İstanbul escort bayan sivas escort samsun escort bayan sakarya escort Muğla escort Mersin escort Escort malatya Escort konya Kocaeli Escort Kayseri Escort izmir escort bayan hatay bayan escort antep Escort bayan eskişehir escort bayan erzurum escort bayan elazığ escort diyarbakır escort escort bayan Çanakkale Bursa Escort bayan Balıkesir escort aydın Escort Antalya Escort ankara bayan escort Adana Escort bayan

22 February 2024
HomeBeritaPotensi PTM di Masa Mendatang Sebab Masyarakat Tak Paham Bahaya Konsumsi Gula...

Potensi PTM di Masa Mendatang Sebab Masyarakat Tak Paham Bahaya Konsumsi Gula Berlebih

SHNet, Jakarta-Tak dapat dipungkiri, pemahaman dan kesadaran masyarakat akan pentingnya memperhatikan asupan gizi anak masih rendah. Masih jamak orang tua memberi makan anak dengan tujuan agar kenyang. Padahal, ada yang lebih penting,  yaitu mencukupi kebutuhan nutrisi agar anak sehat secara fisik, serta memiliki perkembangan otak yang optimal. Di masa mendatang, anak-anak yang mendapat kecukupan gizi di masa kecil memiliki kemampuan untuk bersaing secara global.

Adalah sejumlah elemen masyarakat yang dalam beberapa tahun terakhir memiliki perhatian lebih terhadap persoalan mendasar ini. PP Aisyiyah  misalnya. Organisasi masyarakat dengan ratusan ribu kader yang tersebar di seluruh Indonesia ini secara aktif mengajak kader nya untuk lebih waspada dalam hal pemberian makanan dan minuman untuk anak.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian organisasi perempuan ini masih ditemukannya kebiasaan mengkonsumsi kental manis yang dijadikan sebagai minuman susu untuk anak. Meskipun sudah ada ketentuan untuk tidak menggunakan produk ini sebagai minuman susu untuk anak, namun masyarakat seolah abai dengan tingginya kandungan gula dalam produk. Maka tidak heran, empat tahun pasca dikeluarkannya PerBPOM no 31 tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan  yang didalamnya memuat aturan label, promosi dan penggunaan SKM, jenis susu ini masih menjadi yang tertinggi dikonsumsi oleh rumah tangga.

Salah satunya terlihat melalui laporan Badan Pusat Statistik Jawa Timur (BPS Jatim) mengenai Pengeluaran untuk Konsumsi Rumah Tangga Provinsi Jawa Timur 2021, menyebutkan penduduk Jawa Timur lebih banyak mengonsumsi susu kental manis dibandingkan jenis susu bubuk.

Dalam satu bulan, setiap penduduk Jawa Timur mengonsumsi susu kental manis sebesar 0,17 kg, di perkotaan sebesar 0,18 kg lebih banyak dibanding di pedesaan sebesar 0,16 kg. “Konsumsi susu pada tahun 2021 tidak mengalami peningkatan, justru pada komoditi susu bubuk turun tidak terlalu signifikan dan terjadi di pedesaan,” jelas Kepala Badan Pusat Statistik Jawa Timur (BPS Jatim), Dadang Hardiwan seperti dilansir dari laman resmi BPS.

Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Dra. Chairunnisa, M.Kes, mengatakan kebiasaan menjadikan SKM sebagai susu anak disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat dan ekonomi. “Dari kunjungan-kunjungan kami ke berbagai daerah, kami mewawancarai orang tua anak dan balita yang mengkonsumsi SKM, memang karena mereka tidak tahu bagaimana seharusnya produk ini digunakan. Dan yang kedua adalah karena harganya lebih ekonomis, lebih terjangkau bagi keluarga-keluarga dengan penghasilan harian,” jelas Choirunnisa.

Pada kunjungan keluarga di beberapa wilayah di Kab Langkat, Sumatera Utara yang dilakukan medio tahun ini, PP Aisyiyah merangkum sejumlah temuan-temuan di masyarakat. Seorang ibu dengan balita berusia hampir tiga tahun yang ditemui di Pangkalan Brandan mengaku memberikan putranya kental manis karena lebih kurus dari anak lainnya. Ia sendiri lupa sejak usia berapa putranya mengkonsumsi SKM. Namun ia memastikan bahwa anaknya tidak mendapat ASI eksklusif lantaran ASI nya sedikit. Sehingga sebelum berusia enam bulan, si bayi sudah mengkonsumsi bubur nasi. Pemilihan SKM sebagai susu yang diberikan kepada anak semata-mata karena mudah diperoleh di warung sekitar tempat tinggal dan tersedia dalam kemasan sachet dan dapat dibeli harian. Ia sendiri tidak tahu bahwa SKM tinggi kandungan gula serta tidak paham mengkonsumsi gula berlebih tidak baik bagi tumbuh kembang anak.

Lain lagi cerita dari wilayah Rumbai, Kota Pekanbaru, Riau. Berdasarkan laporan kader kesehatan yang melakukan penyuluhan gizi di kawasan perkebunan tersebut, keluarga-keluarga yang mengkonsumsi kental manis sebagai minuman berawal dari bantuan-bantuan sosial yang diterima masyarakat.

“Kami di sini sering dapat bantuan sembako, banyak yang terima program bantuan dari pemerintah. Dapat susu kaleng (susu  kental manis) dari situ. Jadi kalau dapat susu, anak minta minum susu kental manis. Kalau tidak ada, ya tak minum susu. Anak-anak makan apa yang di rumah. JArang juga beli susu karena harganya mahal,” ujar Imah, ibu dengan dua balita usia 4 dan 2 tahun. Dijelaskan Imah, selama ini ia tidak paham bahwa tidak semua jenis susu dapat dikonsumsi oleh anak, terutama balita.

Mengutip Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, dr. Zaini Rizaldy S, bahwa jika dilihat dari komposisi yang ada pada dalam kemasan Susu Kental Manis, terdapat beberapa bahan yang patut dipertanyakan, yaitu skim atau krimer, dan gula. Hal inilah yang harus diperhatikan oleh orang tua, terutama terkait konsumsi gula pada anaknya. Terlebih, dalam SKM terdapat gula yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak.

“Ini dapat dijelaskan ke anak-anak bahwa ada susu yang banyak gulanya ada yang memang susu untuk anak. Jangan sampai salah kasih susu, memang sama-sama susu, tapi kalau tidak tepat penggunaannya bisa membahayakan. Seperti susu kental manis ini, kita memang biasanya terpengaruh iklan, dan kita tidak melihat komposisinya bagaimana.” jelas dr. Zaini.

Senada dengan Zaini, dokter anak Dr. dr. Tubagus Rachmat Sentika Hasan, Sp.A, MARS menjelaskan masih terbiasanya masyarakat membiarkan anak-anak mengkonsumsi susu kental manis karena efek kesehatan dari konsumsi makanan dan minuman yang tinggi kandungan gula karena efeknya tidak datang seketika.

“Anak-anak terbiasa makan dan minum yang tinggi kandungan gula, besok, atau minggu depan atau bulan depan belum tentu akan sakit. Tapi saat dewasanya nanti, ia lebih rentan terkena penyakit-penyakit seperti obesitas, diabetes dan penyakit-penyakit tidak menular lainnya,” jelas Rachmat Sentika. (bila)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU