22 May 2022
HomeBeritaPakar: BPA di Galon Polikarbonat Sama Dengan Bahan Kimia pada Obat

Pakar: BPA di Galon Polikarbonat Sama Dengan Bahan Kimia pada Obat

Jakarta-Bisfenol A (BPA) yang ada di dalam galon berbahan Polikarbonat (PC) sama dengan bahan kimia yang ada di dalam obat yang jika digunakan melebihi dosis yang ditetapkan akan berbahaya bagi yang menggunakannya. Untuk itulah ada batas aman yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Kalau BPA dalam kemasan itu ada batas migrasi amannya, kalau pada obat ada dosis aman penggunaannya.

Pakar Polimer Institut Teknologi Bandung (ITB), Ahmad Zainal Abidin, mengatakan semua bahan kimia itu berbahaya jika digunakan dalam dosis yang berlebihan. “Obat saja, jika diberikan dalam dosis yang berlebihan akan membahayakan bagi pasiennya. Tapi, jika diberikan dalam dosis yang pas dan tidak berlebihan, obat itu justru bisa menyembuhkan pasien,” ujarnya.

Seperti diketahui, kelebihan mengkonsumsi dosis obat menyebabkan seseorang mengalami muntah-muntah, diare, pusing, sesak napas, gangguan kecemasan, dan tubuh yang kekurangan oksigen. Selain itu, kelebihan dosis yang tidak segera diatasi dapat menyebabkan kerusakan pada beberapa fungsi organ.

Dia mengibaratkan BPA itu seperti obat yang kalau dalam dosis tertentu bisa bermanfaat. Parasetamol saja, menurut Zainal, kalau dalam jumlah banyak bisa berbahaya. “Tapi, kalau dosisnya pas kan dia jadi obat,” tuturnya.

Stirena juga, kata Zainal, kalau dalam jumlah besar dia menjadi toksinogenik. “Tapi, buah Ceri itu juga mengandung stirena, tapi malah kata dokter sehat jika dimakan. Jadi, ada baiknya kalau melihat sesuatu itu harus dikaji terlebih dahulu secara mendalam,” katanya.

Begitu juga vaksin, itu ada dosis aman pemakaiannya. “Vaksin itu kalau diberikan dalam jumlah besar, ya klenger orangnya. Makanya dosisnya dibatasi supaya tubuh ini memberi daya imun. Begitu juga dengan narkoba, dalam dosis yang berlebihan dia akan berbahaya, tapi dalam dosis tertentu dia justru digunakan untuk pengobatan. Jadi, orang harus punya pikiran begitu, harus expert judgement,” ujarnya.

Dia menegaskan bahwa setiap barang itu ada efek positif dan negatifnya dan itu sudah merupakan hukum Tuhan seperti itu. “Dengan memakai dasar logika hukum Tuhan itu, saya saat ini bisa menciptakan asap yang tadinya itu bahaya lalu bisa saya bersihkan. Kalau orang lain kan asap itu dibuang. Kalau saya, saya pakai sisi positifnya untuk pestisida organik,” ucapnya.

Makanya, menurut Zainal, di sinilah penting adanya BPOM untuk mengawasinya, yang dibantu juga oleh pakar-pakar yang memang ahli di bidangnya bukan yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan yang mau diawasi.  “Untuk kasus BPA ini, ya yang dipercayai itu harusnya pakar-pakar kimia dan pangan lah, bukan orang-orang yang sama sekali tidak memiliki latar belakang pengetahuan tentang kimia dan pangan,” kata Zainal.

Terkait migrasi BPA, dia mengatakan bahwa migrasi BPA dari kemasan itu  memang tetap ada akibat masih adanya yang belum bereaksi saat pembuatan galon, dan itu jumlahnya tidak banyak. Tapi, kata Zainal, itu tidak hanya terjadi pada galon PC saja melainkan juga pada galon berbahan PET atau sekali pakai.

“Jadi, kalau ada label BPA Free itu adalah sebuah kebohongan. Begitu juga jika nanti ada Etilen Glikol Free untuk galon PET. Sebab, tidak ada yang free. Kata-kata yang tepat itu lebih bagus di bawah batas aman atau tidak usah dibuat sama sekali karena memang sudah aman. Daripada ribut-ribut seperti yang terjadi saat ini,” tukasnya. (cls)

 

ARTIKEL TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU