SHNet, Jakarta-Belakangan ini kita sering mendengar atau melihat dari media sosial tentang penerapan metode sleep training yang berhasil diterapkan oleh salah satu artis di Indonesia.
Seperti yang kita ketahui, bayi akan menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk tidur. Bayi akan tidur sekitar 15-17 jam sehari, dimana 8 jam adalah waktu untuk tidur siang, dan 9 jam untuk tidur malam.
Kualitas tidur bayi ternyata dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya lingkungan. Apabila faktor lingkungan tidak mendukung, maka tidur anak menjadi tidak berkualitas. Anak akan terbangun dari tidurnya, sering menangis, dan kesulitan untuk kembali tidur.
Menurut Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A (K) dan dr. Ifana Aprilliyani mengatakan, dampak dari kualitas tidur yang buruk akan merugikan Si Kecil, baik dari segi fisik maupun kejiwaan. Si Kecil akan menjadi mudah lelah, memiliki daya tahan tubuh yang lemah, kecemasan, ketidakstabilan emosi, bahkan penurunan konsentrasi.
“Salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur Si Kecil adalah penerapan metode sleep training sejak dini. Sleep training akan membantu Si Kecil untuk tidur secara mandiri sepanjang malam dan membuat Si Kecil mampu untuk menenangkan diri ketika terbangun dari tidurnya,” ujarnya.
Menurutnya, Sleep training sendiri aman bagi bayi dan manfaatnya telah terbukti melalui berbagai penelitian terutama untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak melalui tidur yang berkualitas.
“Penelitian menunjukkan bahwa penerapan sleep training selama 10 hari pada bayi berusia 3-4 bulan di desa Mulyoagung, Jawa Timur dapat meningkatkan kualitas tidur anak menjadi baik dari yang sebelumnya cukup, dan menjadi cukup dari yang kualitas tidur anak kurang sebelumnya.” tambahnya.
Durasi tidur yang pendek dikaitkan dengan penambahan berat badan dan obesitas pada anak. Bayi yang tidur di bawah 12 jam sehari akan memiliki indeks masa tubuh yang lebih tinggi dan panjang tubuh yang lebih pendek.
Selain itu, anak-anak dengan durasi tidur di malam hari yang pendek (<10 jam) juga dikaitkan dengan asupan energi total yang lebih tinggi yaitu sekitar 50 kkal/hari dibandingkan anak-anak yang tidur malam selama 11-12 jam.
.Sleep training selain untuk perkembangan anak juga akan meningkatkan kualitas tidur anak sehingga fase-fase tidur berjalan dengan baik dan durasi tidur anak mencukupi kebutuhan mereka.
Berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan yang positif antara tidur pada bayi dengan perkembangan fungsi otak dalam hal ingatan, kemampuan berbahasa, pembelajaran, dan perkembangan sosio-emosional. (sbr)

