22 June 2024
HomeBeritaKesraProgram Equibility, Bantu Penyandang Disabilitas Menuju Indonesia Inklusi

Program Equibility, Bantu Penyandang Disabilitas Menuju Indonesia Inklusi

SHNet, Jakarta- Evolusi 3D, Bhinneka Prostetik dan Tutur Daya serta didukung oleh Organisasi Junior Chamber Internasional (JCI), Universitas Mercu Buana dan Asosiasi Penerap Printer Tri Dimensi Indonesia (PRINTRIDI) menginisiasi program Equibility: Equity for Disability Through Innovation yang diluncurkan di Universitas Mercu Buana (UMB), Jakarta, Jumat pekan lalu.

Program ini memandang pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam menciptakan karya-karya inovatif kelas dunia yang dapat membantu orang dengan keterbatasan mobilitas agar dapat tetap produktif berkarya dan membuka akses pada ruang kerja.

Program ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan – Social Development Goals (SDGs) Goal ke-10 yang bertemakan tentang: Mengurangi Kesenjangan Intra dan Antar Negara.

Pada pembukaan dan Talkshow perdana Program Equibility tampak Hadir Direktur Bina Penempatan Tenaga Kerja Dalam Negeri (PTKDN) Kementerian Ketenagakerjaan Siti Kustiati, SE.,M.Si; Rektor UMB Prof. Dr Andi Andriansyah M.Eng;
2024 Local President Junior Chamber International (JCI) Jakarta Satria Ramadhan;
Sekjen Asosiasi Penerap Printer Tri Dimensi Indonesia (PRINTRIDI) Dipl. Ing.Wisnu Arya Permadi ST. MBA.; Komisi Nasional Disabilitas Dr.Rachmita Maun Harahap ST. M.Sn; Forum CSR DKI Jakarta Fatkhul Manan S.A.P, M.Sos.;
dan pemangku kepentingan lainnya

Menurut 2024 Local President JCI Jakarta Satria Ramadhan, program Equibility sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan – Social Development Goals (SDGs) Goal ke-10 yang Mengurangi Kesenjangan Intra dan Antar Negara.

“JCI Jakarta melalui program EQUIBILITY bertujuan untuk membuka jalan menuju Indonesia inklusif, dimana setiap orang, termasuk penyandang disabilitas, memiliki kesempatan yang adil untuk berkembang dan berkontribusi dengan bantuan inovasi yang tepat,” ucap Satria Ramadhan.

Rektor UMB Prof. Dr. Andi Adriansyah yang membuka kegiatan ini mengatakan, program Equibility sangat sejalan dengan visi dan misi pendidikan bagaimana dunia pendidikan menerapkan ilmu yang berguna bagi masyarakat luas. Apalagi sesuai juga dengan salah satu tujuan SDGs yaitu Mengurangi kesenjangan di dalam dan antar negara, termasuk di dalamnya kesenjangan antara anggota Masyarakat termasuk kaum disabilitas.

Sekjen Asosiasi Penerap Printer Tri Dimensi Indonesia (PRINTRIDI) Dipl. Ing.Wisnu Arya Permadi ST. MBA. memaparkan bahwa Equibility dapat berjalan dengan lancar bila pihak yang tepat saling terhubung dan menciptakan Synergy diantara mereka, sehingga dapat tercipta karya inofatif kelas dunia yang dapat menginspirasi berbagai lapisan Masyarakat dengan bantuan Teknologi 3D Printing

“Pada prinsipnya Get Connect, Create Synergy and Be Inspired dengan Teknologi 3D Printer dapat menciptakan karya inovatif kelas dunia untuk orang berkebutuhan khusus. Hal Ini Sudah umum di Luar Negeri.” Ucap Dipl. Ing.Wisnu Arya Permadi ST. MBA.

Banyak orang yang masih mengira bahwa Produk 3D Print hanya sebatas prototipe. Faktanya saat ini di sekitar kita sudah mulai bermunculan Produk 3D Print mulai dari mainan, komponen mesin, Fashion hingga alat-alat kesehatan termasuk soket tangan dan kaki palsu untuk kaum disabilitas tuna daksa.

Equilibity Workshop

Setelah Peresmian, dilanjutkan program Equibility Workshop: Terobosan 3D Scan & 3D Print pembuatan kaki Prostesis yang Terjangkau, Presisi dan Professional.

Workshop ini dibawakan oleh para ahli di setiap bidang, dan hasil karya 3D print Prostesis akan diberikan secara gratis kepada tuna daksa usia produktif yang terpilih dan hadir.

Dalam Equibility Workshop menghadirkan inovator nasional dan internasional seperti,
Joren Valleys dari Ugani Prosthetics, Belgium (Secara Online);
Ketua Umum Asosiasi PRINTRIDI (Asosiasi Penerap Printer Tri Dimensi Indonesia)
Eric Rudolf Thedjasurya, M.B.A., B.Eng.;
Joko Suliyarto. A.md OP (SIP/Surat Izin Praktik: 446/OP.03/DPMPTSP/2022),, Pemilik Bhinneka Prostetik;
Faizal Rezky Dhafin S.Ds, Direktur PT Rekayasa Teknologi Medis Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi PRINTRIDI (Asosiasi Penerap Printer Tri Dimensi Indonesia) Eric Rudolf Thedjasurya, M.B.A., B.Eng. yakin melalui kolaborasi lintas bidang dapat menggabungkan keahlian dan ide-ide segar untuk menghasilkan solusi inovatif yang berdampak nyata bagi kehidupan orang lain.

“Teman Berkebutuhan Khusus dengan inovasi yang tepat dapat mewujudkan inklusi. Teknologi 3D Scan dan 3D Print akan mempercepat inovasi teknologi dan keterlibatan profesional lintas bidang menjadi kunci utama keberhasilan. Keahlian dan pengetahuan yang tepat memastikan bahwa produk yang dihasilkan aman, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.” ucap Ketua Umum Asosiasi PRINTRIDI Eric Rudolf Thedjasurya, M.B.A., B.Eng.

Dalam Workshop ini, Joko Suliyarto A.md OP (SIP/Surat Izin Praktik: 446/OP.03/DPMPTSP/2022), menyampaikan Tujuan utama dari pembuatan kaki palsu adalah mobilitas agar pasien dapat hidup mandiri dan produktif kembali tanpa terhalang keterbatasan fisiknya.

“Namun yang paling awal dilakukan adalah bagaimana penerimaan diri atas kondisi fisiknya, baru kemudian percaya diri menghadapi masa depan”, ujarnya.

Ia mengakui bahwa Teknologi 3D Scan dan 3D Print memiliki potensi yang sangat besar dalam membantu proses pembuatan kaki Prostesis yang professional.

“Dengan terobosan 3D Scanner yang portabel dan 3D Printer, hal itu dapat mempercepat proses pengukuran hingga produksi test socket pada kaki palsu dengan hasil yang presisi dan profesional, dan masih banyak potensi untuk pembuatan aksesoris prostesis” utara dari Joko Suliyarto A.md OP

Sedikit yang mengetahui profesi Ortosis Prostesis Professional, selain itu di masyarakat ada Tukang / Bengkel Pembuatan Kaki palsu di sekitar kita. Banyak teman-teman tuna daksa yang menerima bantuan CSR berupa kaki palsu, tapi apakah kaki palsu tersebut di buat oleh Professional Ortosis Prostesis dan benar-benar bermanfaat untuk bisa kembali produktif?

Faizal Resky Dhafin yang memilik keahlian dalam pembuatan tangan palsu, menjelaskan bahwa selama ini yang banyak diproduksi adalah tangan palsu hanya untuk penampilan atau estetika, namun dengan kemajuan teknologi juga bisa dibuat tangan palsu untuk fungsional.

“ Setidaknya tangan palsu bisa digunakan untuk memegang dalam meningkatkan produktifitas dalam bekerja sehari-hari. Namun untuk pergerakan lebih lanjut diperlukan inovasi dalam teknologi karena untuk sistem gerak, misalnya pergelangan atau jari-jari masih bersifat mekanikal, jika pun ada yang menggunakan sistem electrical masih tidak tahan air dan sensornya tidak tahan lama, “ katanya.

Inovasi teknologi yang aksesibel adalah kunci untuk membuka potensi dan mendorong kesetaraan bagi kita dan teman difabel menuju Indonesia inklusi. Dalam realitasnya, kita masih menghadapi kompetisi dan keterbatasan akses terhadap inovasi membantu disabilitas. Terdapat juga pandangan tertutup dalam mempekerjakan disabilitas, ketidaktahuan masyarakat cara dapat hidup selaras Bersama disabilitas, serta pembedaan aktivitas disabilitas dan non-disabilitas.

Untuk itulah Program Equibility hadir untuk menjadi Solusi Inovasi Teknologi yang aksesible di Indonesia. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU