25 February 2024
HomeBeritaMengapa Boikot Berdampak Minim?

Mengapa Boikot Berdampak Minim?

Oleh: Syarif Ali

Dosen UPN “Veteran” Jakarta

Lokasi parkir di Starbucks Grand Depok City terlihat sepi sore itu (Kamis, 1/12/2023). Hanya ada satu mobil dan tiga sepeda motor.  Sambil mengelap meja, dengan ramah pegawai laki-laki itu mempersilahkan penulis untuk duduk. “Agak sepi sich, tapi tetap saja ada yang datang,” ujarnya.

Starbucks memang salah satu daftar produk yang ‘diharamkan’ oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun, MUI membantah  merilis daftar produk yang diharamkan. Menurut Mifatahul Huda, Sekretaris Komisi Fatwa MUI, pihaknya tidak berkompeten untuk merilis daftar produk Israel atau yang terafiliasi dengan negeri Yahudi (Sabtu, 2/12/2023).

Sayangnya, ketika membacakan Fatwa MUI Nomor 83 Tahun 2023, Ketua MUI Bidang Fatwa, KH Asrorun Niam Sholeh menambahkan MUI menghimbau umat Islam menghindari transaksi dan penggunaan produk yang terafiliasi dengan Israel (mui.or.id, 10/11/2023). Wakil Sekretaris Jenderal MUI, Ikhsan Abdullah menyatakan, aksi ini sebagai bentuk dukungan nyata penolakan terhadap penjajahan Israel atas Palestina di jalur Gaza (neraca.co.id, 22/11/2023).

Gayung bersambut, oknum tertentu segera memposting daftar produk haram dan beredar cepat di beberapa media dan platform online.

Selain starbucks, KFC, Pizza Hut, Burger King, Coca-Cola, Pepsi, Wix dan Puma masuk dalam daftar yang beredar. Merek lain yang berbau Yahudi, seperti Danone, Dunkin Donuts dan Netflix tiba-tiba menjadi produk haram walaupun tidak mengandung alkohol dan daging tertentu.

Aksi boikot memboikot di Indonesi sudah berlangsung lama. Harapan beberapa kelompok tertentu, keuntungan perusahaan asing tersebut anjlok dan pemerintah negara yang produknya tidak laku di Indonesia, akan mengubah kebijakan Internasional untuk kepentingan negara yang terzolimi seperti Palestina. Pertanyaannya, efektifkah aksi boikot tersebut?

Boikot PT Tiki Jalur Nugraha Eka Kurir (JNE)

Beberapa pihak menduga boikot ini berbau SARA. Seruan boikot JNE muncul setelah akun JNE memposting ucapan selamat dari tokoh agama yakni Ustadz Haikal Hasan. Akibatnya beberapa pihak tertentu menduga JNE mendukung ulama tersebut. Segera JNE memberikan penjelasan bahwa bisnis pokok perusahaan ini tidak berhubungan untuk kepentingan suku, agama, ras, dan antar golongan. “JNE merangkul semua golongan dan tidak memihak pada agama, suku bangsa, ras, dan pandangan politik tertentu,” ujar pihak JNE (11/12/2020).

Bisin JNE tidak terpengaruh oleh seruan boikot. Menurut VP Marketing JNE, Eri Palgunadi, rata-rata pertumbuhan tahunan dalam lima tahun terakhir berada di kisaran 30-35 persen. Menurut Eri, ini sudah merupakan pencapaian di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat dan pemain yang semakin banyak.

Boikot Danone-Aqua

Usai Presiden Prancis Emmanuel Macron mendukung seorang guru yang tewas ditikam karena menampilkan karikatur Nabi Muhammad Tahun 2021, Seruan boikot produk Prancis segera menggema di berbagai belahan dunia.

Indonesia salah satu negara yang mengecam pernyataan Macron dan menyerukan boikot produk Prancis. Sehingga, tak heran kemudian Danone Aqua ikut kena imbas karena disebut-sebut sebagai salah satu produk Prancis. Danone memiliki 25 pabrik dengan 13.000 karyawan dan melayani lebih dari satu juta pedagang di seluruh negeri, hingga bulan Oktober 2023 pendapatan Danone-Aqua tetap positif.

 Boikot Sari roti

Pada 2 Desember 2016 lalu, Aksi Bela Islam 212 berlangsung di Jakarta. Ustaz kondang Abdullah Gymnastiar mengunggah gambar dan tulisan di akun Twitter @aagym, pada 3 Desember 2016. Gambar itu memperlihatkan seorang pedagang roti ‘Sari Roti’ yang menempelkan kertas bertuliskan ‘Gratis untuk mujahid’ di kaca kotak dagangannya.

Dampaknya muncul tanda pagar #boikotsariroti saat itu. PT Nippon Indosari Corpindo Tbk segera mengklarifikasi bahwa tindakan pedagang tersebut bukan kebijakan perusahaan. Hingga tahun 2022, ROTI berhasil mengantongi laba sebesar Rp432.22 miliar, meningkat 52.40 persen dibandingkan tahun 2021.

Bagaimana aksi boikot di luar negeri?

Mengutip The Conversation Indonesia (29/11/2023), Aisha Ijaz, Dosen bidang pemasaran, Edge Hill Univesity, melakukan penelitian apakah terjadi perubahan pada perusahaan yang diboikot karena berafiliasi dengan Israel.

Ijaz menyimpulkan, boikot terhadap perusahaan-perusahaan AS telah berhasil meningkatkan kesadaran publikterhadap perilaku Israel terhadap Palestina, tapi dampak ekonominya mungkin tak akan besar. Dampak nyata mungkin muncul jika komunitas internasional mau mendorong aksi korporasi melawan Israel seperti yang terjadi di Rusia–namun sejauh ini belum terlihat tanda-tanda bahwa hal ini akan terjadi.

Pengulas Jurnal Pemasaran Islam ini menambahkan kasus kartun satir Nabi Muhammad oleh koran asal Denmark, Jyllands-Posten pada 2005, menjadikan Arla, perusahaan makanan asal Denmark dan Swedia, sasaran boikot. Setelah 40 tahun membangun bisnisnya di Timur Tengah, perusahaan tersebut terpaksa menderita kerugian finansial dan kehilangan reputasi. Namun perekonomian Denmark tidak terpengaruh.

Ekpansi Rusia ke Ukraina pada 2022, mendorong McDonald’s, Starbucks, Coca-Cola, Nike, Apple, BP, dan Shell menghentikan operasinya di Rusia. Walaupun sempat mengguncang perekonomian, Rusia tidak mengurungkan invasi ke Ukraina hingga hari ini.

Artinya, melihat dari pengalaman Denmark dan Rusia, boikot terhadap perusahaan nampaknya memiliki pengaruh yang minim terhadap perekonomian negara yang disasar, demikian juga dengan Israel.(*)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU