3 May 2026
HomeBeritaEkonomiMengenalkan Produk Lokal di “Marketplace” Kian Menjanjikan

Mengenalkan Produk Lokal di “Marketplace” Kian Menjanjikan

SHNet, Pontianak — Tingginya transaksi digital di Indonesia yang didukung kemudahan bertransaksi dan ragam penawaran diskon pembelian membuat orang melirik

marketplace.

Ini menjadi peluang untuk pemasaran produk lokal agar bisa menjangkau pelanggan yang lebih banyak dan lebih luas. Namun, ragam kemudahan tersebut sebaiknya tidak mengabaikan faktor keamanan digital.

Hal tersebut menjadi perbincangan dalam webinar yang bertema “Produk Lokal Bisa Go
Global”, di Pontianak, Kalimantan Barat, yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi.

Webinar ini menghadirkan narasumber, yaitu Chief Marketing Officer PT Cipta Manusia
Indonesia Annisa Choiriya Muftada; dosen UIN Antasari Banjarmasin Muhammad Ridha; dan
dosen Ilmu Komunikasi Universitas Bina Darma Rahma Santhi Zinaida.
Dalam paparannya, Annisa menjelaskan, menurut data Bank Indonesia, jumlah konsumen baru
pengguna transaksi digital di Indonesia melejit hingga mencapai 21 juta pengguna pada 2022.

Pandemi Covid-19 sejak 2020 lalu membuat orang beralih banyak menggunakan transaksi
digital lantaran pembatasan sosial yang diberlakukan pemerintah untuk mencegah penyebaran
Covid-19. Tak hanya itu, pengguna internet Indonesia juga tumbuh pesat menjadi 204,7 juta
orang atau setara 73,7 % populasi Indonesia.

“Marketplace termasuk sebuah platform transaksi jual beli produk barang dan jasa secara
digital yang banyak dikunjungi, terutama sejak pandemi. Sebut saja, seperti Tokopedia,
Bukalapak, Blibli, Lazada, dan lain sebagainya,” kata Annisa.

Marketplace, lanjutnya, juga menjadi sarana bagi seseorang untuk berjualan produk, baik itu
barang dan jasa, yang lebih efektif menjangkau pelanggan lantaran tingginya pengunjung dan
pengguna internet di Indonesia.

Menurut dia, hal yang membuat pelanggan percaya
bertransaksi secara online adalah ada deskripsi yang jelas mengenai produk yang ditawarkan,
serta konten kreatif di marketplace membangun menjawab berbagai pertanyaan pelanggan.

Muhammad Ridha mengingatkan, kemudahan bertransaksi secara digital tersebut berdampak
pada pola konsumsi masyarakat. Dengan berbagai kepraktisan itu, maka akan menciptakan
budaya baru yang lebih konsumtif. Apalagi, selain menawarkan kemudahan bertransaksi,
berbagai marketplace juga menawarkan beragam diskon dan fasilitas bebas ongkos kirim.

“Agar budaya konsumtif bisa menjadi produktif, tentukan target masa depan yang jelas dan
menabunglah. Selain itu, tentukan skala prioritas pengeluaran dan perjelas antara kebutuhan
dengan keinginan,” ucap Ridha.
Sementara itu, menurut Rahma Santhi Zinaida, dalam bertransaksi di marketplace sebaiknya
tidak mengabaikan keamanan digital pada perangkat yang digunakan. Sebab, kejahatan di
ruang digital yang mengincar data-data pribadi dan keuangan tetap marak. Kerugian kejahatan
digital ini bisa mencapai miliaran rupiah.

“Oleh karena itu, disarankan agar tidak mudah mengumbar identitas pribadi di media sosial,
seperti nomor KTP atau SIM, alamat rumah, nomor telepon, dan sebagainya. Data-data
tersebut bisa menjadi celah bagi seseorang untuk bertindak jahat,” ucap Rahma.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan
Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas,
tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam
memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU