 sangat a lot, sebab ini menyangkut system politik dan ketatanegaraan kita ke depan. Tapi, di bawah kepemimpinan Jacob Tobing, sidang terasa lebih kenyal. “Beliau halus, demokratis, dan menguasai persoalan. Itu kuncinya.”

Mantan Anggota PAH IBP MPR, Baharudin Aritonang saat berbicara pada peluncuran biografi Jacob Tobing di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah, Jakarta, Jumat petang (8/3/2024)

Aura Kepemimpinan Jacob Tobing

Begitu pula Anggota PAH I dari Utusan Golongan, Valina Singka Subekti  yang kala itu masih merasa masih muda, merasakan betul aura kepemimpinan Jacob Tobing .

“Personality yang kuat, selalu mengakomodir, tapi tegas, sehingga perbedaan pendapat tidak berlarut-larut. Intinya, beliau itu piawai memimpin sidang,” ucap Valina yang kini Gurubesar Ilmu Politik di FISIP UI.

Politisi senior PPP yang juga mantan Anggota PAH I BP MPR, Zaen Badjeber mengungkapkan kisah pertemannya dengan Jacob Tobing sejak tahun 1967 karena sama-sama anggota DPR utusan golongan. Zaen punya kesan takberbeda dengan Valina dan Aritonang yakni kepemimpinan di PAH I yang kuat dari Jacob Tobing.

Wartawan senior Kompas, Budiman Tanuredjo sempat bertanya mengenai persoalan politik  terutama dalam kaitan kontestasi Pemilu sebagai konsekuensi dari perubahan UUD’45.

Teman separtai Jacob Tobing semasa di Golkar yakni Theo Sambuaga juga mengungkapkan kenangannya saata awal tahun 1970-an  ketika masih jadi Wakil Ketua Dewan Mahasiswa UI. Teo mengaku sering menghadiri diskusi-diskusi yang menampilkan pembicara Jacob Tobing.

Politisi PDIP Firman Jaya Daeli mengaku banyak belajar dari seniornya Jacob Tobing. “Saya memang membantu beliau dan sekaligus belajar padanya sampai akhirnya saya juga menjadi anggota DPR, masih terus belajar pada beliau,” katanya.

Penulis biografi Jacob Tobing,  Bernada Rurit menceritakan bagaimana proses pengumpulanbahan dan wawancara dengan Jacob yang kalua bicara pendek-pendek, tapi semuanya bermakna sehingga tidak sulit untuk merangkai atau memperddalam kisahnya. “Saya tertarik sekali ketika Pak Jacob cerita ibunya, yang hanya rang biasa, punya 9 anak, tapi smeuanya sarjana,” katanya.

Rurit membocorkan ihwal penerbitan disertasi Jacob Tobing di Leiden Law School, Leiden University, Belanda yangberjudul “Remaking the Negara Hukum (Rule of Law), The Essence of 1999-2002 Constitutional Reform in Indonesia.”  Tesis ini dipertahankan pada 28 Juni 2023 dalam usia 80 tahun.

“Sebelum edisi Bahasa asingnya terbit, Penerbit Kompas akan menerbitkan edisi Bahasa Indonesia dari tesis sebanyak 600 halaman itu. Tunggu ya, Kompas lagi mengerjakan, semoga cepat terbit,” ungkap Rurit. (sur)

 

 

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU