21 May 2026
HomeBeritaKesraHari Kebangkitan Nasional 2026, Pakar Ajak Generasi Muda Cintai Pangan Lokal

Hari Kebangkitan Nasional 2026, Pakar Ajak Generasi Muda Cintai Pangan Lokal

SHNet, Depok – Momentum Hari Kebangkitan Nasional 2026 dimanfaatkan Foodbank of Indonesia (FOI) bersama Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (PPKB FIB UI) untuk menggelar Rembug Pangan Indonesia (RPI) bertajuk “Robohnya Lumbung Kami: Merawat Kembali Lumbung Pangan dan Budaya Gotong Royong Indonesia” di Fakultas Ilmu Budaya UI, Depok, Rabu (20/5/2026).

Forum yang menghadirkan para akademisi, praktisi gizi, budayawan, hingga pakar pertanian itu menjadi ruang refleksi atas persoalan pangan Indonesia yang dinilai semakin kompleks, bukan hanya dari sisi produksi dan distribusi, tetapi juga memudarnya budaya gotong royong dan solidaritas pangan masyarakat.

Pendiri FOI, Muhammad Hendro Utomo, menegaskan kebangkitan pangan nasional harus dimulai dari kebangkitan lumbung masyarakat. Menurutnya, lumbung pangan dahulu bukan sekadar tempat menyimpan hasil panen, tetapi simbol kebersamaan dan ketahanan komunitas.

“Kalau kita ingin bangkit, maka lumbungnya harus dibangkitkan lebih dulu,” ujarnya.

Hendro mengatakan, istilah “Robohnya Lumbung” dipilih karena lumbung pangan warga kini hampir tidak lagi ditemukan di desa-desa. Yang hilang bukan hanya bangunannya, tetapi juga budaya gotong royong, teknologi tradisional, hingga benih-benih lokal yang diwariskan turun-temurun.

FOI sendiri menyiapkan rangkaian kampanye hingga Hari Pangan Sedunia Oktober 2026 dengan melibatkan generasi muda untuk kembali mencintai pangan lokal.

Dalam diskusi, Prof. Sigit Supadmo dari Fakultas Teknologi UGM mencontohkan masih bertahannya pangan lokal di Yogyakarta, seperti mie berbahan ketela yang dikonsumsi sebagai menu sarapan masyarakat.

“Kalau dikenalkan dengan baik, pangan lokal sangat cepat diterima, apalagi Yogya adalah destinasi wisata,” katanya.

Ia juga menyebut pangan lokal seperti ketan hitam dan ganyong memiliki manfaat kesehatan, termasuk baik bagi penderita diabetes. Menurutnya, lumbung pangan bukan sekadar benda fisik, melainkan sarat nilai budaya yang perlu dilindungi sebelum punah.

(Dok. SHNet/Stevani)

Sementara itu, Ir. Ronnie Susman Natawidjaja, M.Sc. Ph.D dari Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran menyoroti belum terjadinya transformasi besar pola konsumsi masyarakat dari beras dan gandum impor ke pangan lokal.

Ia menilai makanan modern sebenarnya tidak harus berbahan terigu impor. Berbagai bahan lokal seperti sukun dapat diolah menjadi tepung untuk produk pangan modern yang lebih dekat dengan selera generasi muda.

“Sukun ini kandungan karbohidratnya cukup tinggi dan bisa menggantikan terigu. Ini dapat membantu mengurangi impor,” ujarnya.

Menurut Ronnie, tantangan terbesar saat ini adalah mengubah pola pikir generasi muda agar pangan lokal tidak hanya tampil sebagai makanan tradisional masa lalu, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup modern.

Praktisi Gizi UI, Dr. dr Dian Kusuma Dewi, M.Gizi menambahkan, edukasi mengenai pola makan sehat perlu terus diperkuat. Ia menegaskan sumber karbohidrat tidak hanya nasi, tetapi juga berbagai pangan lokal lain yang bernilai gizi tinggi.

“Kita harus mulai mengenalkan kembali makanan asli daerah kepada generasi muda, termasuk lewat pendidikan,” katanya.

Lumbung pangan dan peradaban manusia

Sementara itu, Prof. Cecep Eka Permana dari Prodi Arkeologi UI menjelaskan lumbung pangan telah menjadi bagian penting peradaban manusia sejak ribuan tahun lalu, ketika manusia mulai mengenal pertanian.

Ia mencontohkan masyarakat Baduy yang hingga kini masih mempertahankan sistem lumbung terpisah dari rumah sebagai bentuk kearifan lokal dalam menjaga pangan dan lingkungan.

“Mereka punya aturan ketat soal pertanian dan alam. Itu yang membuat tanah tetap subur,” jelasnya.

Pandangan senada disampaikan Prof. Darmoko dari Program Studi Sastra Jawa yang menilai kearifan lokal terkait pangan tersebar di berbagai etnis di Indonesia. Namun modernisasi dan perubahan budaya membuat banyak tradisi pangan komunal mulai tergeser.

Karena itu, para peserta Rembug Pangan Indonesia mendorong perlunya inventarisasi budaya pangan lokal, penguatan edukasi, hingga dukungan pemerintah agar pangan lokal kembali menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Indonesia. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU