7 May 2026
HomeBeritaPariwisataIGC Bertekad Membumbui Dunia Lewat Makanan Indonesia

IGC Bertekad Membumbui Dunia Lewat Makanan Indonesia

SHNet, Jakarta– Berbicara soal makanan, tidak hanya bicara soal mengenyangkan perut saja, melainkan ada banyak unsur yang dapat di telusuri seperti asal-usul dari lingkungan tempat bahan bakunya dihasilkan dan juga budaya maupun filosofi dibalik makanan tersebut.

Perjalanan makanan dari hulu ke hilir hingga terhidang di meja makan, memiliki cerita yang panjang. Hal inilah yang membuat Ria Musiawan tertarik pada gastronomi.

Menurutnya gastronomi merupakan seni makan yang baik. “Makanan tidak hanya kenyangkan perut, tetapi dari hulu sampai hilir ada cerita yang panjang. Perjalanan makanan hingga terhidang di meja makan, jadi hal yang menarik buat saya,” tutur ibu dari tiga putri ini.

Menurutnya, Gastronomi Indonesia merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa yang merekam perjalanan sejarah bangsa Indonesia dan membuat berbagai aspek dari riwayat tersebut tersedia dan menjadi andalan bagi masyarakat Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Rote, setiap daerah mempresentasikan nilai-nilai budaya makannya masing-masing dan menjadi penanda keragaman gastronomi Indonesia.

Nasi tumpeng misalnya, sarat akan filosofi. Bentuknya seperti gunung, konon di jaman dahulu, gunung merupakan tempat tinggal para dewa dan dewi. Bentuknya yang mengerucut ke atas melambangkan doa dan harapan yang kita panjatkan kepada Tuhan.

Lauk pauk dan sayuran yang disajikan di tumpeng itu juga berasal dari tumbuh-tumbuhan, umbi-umbian serta hewan yang hidup di laut maupun darat.

Ingin menggali lebih jauh tentang budaya makanan dan minuman Indonesia, tiga tahun yang lalu, wanita yang suka dengan sejarah ini bersama pendiri lainnya mendirikan Indonesian Gastronomy Community (IGC) yang mempunyai moto: Selera Indonesia Untuk Dunia.

IGC merupakan sebuah komunitas non profit yang memiliki misi melestarikan, memajukan, menguatkan makanan dan minuman Indonesia beserta nilai budaya dan narasi yang terkandung di dalam nya guna menguatkan Indonesia di segala bidang termasuk Gastrodiplomasi dan nation branding.

Saat ini ada sekitar 200 orang yang bergabung dalam IGC. Mereka berasal dari berbagai kalangan seperti pejabat, akademisi, pemilik restoran dan kafe, Ibu rumah tangga serta pecinta makan yang semua nya memiliki satu kesamaan yaitu suka makan.

“Keberadaan IGC yang masih dibilang baru, kalau umpama bayi, masih balita, kami bersyukur selama 3 tahun ini kita sudah melakukan berbagai kegiatan yang sejalan dengan visi dan misi IGC,” ujar Ria yang juga Ketua Umum Indonesian Gastronomy Community (IGC).

Ketua Umum Indonesia Gastronomy Community (IGC) Ria Musiawan. (Ist)

Pada saat pandemi, IGC menggelar beberapa kegiatan virtual seperti webinar kesehatan tentang makanan yang dapat meningkatkan imun tubuh, lalu bersama PHRI mengadakan webinar tentang protokol kesehatan di Restoran dan hotel dan launching virtual museum gastronomi Indonesia (MGI), juga Gastronosia dari Borobudur untuk Nusantara yang di launching di Candi Prambanan di lanjut di Candi Borobudur dan terakhir dalam bentuk Pop Up Museum di Museum Nasional Jakarta, mengadakan lomba vlog masakan Indonesia dan membuat beberapa buku.

Promosi dan gastro diplomasi

IGC ditengah pandemi berhasil membuat buku yang berjudul “Handrawina Adiboga Nusantara”.

Buku ini, lanjut Ria, yang berisi informasi tentang berbagai masakan khas Indonesia untuk jamuan makan dan minum di seluruh perwakilan RI di luar negeri.

“Buku ini bisa menjadi salah satu rujukan dan pedoman yang inspiratif dan menyenangkan untuk mempromosikan kekayaan Gastronomi Indonesia. Buku tersebut sudah kami serahkan ke Kementerian Luar Negeri pada akhir tahun 2022 yang lalu”, ungkap Ria.

Buku itu selain mempromosikan makanan Indonesia juga upaya mendukung gastrodiplomasi Indonesia.

IGC yang dikomandani Ria juga berupaya mendukung program pemerintah dalam mempromosikan makanan Indonesia yaitu “Indonesia spice up the world”.

Deklarasi Indonesia Gastronomy Community (Ist)

IGC bersama Kemenko Maritim dan Investasi (Kemenkomarves) dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bertekad membumbui dunia lewat makanan Indonesia.

Rendang, sate, soto, nasi goreng dan gado-gado dipromosikan lewat program “Indonesia spice up the world”.

Targetnya, tahun 2024 ada 4000 restoran Indonesia di luar negeri menjual makanan Indonesia, bahkan melakukan ekspor makanan Indonesia. Sesuai dengan motto IGC “Selera Indonesia untuk Dunia”.

Perjamuan Sima

Selain membuat buku, IGC melakukan rekontruksi makanan abad ke-8 yakni makanan yang ada di relief Candi Borobudur.

Selama ini, orang tahu Candi Borobudur sebagai bangunan candi dan destinasi wisata.

Padahal ada relief di candi tersebut tentang perjamuan Sima.

Perjamuan Sima tertulis dalam prasasti. Raja mengadakan perjamuan Sima untuk orang-orang yang berjasa. Makanan yang disajikan dalam perjamuan tersebut antara lain daging kerbau yang di cincang dengan rasa gurih, daging rusa bakar yang lembut dan ikan yang ada di perairan sekitar Borobudur, juga Kwelan Haryyas yang berbahan dasar batang pohon pisang dan sebagai penutup adalah dodol duren berserta minumannya kinca yang merupakan fermentasi sari asam gula dan legen.

Ria menceritakan, sejak dulu mereka sudah mengenal minuman keras terbuat dari nira dan ada aturan tidak boleh minum nira lebih dari 3 gelas. Mereka juga sudah paham tentang makanan yang memiliki kandungan baik untuk kesehatan tubuh.

Ria mengakui, sekarang ini banyak makanan-makanan dari luar negeri seperti Jepang dan Korea yang masuk ke Indonesia. Makanan- makanan tersebut memikat hati anak-anak muda Indonesia.

Ini merupakan tantangan sekaligus pemicu semangat untuk terus mempromosikan dan melestarikan makanan Indonesia kepada generasi muda Indonesia.

Salah satu kegiatan yang digelar IGC setiap tahun adalah Indonesian Cooking Festival.

“Kegiatan ini adalah wadah bagi anak-anak muda untuk berkreasi memasak makanan Indonesia. Tak hanya berkreasi, mereka juga harus bercerita tentang budaya dan asal usul makanan tersebut,” ujarnya.

Kegiatan ini bakal diselenggarakan pada Oktober 2023. Dia berharap, anak-anak muda Indonesia akan lebih mencintai dan suka makanan Indonesia. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU