Di depot-depot air minum isi ulang, baru-baru ini ditemukan ada masyarakat yang mengisi ulang galon sekali pakai dengan tujuan menghemat. Padahal, galon sekali pakai itu didesain hanya untuk sekali pakai dan bukan untuk diisi ulang. Jika digunakan secara berulang, kemasan galon sekali pakai ini justru bisa menyebabkan gangguan kesehatan.
Ketua Komisi Penegakan Regulasi Satgas Sampah Nawacita Indonesia, Asrul Hoesein, mengungkapkan masyarakat menggunakan galon sekali pakai untuk membeli air minum isi ulang. Hal itu membuktikan bahwa galon sekali pakai itu tidak benar-benar bisa didaur ulang 100 persen seperti yang didengung-dengungkan produsennya.
“Ada temuan di lapangan bahwa galon sekali pakai itu digunakan untuk mengisi air isi ulang. Ini faktanya bahwa di lapangan itu tidak ada yang membeli sampah plastik galon-galon sekali pakai itu,” ujar Asrul.
Ketua Yayasan Kelola Sampah Indonesia (Yaksindo), Nur Rahmad Ahirullah, mengatakan produsen sepertinya salah perhitungan saat memproduksi produk galon sekali pakai ini. “Tadinya yang ditargetkan mungkin masyarakat kelas atas, tapi kelirunya mereka pasang harga murah. Mestinya dipasang harga mahal dan jualnya juga jangan di warung-warung biasa,” tukas Nara, sapaan akrab Nur Rahmad.
Kata Nara, produsen galon sekali pakai mengatakan sudah mendaur ulang ribuan ton sampah plastiknya. “Tapi, kenyataannya di masyarakat galon sekali pakai itu banyak digunakan untuk mengisi air isi ulang seperti yang saya temukan di salah satu depot air minum isi ulang di Surabaya,” ucapnya.
Apalagi, menurut Nara, produsen galon sekali pakai ini tidak memiliki konsep penukaran di tempat-tempat penjualan. Itu artinya masyarakat dipaksa untuk membuang galon sekali pakai itu setelah airnya habis digunakan. “Nah, konsep membuang itu juga hanya terjadi pada mereka yang kaya karena tidak mungkin mencari pemulung atau pengepul untuk menjual sisa galonnya. Kemudian yang miskin merasa sayang untuk membuangnya, sehingga digunakan untuk wadah membeli air isi ulang,” tuturnya.
Melihat kejadian ini, Nara menyarankan agar produsen galon sekali pakai ini lebih baik dihentikan produksinya. Jika tidak, itu berarti mereka membiarkan masyarakat mengkonsumsi air yang bisa membahayakan kesehatan karena menggunakan galon sekali pakai itu secara berulang.
Dokter Kevin Adrian dari Alodokter menguraikan beberapa risiko yang dapat membahayakan kesehatan karena sering mengisi ulang wadah air kemasan sekali pakai. Di antaranya, konsumen bisa tercemar bahan kimia. Hal itu disebabkan botol atau galon air sekali pakai itu terbuat dari bahan polyethylene terephthalate (PET) yang mengandung etilen glikol yang berbahaya bagi kesehatan. PET juga menggunakan acetyldehide yang jika dikonsumsi dalam jumlah besar berpotensi memicu timbulnya kanker.
Selain itu, logam berat yang digunakan dalam pembuatan kemasan plastik PET, yaitu antimony, juga dapat tercampur dengan air minum. Beberapa riset menunjukkan bahwa paparan zat antimony ini bisa menyebabkan gangguan paru-paru, jantung, hingga peningkatan risiko terjadinya kanker paru.
Dokter Kevin juga mengatakan mengisi wadah air minum sekali pakai dapat menyebabkan kontaminasi pada airnya. Hal ini dapat menyebabkan konsumen mengalami keracunan dan diare akibat infeksi bakteri.
Hal lainnya adalah terjadinya paparan suhu panas secara langsung pada botol atau galon air minum kemasan sekali pakai yang dapat menyebabkan perpindahan zat kimia yang ditandai dengan perubahan rasa, bau, dan warna air. “Tak hanya itu, zat kimia tersebut juga memberikan dampak buruk bagi kesehatan,” ujar dokter Kevin.

