3 May 2026
HomeBeritaKesraPentingnya Kampanye Menghargai Perbedaan Bukan Keseragaman

Pentingnya Kampanye Menghargai Perbedaan Bukan Keseragaman

SHNet, Pontianak- Ujaran kebencian terus terjadi di ruang digital seiring bertambahnya pengguna internet dari hari ke hari.

Hal ini semakin didukung oleh fakta yang menyebutkan bahwa netizen Indonesia menduduki peringkat satu sebagai netizen tidak sopan se-Asia Pasifik. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran diri yang tinggi untuk selalu bersikap sopan santun di ruang digital selayaknya di dunia nyata.

Hal tersebut di atas menjadi perbincangan dalam webinar bertema “Safe and Secure Online”, Senin (15/8), di Pontianak, Kalimantan Barat, yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi.

Hadir sebagai narasumber adalah Social Media Officer Ni Putu Ruslina Darmayanthi; Guru Besar Manajemen dan Kebijakan Publik Fisipol Universitas Gadjah Mada Agus Pramusinto; dan Trisno Sakti
Herwanto selaku Ketua Prodi Ilmu Administrasi Publik FISIP UNPAR.

Ni Putu Ruslina Darmayanthi memberikan sebuah fakta bahwa terdapat 3.640 kasus ujaran kebencian di media digitalsepanjang tahun 2018 hingga 2021.

Menurut Ruslina, ujaran kebencian awalnya dapat terjadi karena adanya penghasut yang membuat konten ujaran kebencian dengan sengaja mengubah fakta-fakta atau disinformasi agar orang-orang ikut terpancing.

“Sopan santun adalah landasan utama masyarakat yang beradab. Jadi, kita harus perlakukan orang dengan baik dan hormat, baik secara online maupun offline,” pesan Ruslina.

Terkait etika digital, Agus Pramusinto menjelaskan karakteristik generasi alfa, salah satunya adalah mencari inspirasi pada platform Pinterest, Instagram, dan Youtube sebelum berbelanja.

Kemudian, ia menyebutkan adanya teknologi yang semakin canggih membuat mereka dapat membaca dan memetakan kebiasaan kita hanya dengan membaca jejak yang kita tinggalkan.

Hal ini dimulai dari hal sederhana, misalnya penggunaan peta digital seperti Waze dan Google Maps, dimana pola kita sehari-hari menjadi lebih mudah untuk dipelajari oleh pihak lain.

Agus mengatakan “Jejak digital adalah gambaran perilaku kita. Komen yang kita kirim contohnya, apakah termasuk sopan santun dan positif atau suka menghujat, melecehkan, menghina, atau menyakiti. Kemudian juga dari unggahan foto kita, apakah kita pamer diri, seperti belanja, jajan kuliner, dan wisata atau pesan kebaikan untuk orang banyak, seperti motivasi untuk berprestasi.”

Pada sesi terakhir, Trisno Sakti Herwanto menuturkan definisi budaya, yakni cara hidup untuk menjawab tantangan kehidupan. Trisno memberi contoh yang salah satunya yaitu alasan mengapa rumah tradisional di Indonesia kebanyakan berbentuk rumah panggung. Rupanya, hal tersebut dikarenakan orang zaman dahulu tidur beralaskan lantai dan masih banyak hewan buas di sekitarnya sehingga diperlukan jarak antara lantai dengan tanah agar aman.

Selanjutnya, Trisno mengungkapkan perbedaan jejak digital zaman dahulu dengan zaman sekarang, dimana apabila zaman dahulu berupa prasasti sedangkan zaman sekarang berupa jejak pencarian serta unggahan di internet.

“Banyak sekali kampanye tentang keberagaman. Contohnya iklan salah satu deterjen, dimana baju seragam anaknya tidak seputih teman-temannya lalu ibunya menggunakan deterjen tersebut sehingga baju seragamnya putihnya sama. Dengan demikian, kita itu mengampanyekan untuk menyeragamkan, bukan menghargai perbedaan, menghargai keberagaman,” tuturnya.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yang disesuaikan pada kebutuhan masyarakat. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU