SHNet, Jakarta-Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara, dr. Yulia Afrina Nasution, M.KM mengatakan susu memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Kandungan protein hewani esensial dalam susu dibutuhkan tubuh untuk pembentukan jaringan serta perkembangan fisik.
“Protein hewani dalam susu sangat penting karena mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak,” ujar Yulia, Jumat (24/4).
Selain protein, susu juga mengandung kalsium yang berperan dalam pembentukan tulang dan gigi, serta vitamin D yang membantu proses penyerapan kalsium dalam tubuh. Kombinasi zat gizi ini menjadikan susu sebagai salah satu asupan penting dalam mendukung pertumbuhan anak secara optimal.
Tidak hanya itu, susu juga mengandung vitamin B kompleks yang berperan dalam metabolisme energi serta membantu menjaga fungsi sistem saraf. Kandungan gizi yang lengkap ini menjadikan susu sebagai bagian dari pola makan yang dapat menunjang kesehatan anak secara menyeluruh.
Meski begitu, Yulia menegaskan konsumsi susu perlu diimbangi dengan asupan makanan lain agar kebutuhan nutrisi anak terpenuhi secara seimbang. Pola makan yang beragam tetap diperlukan untuk memastikan anak mendapatkan seluruh zat gizi yang dibutuhkan tubuh.
“Anak-anak perlu mendapatkan asupan yang lengkap, tidak hanya dari satu jenis makanan saja, tetapi dari kombinasi yang seimbang,” katanya.
Lebih lanjut, selain mendorong anak mengonsumsi susu, Yulia namun perlu menekankan pentingnya orang tua pemahaman orang tua mengenai susu yang dikonsumsi anak. Sebab, masih banyak orang tua yang belum paham bahwa terdapat sejumlah produk yang dianggap sebagai susu padahal bukan seperti kental manis.
dr. Yulia yang juga merupakan Ketua Pengurus Daerah Aisyiyah Kabupaten Langkat aktif melakukan berbagai upaya untuk meluruskan pemahaman tersebut melalui edukasi langsung kepada masyarakat. Seperti edukasi kepada warga Desa Bukit Selamat, Kab. Langkat bersama para pengurus Aisyiyah dari tingkatan pusat hingga daerah di SMP Muhammadiyah Besitang, Jumat (24/4).
Kental manis memiliki kandungan gula yang cukup tinggi, yakni sekitar 40–50 persen dari total komposisinya dan kandungan proteinnya relatif rendah. Kondisi ini membuat kental manis tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi anak apabila dikonsumsi sebagai pengganti susu.
“kita tuh memberantas tuh bahwa susu kental manis adalah susu, itu adalah salah,” ungkapnya.

