29 November 2022
HomeBeritaNagara Koto Gadang, Sentra Kerajinan Perak di Sumbar

Nagara Koto Gadang, Sentra Kerajinan Perak di Sumbar

SHNet, Jakarta – Sentra kerajinan perak Nagari Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat yang berjarak sekitar 6 kilometer dari pusat Kota Bukittinggi, telah membuat aneka kerajinan perak sejak jaman pendudukan Belanda.

Kota Bukittinggi merupakan kota wisata andalan Sumatera Barat. Setiap libur panjang, kota tersebut seakan penuh sesak karena dikunjungi oleh berbagai wisatawan lokal hingga mancanegara. Tak jarang, wisatawan sengaja berkunjung ke Koto Gadang untuk mencari suvenir yang tentunya memiliki desain khas Minangkabau.

Namun perlahan jumlah perajin dan pengusaha kerajinan perak di sentra perak itu mulai berkurang. Kini hanya ada sekitar 25 perajin dan pengusaha yang tersisa.

Satu dari sedikit pengusaha itu adalah Fitri Haryanti, yang mendirikan usaha kerajinan aksesori perak yang diberi nama Sulaman dan Silver Cici sejak 2003.

Tergiur akan omzet dari penjualan kerajinan perak, ibu dari tiga anak itu pun memberanikan diri untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai pegawai pemerintahan agar bisa fokus merintis bisnis.

Selain itu, melestarikan budaya yang sudah ada sejak beratus abad lalu itu turut menjadi alasan Fitri mendirikan usahanya.

“Jadi kita sebagai penerus dari zaman dulu berfikir bagaimana agar kerajinan perak di Koto Gadang tidak punah. Karena itu Ibu tertarik untuk berusaha sebagai perajin dan penjual kerajinan Koto Gadang dan juga melestarikan perhiasan di Minangkabau,” kata Fitri seperti dikutip Antara.


Ia pun mempelajari ilmu bisnis dari pamannya yang berjualan emas. Sedangkan untuk mengolah perak menjadi aneka kerajinan dan aksesori, suaminya bernama M.Iskandar lah yang menjadi perajin. Iskandar belajar ilmu-ilmu dasar dari kakaknya, kemudian dia terus mengasah ilmunya secara otodidak seiring berjalannya waktu.

Meski jenis aksesori yang dijual Iskandar tidak banyak seperti gelang dan kalung, namun variasinya sangat beragam. Mulai dari aksesori untuk pemakaian sehari-hari dengan waktu pengerjaan paling cepat 1 hari hingga aksesori yang kerap digunakan pada acara adat seperti pernikahan yang memakan waktu pengerjaan hingga 15 hari.

Untuk menyiasati permintaan pasar dengan harga yang lebih terjangkau, beberapa aksesori buatan Iskandar berasal dari perunggu yang kemudian dilapisi perak atau emas. Harga yang dipatok pun bervariatif mulai dari ratusan ribu hingga belasan juta.

Karya buatan pria usia 55 tahun itu pun mendapat pengakuan dari masyarakat dan pemerintah setempat, tak jarang ia mendapat permintaan khusus untuk membuat aneka miniatur.

“Terkadang bangunannya sudah tidak ada, hanya ada foto saja. Saya harus mempelajari dulu bentuk dari bangunan tersebut atau meminta mereka menyampaikan cerita dibalik benda tersebut agar bisa memahami filosofinya dan membuat bangunan sesuai gambaran itu,” ungkap Iskandar. (Vicky Tjoa)

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU