12 April 2024
HomeBeritaKesraPertama di Indonesia, SCI Gelar Seminar Internasional Kapal Selam

Pertama di Indonesia, SCI Gelar Seminar Internasional Kapal Selam

SHNet, Jakarta– Kondisi keamanan global dan Kawasan Asia Pasific saat ini sedang memanas dengan berlangsungnya perang antara Rusia dengan Ukraina dan antara Israel dan Hamas, yang diperkirakan akan berlangsung lama.

Meningkatnya konflik di beberapa
kawasan baik yang sedang terjadi perang maupun berpotensi perang berdampak negara negara di Kawasan dan sekitar konflik meningkatkan kekuatan militernya dan meningkatkan akuisisi kapal selam yang canggih baik nuklir maupun non nuklir.

Hal ini yang melatarbelakangi Submariner Club Indonesia (SCI) menggelar seminar internasional “Kapal Selam Masa Depan”, pertama di Indonesia. Seminar tersebut akan dilaksanakan di Hotel Borobudur Jakarta, 14-15 Mei mendatang.

“Tiap tahun kita adakan HUT kapal selam pada 12 September. Kali ini kita adakan pertama kali seminar internasional kapal selam” ujar Wakil Ketua Submariner Club Indonesia, Aji Sularso, di Jakarta, Selasa (26/03/2024) malam.

Seminar internasional tersebut dimaksudkan sebagai forum perkenalan teknologi kapal selam ke depan dengan tujuan untuk
menjadi acuan bahan kajian dan analisis bagi penentu kebijakan untuk melakukan pemilihan kapal selam yang handal.

Kapal selam merupakan salah satu unsur kekuatan militer yang menjadi tolok ukur kekuatan pertahanan suatu negara, mengingat kapal selam memiliki keunggulan dibandingkan kapal perang jenis lain (atas permukaan) dan memiliki fungsi khusus antara lain: intelligence; surveillance; striking force; interception.

Kapal Selam dengan
mudah menghancurkan kapal lain terutama kapal atas air sementara posisinya sulit dideteksi.

Perimbangan daya tempur kapal selam sama dengan 8 kapal Destroyer, dengan kalkulasi tempur sebuah kapal selam dapat membawa 8 torpedo yang dapat
ditembakkan untuk menghancurkan 8 kapal Destroyer.

Kapal selam nuklir pada intinya dibagi dua yaitu kapal selam nuklir dengan sistem pendorong atau sumber energi Nuklir dengan senjatanya juga Nuklir dan kapal selam yang sumber energinya Nuklir tapi persenjataanya non Nuklir.

Indonesia merupakan salah satu negara yang anti nuklir sehingga kapal selam yang dimiliki adalah non nuklir baik sumber energinya maupun persenjataannya.

Oleh karena itu, pilihan Indonesia dalam mengakuisisi kapal selam adalah kapal selam non Nuklir.

Perkembangan teknologi saat ini memungkinkan Indonesia untuk memilih kapal selam non Nuklir namun dengan teknologi sistem pendorong yang mampu menyelam lama di laut dan dengan sistem senjata torpedo maupun rudal yang memiliki akurasi tinggi dan daya gempur yang tinggi.

“Indonesia butuh 12 kapal selam untuk mempertahankan wilayah kedaulatan Indonesia. Saat ini Indonesia punya 4 kapal selam,” kata Aji Sularso.

Beberapa negara saat ini sedang mengembangkan kapal selam dengan teknologi pendorong AIP (Air Independent Propulsion) dan Lythium Ion Battery (LIB) yang mampu menambah waktu menyelam lebih lama dibandingkan dengan Diesel Elektric dan battery cair (liquid acid).

Sebagai perbandingan, kapal selam dengan Diesel Elektrik paling lama menyelam 3 hari dan harus timbul minimal snorkling untuk mengisi battery, kapal selam dengan AIP dapat menyelam selama 14 hari sedangkan kapal selam dengan LIB dapat menyelam selama 78 hari.

Produsen kapal selam masa depan yang saat ini banyak bermunculan di pasaran adalah U boat buatan Jerman dengan varian U 212; U 214 atau U218 dengan teknologi AIP dan Scorpene
buatan Perancis dengan varian AM 2000 AIP atau varian Evolved yang full LIB.

Terdapat empat jenis sistem AIP yang dikenal di dunia internasional yakni Closed Cycle Diesel Engine, MESMA (Modul d’Energie Sous-Marine Autonome / Modul
Energi Submarine Autonomous), Stirling, dan Fuel Cell. Masing-masing dari jenis AIP
memiliki kekurangan dan kelebihan.

Pilihan sistem persenjataan bagi kapal selam baik dengan AIP maupun LIB adalah
Torpedo yang saat ini handal seperti Black Shark; Torpedo SUT dan dapat pula dilengkapi dengan ranjau maupun Rudal seperti Exocet atau Harpoon.

Pengadaan Kapal Selam ke depan mengacu kepada sasaran Indonesia menjadi negara maju pada tahun 2045, perlu mengacu kepada UU Pertahanan maupun UU Industri Pertahanan adalah: harga; transfer teknologi dibangun di galangan kapal dalam negeri dan sesuai kebutuhan operasional dan daya tempur.

Aji Sularso menjelaskan, forum seminar diperlukan untuk memperkenalkan pilihan pilihan teknologi secara lebih rinci dari nara sumber produsen kapal selam untuk dijadikan bahan kajian bagi pihak Indonesia. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU