22 October 2021
HomeBeritaRefleksi Diri atau Mulat Sarira Lewat Ubud Writers and Readers Festival di...

Refleksi Diri atau Mulat Sarira Lewat Ubud Writers and Readers Festival di Bali

Ubud- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) terus berupaya memberikan dukungan terhadap penguatan bahasa dan budaya Indonesia di ajang internasional. Tahun ini, Kemendikbudristek melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan Direktorat Jenderal Kebudayaan mendukung penyelenggaraan Ubud Writers and Readers Festival ke-18 pada 8—17 Oktober 2021 di Ubud, Bali. Tema yang diangkat adalah “Mulat Sarira”, atau dalam bahasa Indonesia berarti Refleksi Diri.
Melalui tema tersebut, Ubud Writers and Readers Festival 2021 mencoba mengeksplorasi refleksi diri, introspeksi budaya, dan hak asasi manusia, yaitu menilik siapa diri kita, apa yang menyatukan dan memisahkan kita, dan apa yang mendorong setiap tindakan kita. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menghadiri seremoni pembukaan Ubud Writers and Readers Festival di Taman Dedari, Ubud, pada Kamis malam (7/10), didampingi oleh Kepala Badan Bahasa, E Aminudin Aziz, dan Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid.
Dalam sambutannya, Mendikbudristek mengapresiasi penyelenggaraan Ubud Writers and Readers Festival di masa pandemi dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Ia mengatakan, Ubud Writers and Readers Festival adalah ruang yang merdeka bagi semua orang untuk saling berefleksi, bertukar ide, dan berbagi harapan. Festival ini menjadi kesempatan untuk melihat lebih dalam ke diri sendiri, melatih “Mulat Sarire” sebagai petunjuk menjalani hidup setelah pandemi. Ia berharap festival ini dapat memperdalam pemahaman atas diri sendiri, orang lain, juga lingkungan dan alam sekitar. Sebuah Refleksi Budaya akan membukakan mata dan jalan untuk maju ke panggung global dengan karya-karya anak bangsa yang menggugah dan bermakna. Kini, tuturnya, para pelaku budaya di Indonesia juga berhak merasakan kemerdekaan dalam belajar dan berkarya.
“Kesempatan-kesempatan itu kami harapkan akan menghadirkan ruang-ruang kolaboratif yang lebih hidup dan bermakna di antara pelaku budaya dan masyarakat. Menuju Indonesia bahagia yang bernapaskan kebudayaan sebagai DNA kita,” ujar Mendikbudristek.
Ke depan, tuturnya, dalam semangat gotong royong, Indonesia perlu membangun ekosistem sastra, seni, dan budaya yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Dan Ubud Writers and Readers Festival tahun ini akan menjadi titik awal untuk mewujudkan cita-cita tersebut.
“Saya berharap negeri elok yang kaya budaya tutur atau lisan ini juga kaya dengan budaya tulisan yang mencerdaskan kehidupan bangsa dan memberikan referensi indah bagi dunia tentang Indonesia,” kata Mendikbudristek.
Ia kemudian menjelaskan beberapa program prioritas di bidang kebahasaan dan kebudayaan yang digagas Badan Bahasa dan Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek. Melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek telah menjalankan program residensi sastrawan ke wilayah 3T sebelum masa pandemi, dan berbagai program lainnya. Kemudian melalui Ditjen Kebudayaan, Kemendikbudristek memberikan Apresiasi Pelaku Budaya kepada 59.000 pelaku budaya yang terdampak pandemi dan memprioritaskan vaksinasi bagi para pelaku budaya. Hal tersebut merupakan upaya pemerintah untuk memastikan para pelaku budaya dapat terus mengekspresikan gagasan dan pemikiran melalui karya-karya terbaiknya.
Pada Ubud Writers and Readers Festival 2021, sastrawan Indonesia, (almarhum) Budi Darma, mendapatkan penghargaan sepanjang masa atau lifetime achievement. Budi Darma merupakan salah satu penulis paling berpengaruh di Indonesia, yang telah menerima penghargaan tertinggi Indonesia untuk Darmatama Sastra Kemendikbud pada tahun 2020 dan Satya Lencana Kebudayaan pada tahun 2003. Banyak karyanya, seperti Olenka, Orang-Orang Bloomington, dan Kritikus Adinan, sangat dipuji oleh komunitas sastra sedunia. Selain di Indonesia, ia juga pernah menerima penghargaan di SEA WRITE Award dari Kerajaan Thailand dan Anugerah Sastra Asia Tenggara dari Kerajaan Brunei.
Penghargaan sepanjang masa tersebut diberikan secara daring oleh Direktur Ubud Writers and Readers Festival, Janet DeNeefe, kepada anak dari Almarhum Budi Darma, Diana Budi Darma. Melalui video, Diana Budi Darma mengucapkan terima kasih atas penghargaan yang diberikan untuk ayahandanya. Ia bercerita, sang ayah selalu melihat Ubud Writers and Readers Festival sebagai momentum yang tepat untuk membangkitkan semangat dan memberikan pencerahan kepada masyarakat dalam meningkatkan kreativitas. “Semoga dengan adanya penghargaan ini semakin memperkaya khasanah kesusastraan Indonesia dan menjadi inspirasi bagi penulis-penulis Indonesia,” tutur Diana Budi Darma.
Pembukaan Ubud Writers and Readers Festival ditandai dengan pemukulan kulkul oleh Mendikbudristek dan Direktur Ubud Writers and Readers Festival secara bersama sama, didampingi oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dirjen Kebudayaan, Wakil Gubernur Bali, dan Bupati Gianyar. Seremoni pembukaan kemudian dilanjutkan dengan makan malam dan berdiskusi bersama para penulis dan sastrawan. Dalam acara makan malam tersebut, Mendikbudristek duduk dan berdiskusi di satu meja bersama penulis Mat Toyu, Gody Usnat, Darmawati Madjid, Ama Achmad dan Cyntha Hariadi.(dd)
ARTIKEL TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU