26 June 2024
HomeBeritaMahasiswa Khawatir Boikot Tanpa Kriteria Jelas Bisa Ganggu Peluang Kerja

Mahasiswa Khawatir Boikot Tanpa Kriteria Jelas Bisa Ganggu Peluang Kerja

SHNet, Jakarta-Meski setuju dengan aksi demo menentang agresi Israel ke Palestina, berbagai mahasiswa dari berbagai Universitas mengkhawatirkan semakin sulitnya lapangan pekerjaan baru yang diakibatkan aksi boikot produk-produk afiliasi Israel. Mereka berharap aksi dilakukan secara selektif dengan tidak mempersulit para mahasiswa yang akan mencari pekerjaan setelah lulus kuliah.

Raihan, mahasiswa Program Studi Sarjana Ilmu Komputer Universitas Indonesia salah satunya yang berharap agar aksi-aksi demo boikot terhadap produk-produk terafiliasi Israel itu bisa dilakukan secara selektif agar tidak mengganggu para mahasiswa untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah. “Apalagi, mendapatkan kerja setelah lulus kuliah ini adalah harapan dari semua orangtua kami mahasiswa. Tapi, kalau ada demo-demo seperti itu, kan perusahaan menjadi banyak yang tutup dan kami para mahasiswa akan sulit mendapatkan pekerjaan,” tukasnya.
“Orangtua saya juga berharap saya bisa segera mendapatkan pekerjaan setelah lulus nanti. Setidaknya bisa balik modal lah bahasa orangtua. Jadi, saya jelas khawatir kalau banyak perusahaan yang tutup,” tambah mahasiswa yang bercita-cita ingin menjadi seorang data analis di sebuah perusahaan ternama ini.

Hal senada juga disampaikan Ade Khesia dari mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. “Saya mendukung Palestina, tapi untuk pemboikotan sendiri saya kurang setuju karena akan banyak yang terdampak, termasuk akan semakin sulitnya kami para mahasiswa untuk mencari pekerjaaan karena banyak perusahaan yang terganggu,” katanya.

Karenanya, dia berharap aksi-aksi demo boikot itu harus dilakukan secara selektif dengan juga memikirkan nasib para mahasiswa yang akan mencari pekerjaan. “Sebelum ada boikot saja, banyak mahasiswa yang merasakan sulitnya mencari kerja. Apalagi ditambah dengan aksi boikot yang menyebabkan banyak perusahaan yang gulung tikar dan mengurangi tenaga kerja mereka. Jasi, tolonglah pikirkan nasib kami juga. Apalagi orang tua kami sangat berharap agar kami bisa mendapatkan pekerjaan setelah lulus nanti,” ucapnya.

Dia berharap agar para demonstrasi bisa memikirkan cara lain untuk mendukung Palestina dengan tidak merugikan masa depan mahasiswa. “Saya khawatir banyak lulusan-lulusan sarjana yang menganggur akibat sangat berkurangnya lapangan kerja akibat aksi yang tidak dilakukan secara selektif,” tukasnya.

Amel dari jurusan Biomedis Universitas Indonesia juga berharap hal yang sama. Dia mengakui sulitnya mendapatkan pekerjaan saat ini. “Saya mendukung demo kemanusiaan Palestina, tapi kalau bisa itu dilakukan secara selektif dengan tidak mengganggu lapangan kerja bagi kami mahasiswa,” ujarnya.

Engky Aksuansi, mahasiswa jurusan Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) juga mengakui sulitnya mencari pekerjaan saat ini, apalagi dengan adanya aksi demo boikot yang menyebabkan banyak perusahaan yang mengurangi lapangan kerja. “Tanpa adanya aksi boikot saja lapangan kerja sudah sangat sulit. Apalagi ditambah dengan aksi boikot, malah menambah kesulitan lagi bagi kami para mahasiswa untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah nanti. Masak kami jadi orang pengangguran, sementara orang tua kami sudah susah payah membayar uang kuliah kami,” tandasnya.

Duta Ardiansyah, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Sosiologi UNUSIA berharap hal yang sama dengan teman sekampusnya. Dia juga melihat sulitnya mencari pekerjaan saat ini. “Saya berkaca dari fenomena warung seblak yang pelamarnya sangat membludak. Itu indikasi bahwa lapangan kerja di Indonesia sangat minim,” tuturnya.

Karenanya, meski sangat mendukung demo kemanusiaan terhadap Palestina, dia juga berharap demo tersebut bisa dilakukan secara selektif yang menyebabkan semakin sulitnya lapangan kerja bagi para para mahasiswa setelah lulus kuliah nanti. “Secara pribadi saya mendukung demonstrasi anti Israel dari sisi kemanusiaan. Tapi, saya juga berharap aksi itu harus selestif dilakukan dan tidak menyebabkan kesulitan mahasiswa mencari kerja. Uang kuliah kami kan sudah mahal, orangtua juga berharap kita bisa kerja setelah lulus kuliah nanti,” katanya.

Diaz, mahasiswa jurusan Teknik Mesin Universitas Pancasila juga menyatakan kurang setuju jika demo untuk mendukung Palestina itu disertai dengan aksi boikot terhadap produk-produk perusahaan yang disebut-sebut terafiliasi dengan Israel. Menurutnya, masih ada aksi yang bisa dilakukan untuk mendukung Palestina tanpa harus merugikan masa depan para mahasiswa seperti melakukan donasi dan doa bersama. “Aksi boikot itu kan justru merugikan mahasiswa juga. Perusahaan akan semakin banyak yang tutup dan akan membuat hilangnya kesempatan kerja bagi mahasiswa. Jadi, saya kurang setuju,” ucapnya.

“Kasihan kan orangtua, sudah susah payah menyekolahkan anak-anak mereka dengan dana yang besar kalau akhirnya menganggur karena sulitnya lapangan kerja. Ini juga harus dipertimbangkan,” ungkapnya.

Muhamad Rehan dari mahasiswa jurusan Teknik Elektro juga bersikap serupa. Dia mengatakan tidak setuju dengan demo yang dilakukan jika itu merugikan bagi masa depan mahasiswa. “Pemerintah saja harus menambah lapangan pekerjaan baru untuk bisa mengurangi pengangguran di Indonesia. Masak kita justru mau mematikan lapangan kerja tersebut?” tukasnya.

Dia juga menyebutkan bahwa demo dukung Palestina bisa dilakukan dengan cara lain tanpa merusak masa depan mahasiswa seperti berdonasi. “Demo dari sisi kemanusiaan saja seperti berdonasi. Tidak perlu berdemo yang merugikan mahasiswa. Apalagi orang tua saya sangat berharap saya bisa langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus nanti agar bisa membantu ekonomi keluarga,” ujar mahasiswa yang berharap bisa bekerja di sebuah perusahaan besar saat lulus kuliah nanti. (cls)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU