19 April 2026
HomeNusantaraPresiden Jokowi: Isu Utama Kebebasan Dunia Pers Mulai Bergeser

Presiden Jokowi: Isu Utama Kebebasan Dunia Pers Mulai Bergeser

Hari Pers Nasional 2023

SHNet, MEDAN– Perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2023, di Medan, Sumatera Utara (Sumut) semakin semarak dengan kehadiran Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi).

Presiden Jokowi hadir saat acara puncak pada Kamis (9/2/2023) di Gedung Serba Guna Pemprov Sumut. Setelah sejumlah tokoh pers mulai dari Ketua Umum PWI Pusat, Atal Sembiring Depari dan Ketua Dewan Pers, Ninik Rahayu memberikan laporan, Presiden Jokowi lantas tampil memberikan sambutannya.

Presiden Jokowi mengemukakan sejumlah hal soal bagaimana media harus mengantisipasi kencangnya media sosial hingga ia secara terang-terangan mengatakan kalau saat ini dunia pers sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja. Jokowi juga menekankan kalau isu utama dunia pers yang sebelumnya lebih kepada kebebasan, kini sudah mulai bergeser.

“Saya ingin katakan kalau dunia pers saat ini tidak sedang baik-baik saja. Saya ulang, dunia pers tidak sedang baik-baik saja,” tutur Jokowi dalam sambutannya pada Peringatan HPN 2023 di Gedung Serbaguna Pemprov Sumut yang berada di Kabupaten Deli Serdang.

“Dulu isu utama dunia pers adalah kebebasan pers, selalu itu yang kita suarakan, tapi sekarang apakah isu utamanya tetap sama? Menurut saya sudah bergeser karena kurang bebas apalagi kita sekarang ini?” papar Presiden Jokowi lagi.

Presiden Jokowi bersama sejumlah tokoh pers penerima penghargaan HPN 2023. (SHNet/Nonnie Rering)

Menurutnya, pers saat ini sudah cukup bebas sebab siapapun bisa membuat berita dengan sebebas-bebasnya. Presiden Jokowi menyatakan kalau masalah utama pers saat ini adalah pemberitaan yang bertanggung jawab.

Pasalnya, masyarakat dibanjiri berita dari media sosial dan media digital lainnya. Termasuk, dari platform asing yang membanjiri berita dengan hanya mementingkan sisi komersial saja.

“Masyarakat kebanjiran berita dari media sosial dan media digital lainnya, termasuk platform-platform asing dan umumnya tidak beredaksi atau dikendalikan oleh AI (artificial intelligence). Algoritma raksasa digital cenderung mementingkan sisi komersial saja dan hanya akan mendorong konten-konten recehan yang sensasional,” jelasnya.

Jokowi melihat banyak berita beredar yang mengorbankan kualitas isi dan jurnalisme otentik. Dia menekankan pemberitaan seperti ini tidak boleh mendominasi kehidupan masyarakat Indonesia.

“Ini yang kita akan semakin Kehilangan. Hal semacam ini tidak boleh mendominasi kehidupan masyarakat kita. Media konvensional yang beredaksi semakin terdesak dalam peta pemberitaan,” kata Presiden Jokowi.  (Non)

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU