SHNet, Jakarta – Sabtu, 20 Juli 2024 merupakan Road to Kids Biennale Indonesia (KBI) yang merupakan rangkaian peluncuran Yayasan Kids Biennale Indonesia.
Kids Biennale Indonesia merupakan pameran yang diselenggarakan dua tahun sekali dengan partisipasinya praktik seni modern serta aktivitas publik intelektual dan budaya dalam menanggapi isu-isu relevan.
Ketua Yayasan Kids Biennale dan Kurator Gie Sanjaya mengatakan, Kids Biennale tahun ini merujuk pada tiga dosa besar di bidang pendidikan yakni kekerasan seksual, perundungan/bullying dan intoleransi.
“Seni adalah jendela bagi anak-anak untuk melihat dunia dengan cara yang baru dan berbeda. Melalui seni mereka belajar menghargai keindahan, memahami emosi, mengembangkan empati dan menjadi agen perubahan. Seni adalah investasi untuk masa depan Indonesia yang lebih kreatif, inklusif dan berbudaya,” kata Gie Sanjaya.
Perencana Ahli Madya pada Asdep Perlindungan Khusus Anak dari Kekerasan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA), FB Didiek Santoso mengapresiasi Kids Biennale.
” Ini kiprah dari para seniman bagaimana menggaet anak untuk partisipasi,” ujarnya.
Menurutnya, survei KPPA dan Kemensos menunjukkan menurunnya kasus kekerasan. Namun, kenyataannya, laporan yang disampaikan unit penanganan teknis daerah, Polres, jumlahnya meningkat.
Tahun 2019 ada sekitar 12.000 kasus kekerasan pada anak yang dilaporkan. Tahun 2023 sekitar 22 ribu kasus kekerasan pada anak. “Bagaimana kalau tidak ada laporan dan unit layanan? Ini ibarat gunung es,” kata Didiek
Menurutnya, kekerasan seksual, perundungan dan intoleransi terjadi karena kurang pengasuhan orang tua yang kurang tepat, disfungsi keluarga (orang tua tidak awasi anaknya dengan baik, keluarga yang broken home, belum matang secara psikologis, ketidakmampuan orang tua mendidik anak), kemiskinan dan globalisasi.
“Kami mengajak orang tua dan masyarakat ikut berperan mendampingi anak dengan baik untuk meminimalisir kekerasan seksual terhadap anak,” kata Didiek.
Wakil Ketua Komnas Anak, Cornelia Agatha mengatakan, Komnas anak punya visi dan misi memberantas kekerasan pada anak.
“Kami fokus pada pencegahan. Kasus yang paling tinggi adalah kekerasan seksual,” ujarnya.
Ia menambahkan, seni dan kasih sayang mempunyai kekuatan yang besar untuk perubahan. Dia berharap, Kids Biennale Indonesia dapat menjadi platform untuk perubahan bersama. (Stevani Elisabeth)

