Malang- Sebagai Negara Demokrasi Pemilu merupakan suatu keniscayaan. Masyarakat juga kembali dihadapkan pada kenyataan munculnya kembali narasi perpecahan dan tantangan terhadap kebhinekaan. Kenyataan tersebut menyebabkan terjadinya dinamika demokrasi yang tidak baik dalam masyarakat, karena pemilu bukan lagi pertarungan ide namun pertarungan identitas, kelompok mana yang menang dan kelompok mana yang kalah.
Demikian Staff Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Dr. Antonius Benny Susetyo dalam diskusi publik “Merawat Keberagaman” di Pusat Pengembangan Karir dan Alumni Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, Sabtu (19/8/2023).
Menurut Benny, pemilu adalah bukti bahwa Demokrasi Pancasila menjunjung tinggi hak tiap warga negara untuk berpartisipasi dalam pemerintahan. Setiap warga negara dipersilakan menyampaikan aspirasi dengan memilih siapa orang yang akan memimpin Bangsa Indonesia.
“Karena itu hendaknya kita tidak terjebak dalam romantisme masa lalu, hoaks maupun narasi negatif yang berujung perpecahan, dan mulai bisa memperhatikan para calon pemimpin dengan melihat rekam jejak,kestabilan psikologis dan kemampuan mereka dalam berdiri bersama rakyat dan pemilih, kita harus bisa melihat pemimpin mana yang memiliki keutamaan yaitu mereka yang menghormati keberagaman, hak asasi manusia dan peduli pada mereka yang terpinggirkan,” tutur Benny.
Acara yang dihadiri 50 Orang itu Benny menyatakan, pemilih harus meneliti dengan baik dan objektif mengenai siapa yang kita pilih terkait rekam jejak dan program yang ditawarkan, bukan lagi terjebak pada romantisme masa lalu atau lebih buruk Politik identitas.
“Suka atau tidak, kita harus menyadari dalam era digital ini sifat buruk Bangsa Indonesia benar-benar tergali. Kita tak sadar menjadi pribadi yang melodramatis, mudah terjebak pada romantisme dan masa keemasan masa lalu serta menjadikan orang bersumbu pendek. Tanpa sadar menjadi komunitas yang membagikan hal dan informasi tanpa menyaringnya terlebih dahulu,” jelas Benny.
Doktor Komunikasi Politik itu menyatakan, para pemilih potensial adalah para milenial dan generasi Z yang mencakup 60 persen dari jumlah seluruh pemilih di Indonesia. Mereka dan segala keunikannya merupakan potensi besar dalam Pemilu. Mereka dengan talenta berteknologi dan bermedia sosial mampu membuat konten konten segar yang suka atau tidak sangat efektif dalam penyampaian pesan dan informasi khususnya terkait pemilu dan pesta demokrasi.
Untuk itu, kata Benny, generasi ini harus dirangkul dan membuat mereka mengerti bahwa martabat tidak bisa direduksi dengan uang dan identitas dan menjadi bermartabat berarti mereka benar-benar bisa memilih atas dasar pikiran sehat ,dan terhormat mereka memilih berdasarkan kenyataan bahwa demokrasi tidak memberi jaminan kesejahteraan namun memberi jaminan mengenai kemanusiaan, kehormatan dan kesempatan.
Benny berharap, banyak yang mau menjadi agen perubahan dalam upaya menggaungkan Pemilu cerdas yang dapat memberikan contoh dan edukasi politik kepada masyarakat di sekitarnya. Hal itu, katanya, dapat dimulai dari keluarga dan komunitas untuk memberikan informasi bagaimana cara memilih Pemimpin misalnya dengan metode analisa kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) pada setiap calon calon pemimpin yang akan dipilih hingga benar-benar didapatkan pemimpin yang efektif dan mampu bekerja sesuai ekspektasi masyarakat.
Staff Khusus dari Badan Yang Dikepalai Profesor Yudian Wahyudi ini menjelaskan, demokrasi adalah suatu proses menjadi, sehingga proses demokrasi adalah proses berkelanjutan yang mengkoreksi hal hal yang salah dalam proses demokrasi tersebut.
Untuk itu, jelasnya, diperlukan kesadaran etis dari seluruh masyarakat untuk menjaga keutuhan bangsa dan menjadikan Pancasila sebagai dasar berpikir, bertindak dan berelasi untuk menjadi bangsa yang besar.
Dia menegaskan, saat ini waktu yang tepat agar seluruh Warga Negara Indonesia menjaga persatuan dalam keberagaman dalam menghadapi pesta demokrasi dengan senantiasa menggaungkan bagaimana pemilu cerdas kepada masyarakat sekitar. Sebab, berkualitas atau tidaknya suatu Pemilihan Umum tergantung kepada masyarakatnya, jika masyarakat berkualitas maka hasil Pemilu akan berkualitas.
“Kita tidak boleh menjadi reaktif dan pesimis, pemilu adalah panggilan kita semua untuk melaksanakan tugas mulia mencapai cita cita kemerdekaan, walau upaya tersebut tidak dapat diraih dengan singkat namun kita harus jaga agar tetap berlangsung dengan damai dan berkualitas” tutur Benny dalam Acara yang dihadiri oleh Dosen,Mahasiswa dan Guru Besar di Kota Malang tersebut. (sp)

