5 March 2024
HomeBeritaKesraPeran Utama Pustakawan dalam Mentransfer Ilmu Pengetahuan

Peran Utama Pustakawan dalam Mentransfer Ilmu Pengetahuan

SHNet, Jakarta – Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando, mengukuhkan empat pustakawan ahli utama di Indonesia.

Dalam pengukuhan, para pustakawan ahli utama juga melakukan orasi ilmiah. Empat pustakawan ahli utama yang dikukuhkan adalah Adriati dari Perpusnas, Rochani Nani Rahayu dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Sari Puspita Andriani Sulistyowati dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, serta Tupan dari BRIN.

Syarif Bando menyebut, pustakawan memiliki peran penting dalam mengumpulkan informasi-informasi, kemudian melakukan diseminasi informasi. Namun, diseminasi informasi juga harus ditutorialkan. Sehingga pengetahuan yang ada di dalam koleksi perpustakaan, dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, khususnya yang tidak mengenyam pendidikan tinggi.

Kemas ulang informasi harus dilakukan dalam bahasa yang mudah dimengerti dan sederhana. Dia menegaskan, transfer ilmu pengetahuan sebagai hal utama yang harus dilakukan perpustakaan dan pustakawan pada masa kini. Untuk mendukung hal tersebut, Syarif Bando memerintahkan jajarannya membangun laman yang memuat peran dan kiprah para pustakawan utama Indonesia untuk memastikan adanya transfer ilmu pengetahuan.

Pada saat ini, menurutnya, persaingan antarbangsa dalam menghasilkan produk dengan teknologi tinggi, semakin kompetitif. Dia mendukung peningkatan produktivitas profesi pustakawan dengan berkolaborasi bersama profesi lainnya, seperti peneliti dan guru besar perguruan tinggi.

“Apakah dia namanya pustakawan, peneliti, guru besar? Saya tidak mau membatasi, karena ini bukan eranya kompetisi, ini eranya kolaborasi. Mari guru besar, pustakawan peneliti, mari kita sajikan ilmu untuk masyarakat Indonesia maju melalui Perpusnas,” jelasnya dalam Orasi Ilmiah dan Pengukuhan Pustakawan Ahli Utama yang diselenggarakan Perpusnas, di Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas, Jakarta, pada Senin (6/12/2021).

Dia menegaskan, perpustakaan dan pustakawan harus mengubah paradigma. Saat ini, perpustakaan harus menjangkau masyarakat melalui koleksi yang dimilikinya, bukan masyarakat menjangkau perpustakaan.

Sementara itu, pustakawan ahli utama Nani Rahayu dalam orasi ilmiahnya memaparkan pustakawan berperan dalam pengembangan kemas ulang pengetahuan. Dia mendapati kondisi bahwa informasi tentang hasil penelitian tidak sampai ke masyarakat. Di sinilah peran pustakawan dibutuhkan.

Di BRIN/LIPI, tercatat populasi sekitar 2.000 peneliti dan 20 orang pustakawan tingkat keahlian yang melakukan kemas ulang pengetahuan hasil penelitian. Terdapat 16 bentuk kemasan informasi yang telah dilayankan di BRIN/LIPI di antaranya Fokus Informasi Indonesia, Info Ristek, Info HAKI, Paket Informasi Teknologi, dan sebagainya.

Lulusan Magister Ilmu Lingkungan dari Universitas Indonesia ini menekankan, diseminasi kemas ulang informasi berdampak positif bagi peneliti dan pustakawan BRIN/LIPI serta masyarakat luas. “Dampak diseminasi kemas ulang informasi, LIPI dikenal di kalangan UMKM juga berbagai pemerintah daerah di Indonesia, karena keberadaan kemas ulang pohon industri serta panduan usaha, seri info teknologi, tepat guna,” ujarnya.

Kemas ulang informasi diharap dapat dikembangkan dalam bentuk lainnya seperti visualisasi data, komik, permainan, dan lainnya, sesuai dengan perkembangan teknologi informasi. Selain itu, peningkatan kompetensi pustakawan juga sangat diperlukan, mengingat mereka menjadi mitra peneliti. “Akan lebih mudah beradaptasi apabila pustakawan memiliki latar belakang ilmu tertentu sehingga dapat mengimbangi serta memahami kebutuhan peneliti,” ungkapnya.

Dalam orasi ilmiahnya, pustakawan ahli utama Adriati, menjelaskan Perpusnas dapat menjadi pusat copy cataloging. Dia menyebut, copy cataloging merupakan proses pengatalongan dengan mengambil cantuman bibliografi yang ada di perpustakaan lain, dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Copy cataloging bermanfaat karena menjadi mengatasi keterbatasan pustakawan di Indonesia, baik dari sisi jumlah maupun kompetensi, dalam melakukan pengorganisasian bahan perpustakaan. “Selan itu, menghindari duplikasi pekerjaan dalam pengorganisasian bahan perpustakaan, sehingga bahan perpustakaan cepat sampai ke layanan untuk dimanfaatkan oleh pemustaka,” pungkasnya. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU