Jakarta-Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), sebuah lembaga mandiri yang didirikan sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan, kesehatan dan lingkungan di Indonesia, sangat mengapresiasi adanya keterlibatan akademisi seperti yang dilakukan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mendalami kajian mengenai Susu Kental Manis (SKM). Dalam penelitian sekundernya, UGM menyatakan bahwa SKM itu tidak baik dikonsumsi balita karena kandungan gulanya yang sangat tinggi.
“Saya apresiasi UGM sebagai institusi pendidikan akhirnya menaruh perhatian terhadap persoalan terkait Kental Manis ini,” kata Ketua Harian YAICI, Arif Hidayat, saat menghadiri sosialisasi hasil penelitian tentang susu kental manis yang diselenggarakan UGM itu, Senin (27/12). Lebih lanjut, Arif menjelaskan kajian mengenai konsumsi susu kental manis tersebut digawangi sejumlah guru besar UGM seperti Mohammad Juffrie, MD, PhD, Ratu Ayu Dewi Sartika MSc, PhD, Roy Alexander Sparringa MAppSC, PhD dari BPPT, Lindawati Wibowo SSi, MSc (TP2AK), dan Widjaja Lukito MD, PhD (FKM UI)
Arief mengungkapkan UGM sebenarnya sudah meneliti isu terkait SKM ini pada tahun 2018 lalu, tapi baru dirilis menjelang akhir tahun 2021 ini. Menurut Arief, data yang disampaikan UGM dalam penelitiannya itu merupakan data sekunder. “Dalam penelitiannya itu, UGM merekomendasikan bahwa SKM ini tidak baik dikonsumsi anak balita karena mengandung gula yang terlalu tinggi,” katanya.
Dalam acara itu, semua peserta ditanyai pendapatnya soal SKM ini. Saat YAICI dimintai pendapat, Arief mengatakan hanya menyampaikan data-data primer hasil temuan di lapangan yang dilakukan YAICI sejak tahun 2018-2021 terkait. Pada 2018, YAICI bekerjasama dengan Yayasan Peduli Negeri (YPN) Makassar dan Stikes Ibnu Sina Batam melakukan survei tentang Persepsi Masyarakat tentang SKM. Survei yang dilakukan terhadap 400 ibu di Kota Kendari dan 300 ibu di Kota Batam yang memiliki anak usia 7 tahun, menunjukkan sebanyak 97 persen ibu di Kendari dan 78 persen ibu di Batam memiliki persepsi bahwa susu kental manis adalah susu yang bisa dikonsumsi layaknya minuman susu untuk anak. “Untuk itu, kami merekomendasikan saat itu perlu adanya edukasi pada masyarakat bahwa SKM bukanlah susu,” tutur Arief.
Pada tahun 2019, YAICI bekerjasama dengan Majelis Kesehatan PP Aisyiyah memperkuat edukasi gizi untuk masyarakat dengan melakukan penelitian di wilayah-wilayah dengan prevalensi stunting tinggi di Indonesia, yaitu Aceh (30,8%), Kalimantan Tengah (34%), dan Sulawesi Utara (25,5%). Hasil penelitian menunjukan sebanyak 35,9% responden memberikan minuman SKM/KKM kepada anaknya setiap hari. Dengan kata lain, 3 dari 10 anak responden setiap hari minum SKM/KKM.
Pada tahun 2020, penelitian dilakukan dengan mengambil sampel 630 responden ibu dengan balita usia di bawah lima tahun di DKI Jakarta, yaitu Jakarta Utara, Jakarta Timur dan Jakarta Pusat. Hasilnya menunjukkan sebanyak 59,2 persen kejadian stunting pada balita di wilayah DKI Jakarta, salah satunya disebabkan pada kebiasaannya mengonsumsi SKM. “Berdasarkan penelitian kami saat itu, pemahaman tentang kental manis yang dianggap sebagai susu bernutrisi lengkap banyak dipengaruhi iklan di media massa,” kata Arief.
Pada tahun 2021, YAICI melakukan penelitian konsumsi pada ibu hamil. Hasilnya cukup mengagetkan. Ternyata 71% ibu mengkonsumsi SKM sebagai asupan gizi selama hamil. “Oleh karena itu, kami akan terus berkomitmen untuk memberikan edukasi gizi dan juga advokasi mengenai SKM,” tukasnya. (sbr)

