23 June 2024
HomeBeritaKesraMaluku Tenggara Siap Jadi Sentra Budidaya Rumput Laut di Indonesia

Maluku Tenggara Siap Jadi Sentra Budidaya Rumput Laut di Indonesia

SHNet , Jakarta– Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menetapkan Maluku Tenggara sebagai salah satu modeling sentra budidaya rumput laut di Indonesia selain Wakatobi dan Roten Ndao.

Ketiga wilayah tersebut ditargetkan akan memproduksi minimal 2.187 ton basah tiap tahunnya. Hasil tersebut diperoleh dari 50 hektar  pengembangan pemodelan pada tiap wilayah, termasuk Maluku Tenggara,  yang memiliki potensi 8.662 hektar yang sudah diidentifikasi.

Dipilihnya Maluku Tenggara sebagai salah satu modeling pengembangan rumput laut sudah lewat berbagai kajian baik pihak akademisi, dan pemerintah daerah bahwa wilayah kabupaten tersebut memang bisa memproduksi rumput laut tanpa harus melihat musim angin barat, laut dan timur.

“Penetapan ini tentunya sudah lewat penelusuran dan komunikasi dengan pemerintah provinsi dan kabupaten. Selain penetapan modeling budidaya rumput laut di Maluku Tenggara, ada dua lokasi  Rote Ndao dan Wakatobi yang sudah lebih dahulu berjalan,” ujar Dirjen Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) TB Haeru, Minggu (9/6/2024).

Selama ini masyarakat Maluku Tenggara sudah sangat akrab dengan pengembangan budidaya rumput laut. Meski demikian, ada beberapa kendala yang masih menghantui para pembudidaya, antara lain, fluktuasi harga yang bisa turun sampai Rp 6000 kadang bisa tinggi sampai Rp 40.000 per kilogram, sementara harga di awal Juni 2024 ini berkisar Rp 12.000. Kendala lain sulit nya mendapatkan bibit unggul. Kendala tersebut membuat keberlanjutan skala industri tidak berjalan dengan baik, walaupun laut Maluku Tenggara sangat potensial.

Penetapan Maluku Tenggara sebagai salah satu lokasi sentra produksi budidaya rumput laut disambut bahagia oleh pemerintah provinsi dan kabupaten. Terlihat dari gerak cepat yang dilakukan pemerintah kabupaten Maluku Tenggara yang langsung menyiapkan lahan, peta zonasi secara detil, pemerintah pusat menargetkan 50 hektar diawal, namun pemerintah daerah sudah menyiapkan 8.662 hektar dari 150 ribu hektar potensi yang dimiliki.

(Dok. Nelly Marlinda)

“Beberapa lokasi yang sudah kami siapkan itu meliputi Teluk Hiat Sorbay, Teluk Sathean, Ibra, Ngabub, Teluk Malingga, Perairan Palau Warbal, Tanimbar Kei dan banyak lagi. Dari sisi sumber daya manusia pembudidaya rumput laut juga sudah kami siapkan, untuk menyambut program ini,” terang Sekretaris Daerah (Sekda) Maluku Tenggara, Ir Nicodemus Ubro, di Kabupaten Maluku Tenggara, Sabtu (8/6/2024).

Lebih lanjut mantan Kepala Dinas Perikanan Maluku Tenggara tersebut menjabarkan, pihaknya akan mengawal program tersebut dengan konsisten, mengingat potensi wilayah tersebut memang sangat baik untuk lokasi budidaya rumput laut. Baik pemerintah pusat, Provinsi dan Kabupaten sangat mengharapkan adanya investor masuk untuk membangun hilirisasi industri. Salah satu tujuan hadirnya industri atau pabrik pengolahan rumput laut di sentra budidaya rumput laut adalah membuat harga menjadi stabil dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Hal ini sejalan dengan himbauan Presiden Jokowi agar tidak melakukan ekspor rumput laut secara glondongan atau produk mentah. Minimal kalau tidak bisa langsung jadi tepung, produk setengah jadi pun sudah meninggalkan nilai tambah bagi masyarakat setempat dan menciptakan lapangan pekerjaan.

“Kami sangat membuka luas investasi masuk, kami sangat berterimakasih pada Ibu Nelly jika memang kedatangannya ke Maluku Tenggara untuk membawa investor dari Taiwan. Kami akan mempermudah semua urusan, termasuk memberikan jaminan bahwa lahan yang digunakan untuk pembangunan pabrik bebas dari sengketa,” ungkap Nicodemus.

Di Maluku Tenggara juga akan dibangun kultur jaringan dan laboratorium untuk pembibit. Selain itu persoalan penyakit rumput laut yang tak kunjung menemukan solusi menjadi perhatian pemerintah pusat, akademisi dan tentunya akan melibatkan pihak asing.

“Penerima program ini sudah kami siapkan masyarakat yang tergabung dalam koperasi, kami sudah siapkan lahan, begitu juga dengan skema perizinan akan direkomendasikan oleh pusat. Tentu dengan kerjasama yang sangat baik ini kami cukup optimis Maluku Tenggara akan menjawab tantangan yang diberikan, sebagai salah satu supplier rumput laut terbesar di Indonesia,” ucap Nicodemus penuh optimistis. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU