25 February 2024
HomeBeritaPariwisataTren Investasi Pariwisata Hijau 2024 Makin Diminati

Tren Investasi Pariwisata Hijau 2024 Makin Diminati

SHNet, Jakarta– Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan tren investasi hijau pada 2024 di sektor pariwisata (green tourism) mengindikasikan semakin diminati para investor.

Hal itu terlihat dalam empat tahun terakhir sektor energi terbarukan (dalam mewujudkan green tourism) telah terbukti menarik total investasi modal tertinggi.

Pada periode 2018 -2022 trennya menunjukkan bahwa hotel dan aktivitas pariwisata menyumbang hampir dua pertiga dari seluruh proyek Penanaman Modal Asing (PMA/FDI) klaster pariwisata, diikuti software dan IT services di peringkat kedua. Investasi di usaha software dan IT services tumbuh dari 10 persen pada 2018 menjadi 28 persen pada 2022. Itu menunjukkan penguatan peran teknologi digital di sektor pariwisata.

Menparekraf Sandiaga Uno menyatakan perhatian investor terhadap volatilitas makro ekonomi cenderung menurun, meskipun masih menjadi concern utama. Sementara itu perubahan iklim justru semakin menjadi kekhawatiran di tahun mendatang, meningkat 10 persen di 2023 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Dengan perhatian yang semakin besar terhadap isu perubahan iklim, sudah saatnya bagi kita untuk memperkuat komitmen terhadap pembangunan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan, kata Menparekraf Sandiaga Uno dalam Indonesia Tourism Outlook 2024 bertajuk Peluang dan Tantangan Investasi untuk Pariwisata Berkelanjutan yang digelar oleh Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) di Hotel AOne Jakarta, kemarin.

Menparekraf Sandiaga Uno menjelaskan, investasi sektor pariwisata ke depan akan diarahkan pada 3 aspek utama, sebagaimana menurut Badan Pariwisata Dunia (UNWTO), yaitu investasi pada sumber daya manusia (SDM) sebagai prioritas utama dalam proses pembangunan.

Serta Investasi untuk keberlanjutan sebagai tujuan akhir pembangunan dan investasi melalui teknologi dan inovasi sebagai katalisator untuk mencapai kesejahteraan.

“Sekitar 60 persen investasi di bidang pariwisata masuk ke bidang infrastruktur, tetapi ke depan lebih banyak pada manusia (SDM). Hal itu penting untuk menyiapkan sektor itu dengan tenaga kerja yang tepat untuk risilient dan untuk menciptakan masa depan sektor pariwisata yang lebih baik. Kita tidak bisa berkelanjutan jika kita tidak memiliki cukup banyak manusia yang kompeten,” kata Sandiaga Uno.

Sementara itu menurut Andry Satrio Nugroho, Kepala Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi (INDEF), investasi wisata berkelanjutan  menjadi tren ke depan terutama pada energy-efficient transition.

Tren ke depan sektor akomodasi didorong untuk menghadirkan penggunaan perangkat yang efisien dalam menghasilkan energi ramah lingkungan. Juga meningkatkan efisiensi penggunaan air bersih. Water management dalam mengefisiensikan penggunaan air bersih oleh wisatawan serta pengelolaan limbah secara terpadu menjadi perhatian pelaku industri pariwisata dan perhotelan.

“Tren pariwisata 2024 akan mengalami hyperlocal and slow travel  dimana para wisatawan ini tidak ingin cepat-cepat menghabiskan waktu. Waktu yang dihabiskan dalam berwisata jauh lebih lama dan memilih destinasi domestik yang menawarkan konsep alam dan wisata hijau. Juga dalam penggunaan teknologi dan personalisasi  serta bleisure or workations,” katanya.

(Dok. Forwaparekraf)

Founder Tanakita  Eko Binarso mengatakan, wisata petualangan menjadi tren pariwisata ke depan seperti adventure activities (hiking, culture, kuliner, dll) menjadi hot trending tahun 2023.

Eko Binarso mengatakan, wisata petualangan yang belum digarap secara optimal adalah wisata alam. “Kita harus bangga punya world heritage seperti Gunung Rijani, Komodo, Gunung Leuser yang aktivitas wisatanya sangat ramah lingkungan,” kata Eko.

Tantangan pengembangan wisata alam, menurut Eko Binarso, antara lain infrastruktur, aksesibilitas, bencana alam, keselamatan wisatawan, pengelolaan dampak, promosi dan branding, koordinasi kelembagaan, menciptakan destinasi baru, polusi.

Vitria Ariani, Pengamat Pariwisata sekaligus CEO & Founder Berbangsa mengatakan, kalau mau belajar sustainable, bisa belajar dari desa wisata. “Desa Wisata, yang tadinya enggak dilihat, sekarang jadi destinasi yang dilihat banget. Ini terjadi saat pandemi COVID-19,” kata Vitria Ariani.

Sementara AB Sadewa, Corsec Panorama Group menuturkan ekonomi hijau itu bisa masuk dalam pendapatan pajak terkait dengan jual beli karbon dengan memanfaatkan tata laksana penerapan nilai ekonomi karbon yang betul.

“Sustainability memang gampang diomongin tapi ternyata sulit dikerjakan prakteknya, karena itu perlu komitmen bersama mewujudkan green tourism,” tutur Sadewa.

Menurutnya, ada empat hal yang membuat kita memiliki komitmen untuk mewujudkan green tourism, pertama perubahan iklim dan pelestarian alam, kedua demand dari sisi market, ketiga regulasi, dan keempat kebutuhan industri. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU