SHNet, Banjarmasin — Tingginya minat orang bepergian setelah tertahan akibat pembatasan sosial selama pandemi Covid-19 menjadi peluang baru di sektor pariwisata.
Dengan kecanggihan teknologi, banyak peluang baru hadir yang bisa dimanfaatkan untuk menggairahkan industri pariwisata dalam negeri. Apalagi, Indonesia dikaruniai beragam kekayaan alam dan budaya yang menjadi destinasi unik pariwisata.
Demikian kesimpulan dalam webinar yang bertema “Jadi Penjelajah Wisata, Bangga Budaya Indonesia”, Senin (7/11) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi. Narasumber dalam webinar ini adalah penulis buku, blogger, sekaligus arsitek Dian Nafiatul Awaliyah; dosen Ilmu Komunikasi Universitas Nurdin Hamzah Yusnaini; serta Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya Meithiana Indrasari.
Dalam paparannya, Dian Nafi menguraikan peran teknologi yang begitu dominan dalam kehidupan sehari-hari. Di era industri 4.0 sekarang ini, teknologi menjadi kunci memenangkan persaingan lewat kecanggihan kecerdasan buatan, teknologi komputasi, mahadata (big data), dan internet of thing. Serbuan teknologi melahirkan peluang baru, termasuk di bidang pekerjaan.
“Penetrasi teknologi juga merambah sektor pariwisata. Saat ini, terutama sejak pandemi Covid-19, dikenal apa yang disebut virtual tour. Namun, agen perjalanan juga masih dibutuhkan lantaran tingginya keinginan orang bepergian setelah sempat terkena pembatasan sosial selama pandemi,” ujar Dian.
Lebih jauh, imbuh Dina, terdapat begitu banyak peluang pekerjaan di dalam industri pariwisata. Beberapa peluang tersebut adalah menjadi pemandu wisata, penjual souvenir, persewaan kendaraan, fotografer profesional, perencana perjalanan, kuliner wisata (makanan khas oleh-oleh), atau persewaan penginapan. Namun, menurut dia, tetap dibutuhkan keterampilan khusus di bidang digital untuk bisa makin sukses dalam bidang pekerjaan yang ditekuni.
“Kembangkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, ataupun soft skill lainnya untuk mendukung keberhasilan pekerjaan dan usaha di dunia digital,” katanya.
Meithiana Indrasari menambahkan, peluang baru yang bisa digarap dengan serius di sektor pariwisata adalah dengan membuat konten khusus tentang kekayaan alam Nusantara. Apalagi, Indonesia pernah dinyatakan sebagai negara terindah di dunia berdasar situ money.co.uk di tahun 2022. Disebutkan bahwa Indonesia memiliki 45 gunung berapi, 51.000 kilometer persegi terumbu karang, 733 kawasan lindung, lebih dari 54.000 kilometer garis pantai, dan 128 gletser.
“Belum lagi kekayaan budaya seperti terdapat lebih dari 600 bahasa daerah, 1.300-an suku, dan lebih dari 17.000 pulau besar dan kecil yang tersebar dari Sabang ke Merauke. Semua itu bisa menjadi kekayaan konten yang sangat luar biasa,” ucap Meithiana.
Terkait pembuatan konten digital, Yusnaini mengingatkan bahwa tetap dibutuhkan penegakan etika di ruang digital. Menurut dia, belum semua kreator konten paham akan hak cipta dan bagaimana menghargai karya orang lain di ranah digital. Masih ada sejumlah masalah yang dilakukan kreator konten, seperti pembajakan atau plagiarisme, perundungan, maupun sikap acuh tak acuh atas hak cipta milik orang lain.
“Sebelum mengunggah konten di ruang digital, pastikan bahwa konten tersebut tidak bernuansa SARA, tidak menjiplak karya orang lain, dan wajib mematuhi peraturan yang berlaku di ruang digital,” ujarnya.
Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0. (Stevani Elisabeth)

