İstanbul escort bayan sivas escort samsun escort bayan sakarya escort Muğla escort Mersin escort Escort malatya Escort konya Kocaeli Escort Kayseri Escort izmir escort bayan hatay bayan escort antep Escort bayan eskişehir escort bayan erzurum escort bayan elazığ escort diyarbakır escort escort bayan Çanakkale Bursa Escort bayan Balıkesir escort aydın Escort Antalya Escort ankara bayan escort Adana Escort bayan

22 February 2024
HomeBeritaPariwisataMenparekraf: Prestasi Siswa SMP Labschool pada “Rimini Fest” Italia Jadi Motivasi Generasi...

Menparekraf: Prestasi Siswa SMP Labschool pada “Rimini Fest” Italia Jadi Motivasi Generasi Muda

SHNet, Jakarta- Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno berharap sejumlah penghargaan yang diraih oleh para siswa dan siswi SMP Labschool Kebayoran, Jakarta Selatan, dalam “Rimini Fest” di Italia bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi generasi muda lainnya untuk mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.

“Kami sangat mengapresiasi Labschool dengan swasembada membawa kebanggaan untuk Indonesia dan ini adalah bentuk kolaborasi. Semoga capaian ini bisa menginspirasi dan memotivasi anak-anak muda kita untuk terus berkarya,” ujar Menparekraf Sandiaga dalam The Weekly Brief With Sandi Uno” yang berlangsung secara hybrid, di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, kemarin.

Rimini Fest yang diselenggarakan pada 30 Juli – 3 Agustus 2023 merupakan kegiatan tahunan yang diinisiasi European Association of Folklore Festivals (EAFF). Tim Indonesia yang diwakili oleh kelompok tari dan musik Anandita Naraya Nusantara (ANN) SMP Labshool Kebayoran membawa 27 siswa-siswi untuk bersaing dengan perwakilan dari Georgia, Rumania, hingga Ukraina.

Tim ANN berhasil memperoleh tiga predikat membanggakan. Diantaranya Tarian Tradisional Kelompok “Reog Ponorogo’ meraih penghargaan _grand prix_. Kemudian Aqila Putri Tangjaya meraih penghargaan Laureat 1 atau Juara 1 sebagai penyanyi solo tradisional dengan lagu berjudul “Lingsir Wengi”. Dan Zayyanah Khalisa Izatti meraih penghargaan Laureat 1 atau Juara 1 dengan tarian tradisional Bali “Geg”.

Menparekraf Sandiaga berharap ke depan pihak sekolah dapat menjalin kolaborasi guna mendukung secara all out event international seperti Rimini Fest. Sandiaga juga berupaya menjadi jembatan penghubung antara pihak sekolah dengan Kemendikbudristek sehingga talenta anak muda Indonesia sepenuhnya mendapat dukungan dari pemerintah.

“Apalagi Eropa ini terutama Italia dan Uni Eropa menjadi target pasar wisatawan yang cukup potensial buat kita dan juga untuk kedepannya bagi produk ekonomi kreatif,” kata Sandi.

Direktur Musik, Film, dan Animasi Kemenparekraf Mohammad Amin mengatakan, dengan memberikan ruang bagi para siswa bertalenta di kancah global diharapkan mampu memberikan kepercayaan diri yang kemudian menjadi pengalaman akan seni dan musik yang sangat berharga.

“Saya kira hal ini juga bisa meningkatkan daya imajinasi,” ujar Amin.

Guru Pendamping Tim Musik dan Tari Tradisional – SMP Labschool Kebayoran Cinthia Puji Bhintarti menjelaskan para siswa yang berpartisipasi dalam Rimini Fest bukanlah penari profesional. Mereka hanya siswa-siswi SMP Labschool Kebayoran yang kemudian lolos dan terpilih pada tahap seleksi.

(Dok. Biro Komunikasi Kemenparekraf)

“Kemudian selama sekitar 3 sampai 4 bulan mereka berlatih. Dan tarian yang di pilih adalah Reog Ponorogo dan musiknya live dimainkan oleh mereka,” kata Cinthia.

Wakil Ketua Anandita Naraya Nusantara dan Juara 1 Solo Dance Performance Zayannah Khalisa Izzat berbagi hal menarik ketika tim Indonesia mendapatkan penghargaan. Dimana ada salah satu orang tua peserta yang berasal dari Ukraina menghampiri tim Indonesia dan berkata bahwa tarian yang dibawakan yakni Reog Ponorogo mengharukan negara mereka.

“Tarian kita menceritakan tentang keberanian dan perjuangan dalam menghadapi peperangan dan bagaimana memenangkan sebuah perdamaian,” ujarnya.

Ketua Kelompok Tim Musik dan Tari Tradisional SMP Labschool Kebayoran Nabil Athadaffa Muliawan menyampaikan harapannya. Dimana tujuan tim ANN mengikuti ajang internasional ini adalah untuk misi budaya, mempertahankan, dan mengajukan kembali Reog Ponorogo sebagai sebuah seni budaya yang khas dan asli dari Indonesia dan juga ini adalah sebuah keindahan seni dari Indonesia.

“Alangkah baiknya kita sama-sama pertahankan seni ini dan bisa diakui oleh UNESCO dan dunia,” kata Nabil.

Reog Ponorogo memang telah diajukan sebagai intangible cultural heritage (ICH) atau warisan budaya tak benda dari UNESCO. Selain ICH, Kabupaten Ponorogo juga sedang diupayakan sebagai perwakilan Indonesia dalam jaringan kota kreatif UNESCO (UCCN) kategori craft and folk arts. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU