İstanbul escort bayan sivas escort samsun escort bayan sakarya escort Muğla escort Mersin escort Escort malatya Escort konya Kocaeli Escort Kayseri Escort izmir escort bayan hatay bayan escort antep Escort bayan eskişehir escort bayan erzurum escort bayan elazığ escort diyarbakır escort escort bayan Çanakkale Bursa Escort bayan Balıkesir escort aydın Escort Antalya Escort ankara bayan escort Adana Escort bayan

22 February 2024
HomeBeritaWarga Sangihe untuk Ketiga Kalinya "Menjemput" dan Mengadang Barang PT.TMS

Warga Sangihe untuk Ketiga Kalinya “Menjemput” dan Mengadang Barang PT.TMS

Sangihe-Masyarakat dari berbagai kampung di Pulau Sangihe, Sulut sudah siap ” menjemput ” dan mengadang untuk ketiga kalinya peralatan milik PT.TMS  yang diangkut oleh sebuah kapal ferry dari Amurang, Rabu (23/2/2022) petang.

Perusahaan Tambang PT. Tambang Mas Sangihe (TMS) ini memang tak ada kapok-kapoknya memaksakan diri untuk membawa alat beratnya ke Kepulauan Sangihe.

Terhitung sudah dua kali masyarakat Sangihe menggagalkan aksi mereka membawa alat berat berupa driling bor dan perlengkapan pengolahan emas yang akan digunakan pada operasi awal di Kampung Bowone, Kecamatan Tabukan Selatan Tengah, Kepulauan Sangihe.

Pada hari Rabu (23/2/2022) masyarakat menerima informasi bahwa PT. Tambang Mas Sangihe (TMS) kembali mencoba menyeberangkan lagi alat berat yang sebelumnya digagalkan masyarakat.

Mereka hendak menggunakan layanan transportasi KMP Porodisa (Ferry) yang berangkat, Selasa 22 Februari 2022 dari Pelabuhan Ferry Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan. Konsolidasi pun dilakukan Koalisi Save Sangihe Island (SSI) menghasilkan kurang lebih seratus orang masyarakat dari berbagai wilayah berdatangan dengan menggunakan mobil truk, pick up dan kendaraan motor roda dua berkumpul di Pelabuhan Ferry Pananaru tujuan KMP Porodisa.

Sejak Pukul 4  petang Witeng masyarakat berdatangan memadati areal pelabuhan, mereka memastikan bahwa barang-barang milik PT. TMS yang kabarnya ada di dalam kapal tersebut tidak boleh diturunkan dan harus dibawa kembali ke tempat asalnya.

Sekitar pukul 5.30  KMP Porodisa tiba. Masyarakat berkoordinasi dengan pihak pelabuhan dan aparat yang ada untuk memeriksa setiap angkutan yang keluar. Alhasil tak ditemukan barang milik PT. Tambang Mas Sangihe (TMS).

Keterangan Capt, Yuratman yang menakhodai KMP Porodisa membenarkan bahwa awalnya pihak perusahaan tersebut telah mengangkut dua mobil berupa tronton ke dalam kapal.

Sementara dril bor masih ada di areal pelabuhan sekitar pukul 6 sore. Meski begitu, dirinya yang merupakan Nakhoda kapal tersebut tak mengetahui kalau barang-barang tersebut adalah milik perusahaan yang ditentang masyarakat Sangihe.

“Pas kita(saya) mau ngurus dokumen kapal, pihak Kesyabandaran Amurang, menanyakan kepada pengurus dokumen, kamu muat alat perusahaan gak? Saya di telepon sama anak buah, Capten, ini bagaimana mau muat alat ini?. Alat apa? Saya tanya alat bagaimana, saya keluar lihat, oh saya katakan jangan, barang ini barang yang masih dipermasalahkan,” tutur Capten Yuratman, seperti dilansir Barta1.com.

Setelah itu Capten Yuratman mencari pengurus muatan perusahaan tersebut dia ingin menjelaskan bahwa KMP Porodisa hanya mengangkut barang-barang yang digunakan untuk pelayanan publik masyarakat bukan barang pribadi.  “Saya cari pengurusnya ketemu saya sampaikan, pak saya tak panjang lebar, untuk masalah barang ini kami dari pihak operator kapal hanya sifatnya mengangkut pelayanan publik bukan pelayanan individual,” tutur Yuratman.

Bersamaan dengan Capten Yuratman, salah seorang yang mengaku sebagai pegawai PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Bitung , Agus Mustofa menyarankan agar perwakilan masyarakat Sangihe yang menolak perusahaan tersebut untuk menyurati PT. ASDP Cabang Bitung untuk menjelaskan persoalan masyarakat Sangihe dengan PT. Tambang Mas Sangihe.

“Kami mengusulkan kepada perwakilan masyarakat memberikan surat keberatan kepada ASDP untuk tidak mengangkut alat perusahaan tersebut. Jadi kami di sana bisa menolak atas dasar surat tersebut,” ujar  Mustofa.

Aksi pencegatan ke tiga kalinya itu pun berjalan dengan lancar, setelah memeriksa semua angkutan KMP Porodisa dan tak ditemukannya barang milik PT. TMS, massa kembali bergerak membubarkan diri dengan tertib untuk melakukan evaluasi langkah kedepannya.

Koordinator Save Sangihe Island (SSI) Alfred Pontolondo saat melakukan evaluasi aksi tersebut mengapresiasi antusiasme masyarakat yang setiap hari makin bertambah banyak melakukan pencegatan terhadap barang-barang milik PT. TMS.

Menurutnya aksi itu merupakan bukti bahwa masyarakat Sangihe mulai bersatu tekad menolak beroperasinya perusahaan tersebut di Pulau Sangihe. “Salut untuk kita semua, solidaritas yang ditunjukan Rabu malam tidak boleh surut. Harus tetap dipertahankan, karena perjuangan kita belum selesai, TMS masih bercokol di Sangihe. Perjuangan kita baru berakhir kalau PT. TMS sudah benar-benar diusir dari Sangihe,” tegas Pontolondo.

Aktifis 98 itu menyampaikan terima kasih kepada semua kawan yang telah bersama-sama sejak sore sampai malam di Pelabuhan Pananaru baik dari Bowone, Salurang, Lesabe, Kaluwatu, Laine, Sowaeng, Lapango, Pananaru, Kalinda, Menggawa, Menggawa 1, Kalama, Dagho, Hesang, Pokol, Nagha 1, Balane, Kauhis, Nahepese, Tahuna, para pendeta GMIST wilayah Tamako yang dipimpin langsung Ketua Resort Tamako.

“Juga saudara-saudara dari berbagai kampung yang tidak bisa saya sebut satu per satu, ” tutur Alfred Pontolondo.(edl)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU