14 April 2024
HomeBeritaPariwisataMenparekraf Perkirakan Fenomena "Revenge Travel" Menurun pada 2024

Menparekraf Perkirakan Fenomena “Revenge Travel” Menurun pada 2024

SHNet, Jakarta– Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno menyampaikan sejumlah insight terkait perkembangan pariwisata dunia yang didapat Kemenparekraf/Baparekraf saat mengikuti ITB Berlin Convention 2024 yang merupakan bagian dari penyelenggaraan ITB Berlin beberapa waktu lalu.

Menparekraf Sandiaga dalam “The Weekly Brief With Sandi Uno” di Jakarta, Senin (18/3/2024), mengungkapkan salah satu insight dari forum yang menghadirkan 200 sesi dan lebih dari 400 pembicara adalah fenomena revenge travel. Tren wisata yang dilakukan secara masif oleh wisatawan akibat perjalanan mereka sebelumnya tertunda akibat pandemi COVID-19 akan menurun di tahun 2024.

“Jadi kalau kita sempat terkena pandemi dan akhirnya banyak yang balas dendam untuk traveling di tahun 2022 atau 2023, tahun ini akan menurun drastis. Diproyeksikan perkembangan dan pola dari industri pariwisata akan kembali normal seperti sebelum pandemi,” kata Menparekraf Sandiaga.

Kendati akan kembali normal, tetap ada sejumlah tantangan yang dihadapi pariwisata global. Di antaranya adalah isu-isu terkait dengan geopolitik, perlambatan ekonomi atau inflasi, dan juga masalah mengenai staff shortage (manajemen sumber daya manusia).

(Dok. Biro Komunikasi Kemenparekraf)

“Industri pariwisata diperkirakan baru akan sepenuhnya pulih pada tahun 2025,” kata Sandiaga.

Dari ITB Berlin Convention 2024 juga didapat  lainnya. Seperti penggunaan teknologi dalam industri pariwisata yang semakin meningkat.

Berdasarkan data, sebanyak 38 persen wisatawan global berencana melakukan perjalanan wisata yang konsepnya once in a lifetime atau sekali seumur hidup di tahun 2024. Kemudian 77 persen wisatawan global akan melakukan planning, booking, dan dreaming secara digital.

Tren teknologi di pariwisata juga semakin meningkat dimana 48 persen wisatawan mencari destinasi melalui perangkat mobile phone, 47 persen mencari penerbangan melalui aplikasi, 40 persen melakukan pemesanan melalui mobile phone, dan 22 persen wisatawan sudah menggunakan artificial intelligence atau chatbot dalam perencanaan wisata.

Media sosial juga menjadi inspirasi utama wisatawan global untuk berwisata. Sebanyak 40 persen wisatawan global menjadikan YouTube sebagai sumber sumber inspirasi untuk berwisata, 35 persen terinspirasi dari mulut ke mulut (word of mouth), dan 33 persen terinspirasi dari Instagram (sosial media).

“Digitalisasi ini sangat berdampak pada keputusan wisatawan untuk bepergian. Jadi ini luar biasa, sosial media juga bisa menjadi inspirasi utama. Maka destinasi juga sektor transportasi harus memperhatikan ini dengan baik,” kata Sandiaga.

Terkait pasar Tiongkok, tahun ini diperkirakan 100 juta warga Tiongkok siap melakukan perjalanan wisata khususnya perjalanan jauh long haul. Wisata cruise menjadi salah satu yang diperkirakan akan banyak diminati wisatawan Tiongkok.

“Tapi ini jadi tantangan kita, karena Indonesia masih menerapkan visa policy yang belum membuka, sementara negara tetangga sudah membuka. Kita juga belum memenuhi kuota penerbangan langsung yang cukup. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk menarik wisatawan dari Tiongkok,” ujar Menparekraf Sandiaga.

ITB Berlin Convention 2024 juga menampilkan insight bahwa wisata kuliner sangat berpotensi untuk dikembangkan. Hal ini lantaran tercatat bahwa 46 persen wisatawan global menjadikan aktivitas teratas yang dilakukan di destinasi adalah mencicipi kuliner lokal.

Sementara 42 persen wisatawan memiliki preferensi untuk jalan-jalan dan melihat-lihat (sightseeing), serta 40 persen lebih memilih untuk menghabiskan waktu berwisata di daerah pantai.

Selain itu, tren kunci di 2024 secara umum adalah pasar Asia semakin berkembang, mereka akan datang dalam small group dan lebih memilih mengunjungi dan beraktivitas wisata luar ruang seperti ke pantai hingga mengunjungi situs budaya dan sejarah.

“Data-data ini harus dapat kita manfaatkan. Kita harus menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya,” kata Menparekraf Sandiaga. (Stevani Elisabeth)

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU