26 February 2024
HomeBeritaMengapa Pemerintah Tidak Takut Berutang?

Mengapa Pemerintah Tidak Takut Berutang?

Oleh: Fachru Nofrian, Ph.D

Isu utang kembali mencuat di Indonesia dan di dunia, baik utang swasta tetapi terutama untukutang publik. Di Indonesia, kenaikan jumlah utang yang signifikan selama masa pandemic sangat terlihatjelas, di mana seluruh dunia juga menghadapi situasi serupa dalam rangka mengurangi dampakpenderitaan akibat krisis Covid-19. Jauh sebelum datangnya pandemi, peningkatan utang sudah terlihatdi Indonesia sebagian besar karena tekanan defisit anggaran akibat peningkatan belanja pemerintahpusat yang selalu meningkat. Hal ini secara efektif berdampak terhadap meningkatnya kekhawatiran risiko dan kemampuan pembayaran di masa depan.

Sejak itu, kekhawatiran akan ketidakpastian situasi ekonomi semakin terungkap terutama terkait pembayaran utang di masa depan. Situasi menjadi lebih parah dengan adanya perang Rusia dan Ukraina yang menyertai peningkatan pinjaman pemerintah dalam USD termasuk pinjaman non-resident mencapai total USD488 milyar. Hutang jenis lainnya termasuk pinjaman dalam negeri dan surat berharga, juga mengalami peningkatan terdorong hingga setidaknya dua tiga kali lipat selama periode. Pinjaman dan surat berharga dalam rupiah tidak terkecuali yang dalam beberapa bulan terakhirmenunjukkan peningkatan dramatis memerlihatkan fluktuasi tingkat utang di kisaran dua digit.

Namun, salah satu hal yang mengejutkan dalam skenario utang Indonesia dan mungkin juga disebagian negara lainnya adalah singkat utang yang selalu meningkat, seakan-akan tidak akan pernah turun. Data juga menunjukkan dengan jelas pembayaran bunga yang mengalami peningkatan tajam dari di bawah nol naik ke level dua digit (y-o-y) atau dari Rp62 triliun pada tahun 2004 menjadi Rp314 triliun pada tahun 2020, jelas mendemonstrasikan bahwa kenaikan pembayaran bunga mengikuti kenaikan utang itu sendiri. Bukti juga menunjukkan pembayaran bunga dalam dan luar negeri yangmemerlihatkan kesenjangan signifikan antara yang pertama dibandingkan yang kedua.

Oleh karena itu, pergerakan utang yang semakin meningkat di Indonesia dan telah menimbulkan kekhawatiran tersebut, terlepas sudah atau belum menyebabkan krisis, perlu ditanggapi lebih serius karena krisis tidak datang tiba-tiba. Lebih dari sekadar perspektif statistik, gejala itu bisa merupakan bentuk perubahan sistemik yang lebih luas dalam perekonomian Indonesia.

Ekspektasi Rasional terhadap Hutang

Peruntukan utang dan manfaat apa yang dapat menguntungkan situasi ekonomi seperti apa, merupakan salah satu subjek ekonomi yang paling tidak dapat diperdebatkan. Hampir diyakini bahwa utang akan memberikan manfaat besar bagi perekonomian dalam keadaan apa pun sehingga adanya utang seakan lebih disukai dan sulit untuk ditolak. Bayangkan ada agen datang membawa uang dalam jumlah banyak dan memberikan pinjaman. Hal ini pasti sulit untuk ditolak. Ini menjelaskan bahwa preferensi atas utang tampaknya tak terelakkan dan menjadi lebih penting daripada utang itu sendiri. Oleh karena itu, kita harus membedakan antara preferensi untuk berutang dan utang itu sendiri.

Meskipun mungkin canggung dan aneh untuk menyatakan preferensi berutang, tetapipreferensi tersebut sama nyatanya dengan penjelasan ekspektasi rasional tentang disposisi prospektif (prediktif) yang dapat dikaitkan dengan utang. Ekspektasi rasional tersebut menjelaskan proposisi yang menetapkan bahwa utang digunakan sebagai alat ekonomi utama dalam mencapai target pertumbuhan dan pembangunan dalam ekonomi dan bisnis. Menurut disposisi ini, utang tidak akan menjadi bom massal dan kalaupun ia adalah bom, maka bom tersebut tidak akan meledak karena akan berperilaku seperti yang diharapkan. Singkatnya, risiko akan utang dapat diantisipasi dan dimitigasi sehingga utang sebetulnya sangat aman seaman memakan donat dan kopi.

Lebih lanjut, perangkat regresi akan memerlihatkan betapa amannya utang tersebut. Dengan adanya data dan variable yang terkait dengan utang, ekspektasi menjadi dapat dikendalikan karena preferensi dapat diukur dan dikontrol, terutama dengan menggunakan asumsi invarian bahwa utang bersifat aman dan prediktif. Adanya data utang dan PDB berarti menjelaskan bahwa utang adalah sesuatu yang dapat diamati sehingga rasio utang dan PDB mengubah fakta utang dari yang tidak dapat diamati seperti ketidakpastian menjadi fakta yang dapat diamati yaitu kepastian.

Seperti diketahui, tanpa adanya indikator rasio utang terhadap PDB di Indonesia, maka akan muncul berbagai spekulasi terkait keamanan utang tetapi adanya rasio tersebut yang masih memerlihatkan di bawah 60 persen menjelaskan proporsi utang yang masih jauh dari level berbahaya. Rasio tersebut tentunya dapatdiperluas ke variabel lain seperti pajak dan pengeluaran yang menunjukkan bahwa rasio utang tidak akan meluluhlantahkan negara sehingga pasti aman, terlebih lagi dengan adanya berbagai jaminan politik.

Utang sebagai Utang itu Sendiri

Berbeda dengan ekspektasi rasional, salah satu faktor tandingan yang bisa membalik disposisi prospektif utang adalah utang itu sendiri (debt in itself). Pengalaman merupakan bukti yang masih sangat jelas mengingatkan kita di Indonesia akan krisis moneter tahun 1998 yang melelehkan ekonomi makro negara dan menyeret laju pertumbuhan hingga minus 16 persen, terendah sejak kemerdekaan. Pada saat itu, tidak ada model regresi yang menjelaskan datangnya krisis yang mana utang sangat berkontribusi pada mimpi buruk itu.

Sebelum tahun 1998, kita juga ingat krisis utang yang melanda Pertamina yang membawa pelambatan laju pertumbuhan sekitar tahun 1983. Penampakan utang dari satu periode ke periode lainnya merupakan ciri dari utang itu sendiri yang juga terjadi di negara lain sehingga dapat digeneralisasikan. Sebagai contoh, Di India, negara tersebut pernah mengalami krisis utang yang parah di era 1990. Seperti diketahui, negara ini memiliki defisit transaksi berjalan yang terus-menerus dan defisit luar negeri yang cukup besar yang sudah dimulai sebelum tahun 1990, ketika krisis ekonomi yang sebenarnya melanda.

Negara lain yang juga memiliki pengalaman buruk dengan utang adalah Argentina, di mana default utang terbesar dalam sejarah terjadi di sana. Negara ini masih dalam perjalanan keluar dari beban utang yang berat. Data dan informasi terkait utang ini dapat diperluas ke negara lain terutama di selatan. Dengan demikian, utang memiliki logikanya sendiri yang belum teramati di masa yang akan datang (unobservable).

Kembali ke Pemerintah

Jadi, kisah utang tidak hanya tentang kisah heroik ketika membantu defisit anggaran pemerintahuntuk mengatasi krisis seperti pandemi yang disebabkan oleh Covid-19, tetapi juga tentang tragedi yangharus dibayar suatu negara untuk jangka panjang dengan semua konsekuensinya. Di era pandemi,pemerintah tidak punya pilihan selain menambah utang untuk mengganti pengeluarannya untuk program kesehatan dan sosial yang dilanda krisis. Dengan meningkatnya utang, risiko juga akanmeningkat. Pada saat yang sama, kapasitas fiskal di negara berkembang biasanya terbatas karena sifat penciptaan uangnya, termasuk yang ada di Indonesia, untuk membiayai pembangunan dan utang. Dengan meningkatnya utang, akan semakin membatasi ruang fiskal dalam perekonomian yang sedang berkembang.

Harus diakui bahwa pada akhirnya utang harus dibayar. Menggunakan logika ekspektasi rasional, logika hutang akan terbatas hanya pada individu sedangkan utang publik merupakan utang sosial dan lebih dari sekadar individu. Kumpulan individu bukan berarti sosial ataupun agregasi ekonomi yang dapat diartikan untuk membayar utang. Artinya ketimpangan juga akan meningkat seiring dengan meningkatnya utang karena siapa yang menguasai modal akan menguasai utang dan pendapatan darinya. Keseimbangan antara ekspektasi rasional dan utang itu sendiri tidak akan terjadi sehingga meskipun mungkin aman untuk berhutang tetapi pada akhirnya, mereka yang tidak memiliki modal tentu akan menghindari utang. Munggkin ini dapat menjadi pertimbangan bagi kebijakan ekonomi yang lebih baik di masa yang akan datang.

Penulis, Fachru Nofrian, Ph.D adalah Dosen dan peneliti pada Lembaga Kajian Ekonomi dan Bisnis (LKEB) FEB UPNVJ. Alumnus Panthéon-Sorbonne University, Paris, Prancis.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU