19 April 2026
HomeBeritaPenelitian FKUI dan Greenpeace Temukan Ada Korelasi Pemakaian Plastik Sekali dengan Gangguan...

Penelitian FKUI dan Greenpeace Temukan Ada Korelasi Pemakaian Plastik Sekali dengan Gangguan Kognitif

SHNet, Jakarta-Merujuk hasil penelitian ilmiah bahaya mikroplastik dari kemasan plastik sekali pakai di beberapa negara terhadap kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) bekerjasama dengan Greenpeace Indonesia melakukan pengujian terhadap masyarakat di Indonesia. Hasil survei sementara menunjukkan adanya korelasi pemakaian kemasan plastik sekali pakai seperti galon dan kontainer plastik terhadap gangguan kognitif atau kesulitan daya pikir dan mengingat sesuatu.

Ketua Penelitian dari FKUI, dr. Pukovisa Prawiroharjo, Sp.N, Subsp.NGD (K), PhD, SH, mengatakan penelitian ini bermula dari fakta masih terbatasnya penelitian mengenai dampak mikroplastik terhadap kesehatan. Dari uji coba yang dilakukan terhadap hewan, terindikasi bahwa mikropkastik ini bisa menyebabkan gangguan kognitif, saluran pencernaan, jantung, dan sistem reproduksi.

“Merujuk hasil penelitian dari negara-negara lain di mana berdasarkan uji yang dilakukan terhadap hewan bahwa mikroplastik ini bisa menyebabkan gangguan terhadap kesehatan, kami pun bersama dengan Greenpeace ingin melihat juga dampaknya terhadap masyarakat di Indonesia yang sangat banyak menggunakan plastik sekali pakai ini,” ujarnya.

Penelitian diawali dengan penyebaran kuesioner yang dilakukan pada September – Desember 2023. Kuesioner disebar kepada 562 responden dan terdiri dari kuesioner kebiasaan para responden menggunakan bahan plastik sekali pakai, pengetahuan mikrosplastik, skrining kognitif AD8 atau Alzheimer’s Dementia 8, skrining sistem reproduksi, skrining saluran cerna, dan skrining penyakit jantung.

Dari analisa secara statistik dengan beberapa domain pertanyaan AD8, ditemukan ada korelasi dengan pertanyaan “sering lupa appointment” dan “sering lupa tanggal dan serta bulan. Di mana, yang memperoleh scoring 0-8 dianggap rendah pemakaian plastik sekali pakainya dan 10-12 tinggi pemakaiannya. “Hasil dari jawaban para responden, yang mendapat scoring 10 sampai 12, mereka mengaku cenderung mengalami lupa appointment dan lupa tanggal serta bulan. Artinya, ada korelasi pemakaian kemasan plastic sekali pakai dengan sering lupa tanggal dan bulan,” tutur dr. Pukovisa.

Setelah itu, tim memanggil 1% atau 30 orang dari kelompok yang banyak menggunakan plastik sekali pakai dan 1% atau 30 orang yang sedikit memakai plastik sekali pakai. “Dari 60 orang yang kami panggil itu, kami kemudian melakukan tes MoCA-INA (fungsi kognitif) untuk diambil urin, feses, dan darahnya untuk dites mikroplastiknya,” tukasnya.

Dia menuturkan tes darah dan urin dari 50 responden dilakukan di laboratorium FMIPA UI untuk mengetahui banyaknya paparan mikroplastik di dalam tubuh mereka. “Saat ini kami masih menunggu hasil analisa mikroplastiknya dari pihak FMIPA, baru kami analisa kembali hasilnya,” pungkasnya.

Sementara, untuk korelasinya dengan penyakit jantung, sistem reproduksi dan saluran cerna, menurutnya, masih dalam tahap analisa oleh departemen yang bersangkutan.

Dia mengatakan selain merujuk penelitian-penelitian dari negara lain, penelitian mikroplastik yang dilakukan ini juga merujuk kepada hasil penelitian mikroplastik terhadap sampel galon sekali pakai yang beredar di kawasan Jabodetabek. Hasil penelitian menunjukkan ditemukannya kandungan mikroplastik dalam sampel galon sekali pakai ukuran 15 liter sebanyak 85 juta partikel per liter atau setara dengan berat 0,2 mg/liter. Sementara kandungan mikroplastik dalam galon sekali pakai ukuran 6 liter sebanyak 95 juta partikel/liter atau setara dengan berat 5 mg/liter.

Analisis karakterisasi terhadap mikroplastik yang terkandung dalam sampel menunjukkan bahwa mayoritas bentuk partikel mikroplastik adalah fragmen, dengan ukuran yang berkisar antara 2,44 hingga 63,65 μm.

Disebutkan, meskipun temuan mikroplastik dalam sampel memang tidak melebihi batas aman yang diberikan oleh WHO, namun bila dikonsumsi dalam jangka panjang bisa berpotensi berisiko tinggi bagi kesehatan manusia. Karenanya, penelitian ini juga mengestimasi paparan harian mikroplastik galon sekali pakai pada tubuh manusia dengan cara memberikan kuesioner terhadap 38 responden di wilayah Jabodetabek yang mengkonsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) galon sekali pakai yang sampelnya diuji. Hasilnya, data konsentrasi mikroplastik per liter AMDK dan data konsumsi masyarakat per hari dapat dihitung. Di mana, paparan harian mikroplastik dari sampel galon sekali pakai ukuran 6 liter sebesar 9,450 mg/hari dan dari sampel galon sekali pakai 15 liter sebesar 0,378 mg/hari.

Karenanya, hasil penelitian ini merekomendasikan agar produsen galon sekali pakai harus bertanggung jawab untuk memantau dampak penggunaan kemasan plastik terhadap kualitas air minum yang dipasarkan kepada masyarakat. Selain itu, produsen galon sekali pakai juga diminta harus menunjukkan komitmen serius terhadap regulasi pengurangan sampah plastik nasional. (cls)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU