İstanbul escort bayan sivas escort samsun escort bayan sakarya escort Muğla escort Mersin escort Escort malatya Escort konya Kocaeli Escort Kayseri Escort izmir escort bayan hatay bayan escort antep Escort bayan eskişehir escort bayan erzurum escort bayan elazığ escort diyarbakır escort escort bayan Çanakkale Bursa Escort bayan Balıkesir escort aydın Escort Antalya Escort ankara bayan escort Adana Escort bayan

22 February 2024
HomeBeritaPakar Sayangkan Pernyataan YLKI Soal Bahaya BPA Kemasan Kaleng

Pakar Sayangkan Pernyataan YLKI Soal Bahaya BPA Kemasan Kaleng

SHNet, Jakarta-Pakar menyayangkan pernyataan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, yang mengatakan bahaya BPA dalam air minum dalam kemasan tidak bisa dibandingkan dengan kemasan kaleng. Para pakar tetap berpendapat BPA dalam kemasan kaleng jauh lebih berbahaya ketimbang dalam kemasan air minum.

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (Unhas),Prof. Dr. Anwar Daud, SKM., M.Kes, C.EIA mengatakan seharusnya YLKI sebagai lembaga yang bertugas melindungi konsumen tidak mengeluarkan pernyataan yang membingungkan seperti itu. “Yang saya sampaikan bahwa BPA yang lebih berbahaya ada dalam makanan kaleng itu kan hasil penelitian di jurnal. Jadi, seharusnya YLKI tidak seperti itu, Tugasnya kan melindungi konsumen bukan melindungi produsen,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Pakar Polimer  dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ir. Akhmad Zainal Abidin, M.Sc., Ph.D. Dia mengatakan tidak sepakat dengan pernyataan yang disampaikan YLKI. Menurutnya, secara ilmiah, produk itu dinyatakan berbahaya jika zat kimia dari kemasannya yang bermigrasi itu melebihi batas ambang aman. Katanya, BPA itu menjadi berbahaya tergantung pada konsentrasinya dan jumlah komulasinya dalam tubuh dan juga pada lamanya kontak pada produknya.  Kalau di galon, itu kontak dengan airnya itu sebentar. Jadi yang migrasi ke air konsentrasinya lebih kecil. Tapi, kalau yang di kaleng itu lama kontak dengan bahannya. Jadi yang migrasinya lebih banyak dan konsentrasinya lebih tinggi.

“Kalau YLKI tidak mengerti hal itu keterlaluan. Mungkin kurang ilmu saja,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi mengatakan perbandingan konsumsi rutin minum air 8 gelas sehari dari galon bekas pakai dengan makan makanan kaleng tidak dapat dibandingkan. Menurutnya, klaim di sosial media ini tak sangat tidak masuk akal.

Tulus menjelaskan kedua kemasan tersebut mengandung senyawa berbahaya Bisphenol A (BPA). Namun, minum dari galon bekas pakai jauh lebih berbahaya karena frekuensinya rutin setiap hari dan terakumulasi dalam tubuh manusia selama bertahun-tahun. Sedangkan makan makanan kaleng lebih jarang dilakukan.

“Urusan keamanan untuk melindungi masyarakat seharusnya membuat pemerintah tanpa kompromi,” kata Tulus dalam keterangan tertulis, Selasa (20/12).

“Jika dibandingkan, bahaya kontaminasi BPA pada galon guna ulang justru 8 kali lebih besar daripada makanan kaleng, membandingkan keduanya saja sudah sulit diterima akal sehat,” tegasnya.

Pernyataan YLKI ini juga bertentangan dengan penelitian kemasan kaleng di Universitas Stanford dan Johns Hopkins University yang dipublikasikan Environmental Research baru-baru ini yang menunjukkan adanya paparan Bisfenol A (BPA) pada makanan kaleng. Disebutkan, semakin banyak mengonsumsi makanan kaleng maka akan semakin berpeluang untuk seseorang terkontaminasi BPA.

“Saya dapat makan tiga kaleng peach, orang lain bisa makan satu kaleng sup krim jamur, dan saya memiliki paparan lebih besar terkena BPA,” kata pemimpin penelitian, Jennifer Hartle dari Stanford Prevention Research Center, seperti dilansir Laboratory Equipment.

Pakar teknologi pangan dari IPB, Aziz Boing Sitanggang, juga mengatakan adanya kecenderungan BPA dalam kemasan makanan kaleng itu bermigrasi ke bahan makanannya. “Tapi, seberapa besar pelepasan BPA-nya kita tidak tahu. Karena di Indonesia belum ada studi untuk meng-compare langsung dan itu perlu dikaji lagi lebih jauh,” tuturnya.

Disebutkan, proses migrasi BPA dari kemasan kaleng itu bisa disebabkan beberapa faktor. Di antaranya proses laminasi BPA-nya, PH atau tingkat keasaman produk dalam kemasan kaleng itu,  dan pindah  panas dari produk pangannya.  Dia mencontohkan sarden, jamur, nanas yang dikalengkan itu beda-beda pindah panasnya saat disterilisasi, sehingga perlakuan kombinasi suhu dan waktu  pemanasannya juga berbeda-beda .  “Ketika itu beda-beda, berarti  peluang migrasi BPA-nya juga berbeda-beda. Tapi, semakin asam bahan makanannya atau PH semakin rendah, kemungkinan besar bisa merusak laminasi epoksinya,” katanya.

Dr. Melyarna Putri, M.Gizi dari KlikDokter juga menyarankan tidak boleh sering-sering mengonsumsi makanan kaleng dalam jumlah yang terlalu banyak. “Meski kandungan nutrisinya sama dengan makanan segar, tapi makanan kaleng ditambahkan bahan kimia selama proses pengemasan. Bahan kimia yang digunakan dalam pengemasan salah satunya adalah BPA yang digunakan untuk menghalau karat dari kaleng. Bahan kimia ini tidak baik untuk kesehatan kalau dikonsumsi dalam jumlah yang terlalu banyak,” ujarnya. (cls)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU