SHNet, Pontianak — Penggunaan internet dan media sosial semakin meningkat. Kemudahan akses dan kebebasan yang ditawarkan menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua yang anaknya sudah mengenal internet dan media sosial.
Ancaman kejahatan siber menjadi perhatian utama di samping kecanduan gawai. Orang tua perlu memberikan contoh dan mengajak anak untuk berinternet sehat.
Hal itu menjadi pembahasan dalam webinar bertema “Melindungi Anak dari Kejahatan Dunia Maya” yang dipandu Nadya Khoirul Jannah di Pontianak, Kalimantan Barat, kemarin, yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi.
Hadir sebagai narasumber adalah Co-founder dan CEO Fammi, Muhammad Nur Awaludin; dosen sekaligus penulis, Dian Ikha Pramayanti; dan Rektor Institut Nitro, Mohammad Hatta Alwi Hamu.
Dalam webinar tersebut, Muhammad Nur Awaludin mengatakan, penggunaan gawai meningkat, tidak hanya oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Keamanan digital menjadi hal penting untuk dipelajari karena pemahaman masyarakat tentang hal ini pun masih kategori sedang.
Di ranah digital, banyak sekali ancaman yang mengintai anak-anak seperti perundungan siber, pornografi, adegan kekerasan, dan online stalking. Paparan ancaman tersebut bisa dari film, iklan, konten YouTube, aplikasi percakapan, media sosial, games, dan lain-lain. Kecanduan gawai juga menjadi ancaman tersendiri bagi anak pengguna gawai.
“Kenapa bisa terjadi? Kondisi yang mendorong anak untuk terus menggunakan gawai antara lain perasaan boring, lonely, angry/afraid, stress, dan tired. Ketika kecanduan games, bahaya yang muncul berupa perubahan perilaku anak seperti lupa waktu, gampang marah, lebih senang menyendiri, melupakan ibadah, berbohong, dan lain-lain,” katanya.
Dian Ikha Pramayanti menjelaskan, data terbaru menunjukkan sebanyak 29 persen anak di Indonesia menggunakan handphone. Sebanyak 12 persen di antaranya mengakses internet. Jumlah yang cukup besar untuk populasi Indonesia.
Penggunaan gawai memang sudah susah dicegah. Adapun yang bisa dilakukan orang tua adalah menanamkan kesadaran berinternet sehat sejak dini.
Mengakses internet secara sehat dapat menjauhkan anak dari ancaman kejahatan siber (cybercrime). Cybercrime memberikan dampak pada anak antara lain kerusakan otak bagian depan, emosi tak terkendali, banjir dopamin, volume otak menyusut 4,4 persen, dan perasaan BLAST (boring, lonely, angry/afraid, stress, dan tired).
“Tips menjaga anak di internet yaitu batasi waktu penggunaan, manfaatkan fitur perlindungan, beri pemahaman anak tentang internet sehat, jaga data pribadi, dampingi anak, berikan waktu ruang berkreasi, detoks internet, dan berkomunikasi dengan terbuka,” ucap Ikha.
Sementara itu, Mohammad Hatta Alwi Hamu menambahkan, sejak zaman Rasulullah, pendampingan orang tua terhadap anak wajib dilakukan. Sehingga anak bisa berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan secara aman. Apalagi saat ini, dimana sudah lebih dari 202 juta pengguna internet di Indonesia yang aktif mengakses internet dan sebagian di antaranya media sosial.
Catatan APJII, berdasarkan umur, pengguna internet didominasi kelompok usia 13-18 tahun (99,16 persen), diikuti usia 19-34 tahun (98,64 persen).
Ada enam tantangan yang dihadapi orang tua di era digital: kemudahan mengakses internet, kebebasan terkoneksi tanpa aturan, anak lebih pintar dari orang tuanya, dunia user-generated content, anak ingin bebas, dan belum paham risiko.
“Apa yang dilakukan orang tua agar anak aman di ruang digital? Tingkatkan literasi digital agar orang tua dan anak dapat mengakses, mencari, menyaring, dan memanfaatkan setiap data dan informasi yang diterima dan didistribusikan dari dan ke berbagai platform digital yang dimiliki secara aman,” pungkasnya.
Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0. (Stevani Elisabeth)

