26 February 2024
HomeBeritaMenparekraf Sandiaga Uno: Potensi Pariwisata Jalur Rempah Tak Kalah dengan Jalur Sutra

Menparekraf Sandiaga Uno: Potensi Pariwisata Jalur Rempah Tak Kalah dengan Jalur Sutra

Jakarta-Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno mendukung pengembangan potensi Jalur Rempah yang merupakan jalur legendaris yang menghubungkan dunia barat dan timur.

“Jalur rempah memiliki potensi besar bagi pariwisata Indonesia untuk digali dan dikembangkan. Potensi Jalur Rempah tidak kalah dengan jalur sutra China yang sudah mendunia,” jelas Menparekraf Sandiaga Uno dalam Webinar Nasional “Jalur Rempah: Jalan Kebudayaan Menuju Sustainable Living” yang diselenggarakan Selasa (15/2/2022). Menparekraf menyampaikan dua kali pandangan mengenai jalur rempah, yakni melalui rekaman video dan juga live dari sela-sela kepadatan tugas di Likupang, Sulawesi Utara.

Kegiatan ini diselenggarakan Archipelago Solidarity Foundation, Sinar Harapan.Net, Kemendikbudristek bersama dengan Universitas Pattimura, Universitas Islam Negeri Ambon, UKI Maluku, Politeknik Negeri Ambon, Institut Agama Kristen Protestan Negeri.

Webinar sehari ini menghadirkan narasumber Keynote Speech Dirjen Kebudayaan, Kemendikbudristek, Bapak Hilmar Farid PhD (pembicara utama), Prof. Ismunandar (Duta Besar/Wakil Tetap Indonesia untuk UNESCO), Jefrrey Malaiholo, PhD (Bahasa Basudara London), Dr. Ir. Semuel Leunufna (Direktur Pusat Konservasi Keanekaragaman Hayati Maluku, Universitas Pattimura), Dr. Gino Limmon (Direktur Pusat Maritim dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura); Dr. Otto Syamsuddin Ishak,MSi (Sosiolog Universitas Syiah Kuala Aceh); Dr. Restu Gunawan, M.Hum (Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Ditjen  Kebudayaan, Kemendikbudristek); Prof. Dr. Diena Mutiara Lemy, A.Par, MM, CHE (Dekan Fakultas Pariwisata dan Ketua Program Studi Magister Pariwisata Universitas Pelita Harapan Jakarta).

Menurut Menteri Sandiaga yang juga tokoh dari kawasan Timur Indonesia ini, bagi Indonesia, jalur rempah memiliki potensi yang dapat digali dan dikembangkan, yakniwisata sejarah (susur), kulinur, wellnes, Dia mengatakan, pemerintah mendorong spice of the world untuk mendorong agar kuliner hadir di manca negara dan memberi nilai tambah bagi Indonesia.

“Program ini digagas karena ada fakta rempah Indonesia kurang dikenal di mancanegara. Dampak positif yakni menarik kunjungan wisatawan ke Indonesia guna eksplorasi, kuliner, budaya dan alamnya,” tutur Sandiaga yang juga merupakan tokoh dari kawasan Timur Indonesia ini.

Sandiaga mengharapkan semua pihak berkolaborasi untuk mengembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif  berbasis rempah untuk mengembangkan ekonomi dan media aktualisasi untuk warisan budaya.

Sementara itu, Direktur Archipelago Solidarity Foundation, Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina dalam pengantarnya, mengatakan, webinar ini digelar untuk menggali dan menemukan potensi jalur rempah, bukan sekadar sejarah tetapi bagaimana jalur rempah membawa manfaat bagi masa kini dan masa depan.

Engelina mengatakan, bagi Indonesia jalur rempah bukan sekadar jalur perdagangan pada masa silam, tetapi merupakan identitas Indonesia. Pencarian rempah inilah yang membentuk untaian kepulauan Indonesia. “Jalur Rempah bukan sekadar sejarah, tetapi menyimpan beragam potensi umtuk dikembangkan ke depan,” katanya.

Engelina memaparkan, webinar nasional ini diikuti 700 lebih perserta dari berbagai wilayah. Sesuai data yang ada, kata Engelina, peserta berasal dari 30 provinsi di Indonesia dan peserta juga datang dari 10 negara, yakni Singapore, Malaysia, Australia, New Zealand, Inggris, Belanda, Jerman, Amerika, Curacao  dan Prancis.

Rektor Universitas Pattimura Ambon, Prof. Dr. M.J. Saptenno mengharapkan adanya perhatian serius pemerintah dalam mengembangkan pariwisata, terutama di Maluku. Bahkan, dia meminta agar pemerintah mempertimbangkan Maluku sebagai salah satu destinasi prioritas nasional.

Dalam kesempatan itu, Prof Saptenno menyampaikan pandangan yang menyoroti pengelolaan potensi di Maluku yang tidak membawa kesejahteraan masyarakat. Dia mengingatkan, agar kebijakan tidak semata-mata mengedepan pendidikan dan melupakan kebudayaan. “Sebab percuma kalau orang pintar tapi tidak memahami budaya. Sekarang budaya lokal semakin tergerus dari akarnya,” tegasnya.

Menurutnya, pemerintah perlu memikirkan adanya pendidikan kebudayaan mulai dari PAUD, sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Kalau tidak, katanya, maka kebudayaan lokal akan semakin tergerus.

Ketika menutup kegiatan webinar, Rektor Universitas Islam Negeri Ambon, Dr. Zainal Abidin Rahawarin, MSi mengatakan, jalur rempah ini sangat penting, tetapi pemerintah terlalu lama menelantarkannya. Dia mengatakan, sangat ironis, karena ketika masa kejayaan rempah berlalu, kemudian jalur rempah ini dibiarkan begitu saja.

Dia mengharapkan, agar pemerintah benar-benar memperhatikan Maluku, karena kekayaan alam melimpah tetapi merupakan daerah miskin. “Kalau ke Maluku, jangan hanya ke Ambon, tapi lihat juga pulau-pulau dan daerah lainnya,” tegasnya.(den)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU